Kado

Dora, kapan mau ke kosan aku? Sini ambil kadonya. Gede banget, dor,” ujar kawan saya melalui aplikasi tidak berbayar Blackberry Messenger.

Emang apaan sih kadonya? Segede apa?” tanya saya padanya.

Dalam hati, saya berpikir apakah kawan saya ini akan memberikan saya sebuah lemari sebagai kado pernikahan suami dan saya. Tapi kan mana mungkin. Badan kurus kerontang begitu mau angkut-angkut lemari segede gaban.

Bukan, pokoknya ke sini aja. Kamar aku jadi sempit nih,” katanya.

Apa ya? Boneka raksasa? Mereka kan tahu saya tidak suka dengan boneka apalagi yang BESAR.

Coba fotoin, kadonya segede apa,” kata saya, khwatir kalau nanti menjemput ke sana, itu kado tidak terangkut oleh tangan. Saya betul-betul memikirkan sesuatu yang besar.

Jangan-jangan beneran lemari. Zzzzz….

Gak mau ah, nanti bukan surprais dong,” tolaknya.

Mungkin ada sebulan lebih dia terus menanyakan kapan saya akan mengambil kado itu. Tampaknya, dia ingin kado itu cepat-cepat saya ambil karena ukurannya yang memenuhi kamar kosannya.

Pikiran saya mulai berimajinasi dari kado yang normal sampai yang abnormal seperti sofa, meja makan, kompor yang ada ovennya, mobil, sampai pesawat jet pribadi. Tapi yang terakhir tidak mungkin sih, ya.

Akhirnya, kado itu baru saya ambil akhir pekan lalu. Kan kasihan juga kalau kawan saya yang biasa saya panggil Mbah ini menyimpan mobil terlalu lama di dalam kosannya. Ngarep.

Saat memasuki kamar si Mbah, saya pikir akan melihat barang besar dibungkus kertas kado. Ternyata cuma sebesar bantal guling bayi!

Yaelaah, katanya GEDEEEE,” kata saya yang cuma dibalas tawa cekikikan ala Mbah yang terkadang suka bikin merinding.

Apaan sih, Mbah? Bantal guling ya?” kata saya lagi.

Iya, dor. Itu loh, memory pillow,” katanya.

Seharusnya, saya sudah menaruh curiga di sini karena buat apa mereka repot-repot beliin saya bantal guling. Saya toh sudah punya bantal guling yang lebih besar ukurannya. Hidup pula.

Tapi, memang pada dasarnya saya terlalu polos dan lugu untuk ditipu. Jadi saja saya menelan mentah-mentah apa yang dia katakan.

Seperti ini penampakannya dalam serah terima yang kami lakukan di kamar kosan si Mbah.

DSC_3709
biar (sok) resmi kayak pejabat-pejabat

Kado itu baru saya buka setelah berhasil mendaki gunung lewati lembah terobos badai. Dan ternyata kado itu memang BESAR adanya.

Mereka memberi saya rumah.

Iya, rumah sementara yang sering dipakai orang saat tinggal di hutan. Alias TENDA.

Mas udah ngira itu pasti tenda,” kata suami saat membuka kado.

Ih, mana kepikiran, orang katanya bantal guling,” kata saya. Lalu saya mengutuki diri sendiri mengapa begitu percaya dengan si MEMORY PILLOW itu!!!

Akhirnya suami langsung mengetes tenda itu di ruang makan. Dan, begini hasilnya:

DSC_3715

Disuruh naik gunung nih,” kata saya.

Iya, nanti yah, kalo dedeknya sudah lahir. Atau nanti kalau kandungannya sudah kuat, kita kemping aja. Ajakin temen-temennya kalo mau ikutan,” ujar si bapak.

Sedari kuliah, kami memang sering mengerjai satu sama lain. Saya pikir tak akan bisa mereka mengerjai saya karena biasanya saya selalu bisa mencium bau kebohongan mereka. Cuma kali ini mungkin hidung saya lagi mampet makanya mereka berhasil iseng.

Bersama kado teraneh itu, mereka juga melampirkan surat yag ditulis tangan yang isinya pesan agar saya menjaga kado ini baik-baik. Kalau bisa diturunkan ke ahli waris.

Terima kasih, teman-teman. Meskipun milihnya ngasal, tenda ini pasti kepake. Heheheh.

Daan, kini kado-kado dari kawan-kawan baik saya dan suami masih teronggok manis di salah satu sudut kamar. Semoga bisa segera dimanfaatkan 😀 😀 😀

n c02

DSC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s