“Kayaknya Air Ketubannya Pecah Deh,” (2)

Sekitar pukul 10.30 WIB, saya dan mama berangkat menuju rumah mertua. Tadinya, saya mau memesan taksi daring karena mama sudah sedikit khawatir dengan kondisi saya yang hamil besar dan mulai mulas. Berhubung lokasi rumah saya sedikit jauh dari peradaban, saya tidak yakin bisa mendapatkan taksi daring. Akhirnya, kami ngangkot. Toh cuma sekali naik angkot.

Di angkot, saya iseng mengunduh aplikasi penghitung kontraksi. Saat saya hitung, kontraksi yang muncul selama di angkot terjadi lima menit sekali dengan durasi kontraksi selama satu sampai dua menit. Makin yakinlah saya kalau waktunya sudah dekat. Tapi saya masih tenang-tenang saja karena sakit kontraksinya masih bisa saya tahan. Pun saya masih berpedoman dengan artikel yang saya baca.

“Ah, paling ini masih pembukaan satu atau dua,” kata saya dalam hati.

Saat di jalan, mama sempat bertanya apakah akan turun di rumah sakit biasa saya kontrol untuk melihat kondisi kehamilan. Saya bilang, sakitnya belum terlalu sakit. Dengan asumsi masih pembukaan satu, dokter di rumah sakit pasti menyuruh saya pulang.

“Nanti saja, di dekat rumah mertua ada bidan kalau ada apa-apa,” kata saya santai.

Saya masih sempat jalan kaki masuk ke dalam gang rumah mertua sementara mama sudah mengeluh jauh. Hahahaha.

Sekitar pukul 13.00 WIB, rasa mulas itu mulai mengganggu. Ibu mertua dan mama sudah khawatir. Kakak saya melalui pesan whats*pp juga sudah setengah memaksa ke rumah sakit untuk melihat kondisi kehamilan saya. Akhirnya, ditemani ibu mertua dan mama, saya mengecek kehamilan di bidan dekat rumah ibu mertua. Lokasinya hanya sekitar 300 meter, tepat di depan gang rumah ibu mertua.

Oleh suster, saya diminta masuk ke ruang bersalin. Bidan datang tak lama kemudian dan melakukan cek dalam. Bidan Murniati namanya.

“Wah, ini sudah bukaan empat mau lima,” kata ibu bidan dengan santai. Kemungkinan, lanjutnya, bayinya lahir sore atau jelang Maghrib.

HAAAH?

Mendengar itu, saya sedikit panik. Pertama, saya tak berniat melahirkan hari itu, jadi saya tidak menyiapkan apapun, termasuk mental. Kedua, suami saya masih dalam perjalanan pulang dari tugas luar kota.

“Memang biasanya kontrol di mana?” tanya ibu bidan berbadan bahenol tersebut. Saya menyebutkan rumah sakit dimaksud. Jarak posisi saya saat itu menuju rumah sakit tidaklah terlalu jauh, masih bisa ditempuh dengan kendaraan.

“Kalau memang mau melahirkan di sana, lebih baik segera berangkat. Tapi sedikit risiko kalau ada apa-apa di jalan,” kata ibu bidan lagi.

Saya pun galau.

“Pakai BPJS ga?” tanyanya.

“Punya, bu. Faskes satunya di puskesmas,” kata saya.

“Kalau di sini tidak kerja sama dengan BPJS,” kata ibu bidan. Beliau pun menyebutkan biaya persalinan di kliniknya.

“Suami saya masih di jalan mau pulang, bu. Nanti saya diskusi dulu deh gimana-gimananya. Saya masih boleh pulang dulu, bu? Kalaupun harus melahirkan di sini, nanti bisa langsung kemari, rumahnya di belakang,” kata saya. Bu bidan pun mengiyakan. Kami pun kembali ke rumah mertua.

Setelah mendengar bukaan empat, rasa mulasnya kok menjadi-jadi ya? Saya merasa pernyataan bu bidan jadi sugesti yang membuat mulas menjadi berkali-kali lipat.

Sementara itu, suami langsung menghubungi saya begitu mendarat. Sebelumnya, saya sudah mengabari suami soal flek dan mulas pada pagi hari.

“Sudah bukaan empat, mas,” ujar saya. Dia pun bergegas kembali ke rumah ibu mertua.

Mama dan ibu mertua menanyakan keputusan saya, akan melahirkan di mana. Saya tetap bersikukuh untuk menunggu suami. Kalaupun harus berangkat ke rumah sakit, saya ingin berangkat bersama suami.

Sejujurnya, sampai saat itu, saya masih belum memutuskan akan melahirkan di mana. Saya sedikit khawatir kalau melahirkan di rumah sakit, karena sudah parno duluan kalau-kalau sampai pada keputusan operasi caesar. Tapi, saya juga masih ragu melahirkan di bidan/klinik karena selama ini selalu kontrol di dokter kandungan.

Jadi, saya pasrahkan saja proses dan lokasi kelahiran ini pada Tuhan YME. “Di mana sajalah, Tuhan, yang penting prosesnya lancar,” begitu doa saya setiap saat saking galaunya mau melahirkan di mana. Tapi saya pastikan dalam doa saya untuk tidak melahirkan di kantor, hehehe. <—- GEMINI TULEN

Sekitar pukul 14.30 WIB, suami sampai. Dia pun bertanya keputusan saya. Mau melahirkan di mana?

Saat itu, kontraksi terus datang dan pergi. Saya masih sanggup berjalan, tapi saya ragu bisa tahan jika harus melakukan perjalanan jauh ke rumah sakit.

“Di sini aja ya mas,” kata saya akhirnya meskipun saat itu saya masih setengah galau (ampun deh).

“Gak mau di rumah sakit aja?” tanyanya.

“Udah sakit banget, takut kenapa-kenapa,” kata saya. Dia pun mengiyakan. Kemudian, suami langsung pulang ke rumah kami di Depok untuk mengambil tas perlengkapan bayi. Semua perlengkapan itu sudah saya siapkan sejak bulan ke-8.

Sembari menunggu suami mengambil tas, saya berusaha menenangkan diri menahan mulas. Kontraksinya makin sering dengan durasi semakin rapat. Tapi belum ada keinginan untuk mengejan.

Inhale, exhale, inhale, exhale.

Saya berusaha menghilangkan rasa sakit dengan berjalan bolak-balik rumah mertua, keluar-masuk, jongkok-berdiri, dan makan apapun yang bisa dimakan supaya rasa sakitnya teralihkan. Saya juga berusaha menenangkan diri yang mulai ketakutan karena harus menghadapi persalinan. Banyak cerita yang mengatakan kalau rasa sakitnya luar biasa. Eeew….

Sekitar pukul tiga kurang sepuluh, saya merasa ingin buang air kecil. Tapi karena mulas berkepanjangan, saya merasa tak nyaman untuk pipis sehingga saya tahan. Etapi akhirnya saya jalan juga ke kamar mandi untuk mengosongkan kantong kemih supaya tak mengganggu proses persalinan nanti.

Begitu masuk kamar mandi, tiba-tiba air menyembur dari jalan lahir. Semacam balon berisi air meletus di dalam perut.

Di situ, saya sempat bengong beberapa saat. Saya bingung, masa harus keluar kamar mandi dengan keadaan ngompol air ketuban. Malu ish. Saya masih sempat berpikir untuk ganti celana sebelum keluar tapi saya urungkan karena saya ingat tidak bawa celana ganti.

Akhirnya, dengan celana basah dan air ketuban yang masih mengalir, saya keluar kamar mandi. Saya berjalan ke ruang tengah tempat keluarga sedang berkumpul dan bersantai, kemudian bilang, “Kayaknya air ketubannya pecah deh,” kata saya kalem.

Kemudian, semua panik.

Lanjut part 3 deh yaaa…. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s