Si (Pipi) Bulat Lahir Dadakan (1)

Sudah terkenal betul jargon tahu bulat digoreng dadakan. Rasanya renyah, hangat, fresh from the oven, maknyus deh. Tapi bagaimana rasanya kalau si pipi bulat lahir dadakan?

Begini ceritanya,

Usia kehamilan saya kala itu sudah memasuki akhir pekan ke-37. Pada saat itu, saya sudah sedikit waswas karena si bayi tak kunjung masuk ke jalan lahir. Berdasarkan hasil kontrol di awal pekan ke-37, dokter mengatakan kalau bukaan lahir masih kecil. Kepala bayi pun belum turun dan tidak terasa oleh jarinya yang masuk ke dalam jalan lahir. “Tapi, ini bisa melahirkan kapan saja,” kata dokter berjilbab itu.

Sebetulnya, kekhawatiran saya tidak beralasan. Pasalnya, saya masih punya waktu sampai pekan ke-40, tepatnya 27 Maret 2017, untuk dapat melahirkan bayi yang sehat dengan normal. Dokter pun meyakinkan saya untuk tidak perlu gundah gulana karena air ketuban saya masih banyak dan si bayi masih cukup aktif di dalam perut. Jantungnya juga normal.

Well, yang sebenarnya saya khawatirkan adalah berat badan si bayi. Saat kunjungan terakhir itu, berat badan bayi di perut sudah tiga kilogram. Beratnya naik 500 gram dalam dua pekan. Nah, dengan asumsi naik 500 gram per dua pekan, kalau dia lahir di pekan 39 saja, beratnya bisa 3,5 kilogram. Kalau di pekan 40, bisa-bisa 4 kilo pas.

Si dokter menyarankan saya untuk sering-sering jalan kaki dan banyak-banyak jongkok-berdiri alias squat. Untuk yang pertama, saya memang jarang sekali melakukannya, apalagi di pagi hari seperti yang dilakukan ibu hamil lainnya. Duh, bangun pagi saja malasnya minta ampun, hahaha. Tapi, saya cukup rajin melakukan squat. Bisa tiga sampai empat kali sehari. Sekali squat bisa 20-30 kali jongkok-berdiri. Sejak trimester dua, saya juga sudah melakukan yoga hamil meskipun tidak rajin. Pose-pose yoga Andien semasa hamil yang dipamerkan di instagram? Keciiil, saya juga bisa.

Karena malasnya jalan pagi itu, saya sering diomeli oleh mama yang selalu rewel mengingatkan. Saya beralasan selalu berjalan setiap berangkat kerja. Jalan dari rumah menuju pool angkutan kota saja sudah lumayan jauhnya. Belum lagi saat saya harus ganti angkutan. Di kantor, saya juga masih naik ke lantai tiga. Saya merasa cukup banyak berjalan dan merangsang agar si bayi turun ke jalan lahir.

Sehari sebelum melahirkan, saya diajak mama keliling ITC Depok. Yaa, hitung-hitung saya jalan kaki untuk melancarkan persalinan. Hari itu berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Meskipun sudah merasa sakit badan, pinggul dan kontraksi palsu terus-terusan, saya tidak merasa mulas sama sekali.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 12 Maret 2017, mama dan saya berencana bersilaturahim ke rumah mertua saya di wilayah Jakarta Timur. Mama memang sudah meniatkan untuk berkunjung ke rumah mertua, hanya belum ketemu waktu yang pas. Kesempatan itu baru tiba ya pada hari Ahad itu.

Tanda-tanda melahirkan sudah saya rasakan sejak pukul 04.00 WIB. Saya tiba-tiba terbangun karena merasa mules ingin buang air besar. Awalnya saya tahan karena saya takut keluar kamar (hahahaha) sebelum azan subuh berkumandang. Tapi, rasa mulas itu tak kunjung hilang dibawa tidur. Akhirnya, saya memberanikan diri ke kamar mandi.

Sialnya, tidak ada tanda-tanda si sisa makanan akan keluar. Setelah bosan nongkrong di kamar mandi, saya kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Perjalanan lumayan melelahkan nanti kan, meskipun cuma naik satu kali angkutan kota.

Namun, saya tidak bisa tidur sampai pagi. Semua gara-gara rasa mulas yang hilang-timbul tersebut. Saya baru ngeh pada pagi hari kalau ini adalah tanda-tanda akan melahirkan. Saat ke kamar mandi paginya, saya melihat ada flek cokelat menempel di celana. Maka yakinlah saya kalau ini sudah waktunya. Alhamdulillah. Subhanallah. Masya Allah.

Tapi, saya masih tenang-tenang saja karena berdasarkan banyak artikel yang saya baca, proses kelahiran khususnya anak pertama biasanya berlangsung lama. Prosesnya bahkan bisa dalam hitungan hari. Tapi setelah mengalami sendiri, saya sarankan artikel yang kalian baca jelang persalinan nanti jangan dijadikan patokan ya, jadikan bahan bacaan di waktu senggang saja. Karena, tak semua perempuan hamil mengalami kontraksi lama meskipun kehamilan pertama.

Okeh, saya lanjut di part dua yah. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s