Setengah Jalan Lagi, Nak…

Tidak terasa, usia kandungan saya hari ini genap 20 pekan. Kalau hitungan kalender, empat bulan lebih sedikit.

Alhamdulillah, saya berhasil melalui segala hal yang menjadi keluh kesah ibu hamil, mulai dari mual-mual, muntah, lemes, ngantuk, rambut rontok, muka kusam, gusi berdarah, jerawatan, flek, kram sampai hal lain yang bikin saya mikir “gini banget hamil yahh… huhu,”

Trimester pertama memang yang paling berat bagi ibu hamil, apalagi yang baru pertama kali hamil. Ada saja gangguan yang bikin enggak betah ngapa-ngapain. Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya.

Di trimester kedua, dokter bilang kandungan sudah lebih kuat dan kondisi ibu sudah lebih stabil. Tenaga si ibu juga sudah kembali pulih sehingga lebih banyak aktivitas yang bisa dilakukan meskipun tengah mengandung.

Saya juga sudah boleh jalan-jalan, mau ke mana pun saya mau dan mampu (asal bukan naik gunung sih, heuheu). Perjalanan pertama saya saat hamil adalah tugas kantor ke Cirebon. Tidak pakai pesawat sih, pakai bus, jadi ya tidak terlalu menakutkan dan mengkhawatirkan.

Di trimester kedua, saya juga sudah mampu melakukan banyak hal sendiri seperti saat belum hamil. Yaa, meskipun terkadang suami dengan baik hati membantu seperti mencuci pakaian, menyikat kamar mandi, dan beres-beres rumah, hehehe.

Cumaaaa, saya kini mempunyai jam biologis untuk tidur siang. Itu fardhu ain. Wajib.

Dulu, saya tidak bisa tidur di angkutan umum. Yah, Jakarta keras, gaes. Kita harus jaga barang sehingga saya jarang sekali tertidur di angkutan. Tapi sejak hamil, saya bisa tidur dalam angkot menuju kantor. Itu kalau sudah ngantuk banget dan tidak bisa ditahan.

Selama ini, saya selalu mengusahakan menabung tidur di rumah. Sebelum berangkat kerja, biasanya saya sempatkan tidur satu jam di rumah. Tapi kalau ini tidak berhasil dan saya tidak bisa tidur di angkot, maka di kantorlah saya merebahkan diri. Tidak lama, yang penting tidur sampai hilang kesadaran untuk memulihkan energi yang hilang di pagi hari.

Di pekan ke-20 ini, saya sudah mulai merasakan kehadiran ‘sesuatu’ di perut saya. Awalnya, saya berpikir itu cuma angin yang berjalan dari lambung menuju usus lalu berakhir di anus lalu keluar berhembus. Ternyata, kata dokter, itu salah satu tanda kalau si bayi sedang ngulet-ngulet di dalam perut.

Gerakan ini tidak setiap saat saya rasakan. Dan, setiap ada gerakan itu, saya selalu terlambat menyadari.

Duluuuuu sekali, sebelum terpikirkan untuk menikah, saya selalu khawatir dengan proses kehamilan. “Nanti kalau ada yang gerak-gerak dalam perut gue gimana yaaaaa,” pikir saya sambil merinding disko.

Selain sudah merasakan dia bergerak-gerak di perut, si bayi juga sekarang sudah bisa mendengar suara-suara, baik dari dalam perut saya atau dari dunia di luar perut ibu. Jadi, dokter bilang si anak harus sering-sering diajak bicara.

Perubahan yang saya alami? Yang jelas, perut buncit tak bisa ditutupi lagi. Bahkan memakai pakaian longgar pun tetap ketahuan hamil (meskipun di kereta belum ada yang memberikan saya tempat duduk prioritas).

insta

Berat badan? Jelas bertambah. Tapi, sebulan ini saya hanya naik satu kilogram. Wew. Tapi USG menunjukkan pertumbuhan si bayi <—- ini yang penting.

Apapun itu, kehamilan harus dinikmati. Sesulit apapun, sepayah apapun, kehamilan adalah anugerah. Saya pernah baca di sebuah artikel yang saya lupa di mana. Semua orang pernah menjadi anak tapi tak semua orang diberi kepercayaan menjadi orang tua. Maka, bersyukurlah. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s