Lillahi ta’ala (Episode 2)

_20160418_205813

Bagaimana rasanya menikah? Seorang kawan bertanya kepada saya, belum lama ini. Bagaimana saya menjawabnya ya. Ada banyak perasaan yang dilibatkan di hari-hari setelah menikah. Apalagi dengan kondisi saya saat ini.

Awal bulan Mei lalu, seorang laki-laki akhirnya menyalami tangan papa saya dan mengucapkan janji pernikahan.

“Saya nikahkan engkau dengan anak kandung saya dengan maharnya sekian, tunai,” begitu ucap Papa pagi itu, seperti yang telah dipelajarinya setengah jam sebelum waktu ijab-kabul.

“Saya terima menikahi putri bapak dengan maharnya sekian, tunai,” begitu dia menjawab, setelah ditipu mentah-mentah oleh si penghulu dan tulisan-tulisan di banyak blog tentang akad nikah.

Setelah janji suci itu (cieelah), maka resmilah kami menjadi suami-istri. Apa yang saya rasakan? Sebetulnya, saya yang nge-blank sebentar.

Hah, udah sah? Gitu doang?

Begitu pikiran saya. Sesaat, saya terbengong karena tiba-tiba sudah ganti status. Tapi setelahnya, ya senang, ya lega, ya deg-degan.

Saya merasa lega karena suami tidak mengulang janji karena bengong atau nge-blank. Meskipun ijab-kabul pernikahan kami tidak seperti kebanyakan ijab-kabul pernikahan kebanyakan, rasanya plongΒ sekali setelah dia selesai mengucapkan ‘tunai’.

Pernikahan ibarat petualangan baru bagi saya (dan mungkin semua orang). Orang bilang, kehidupan pernikahan sangat berbeda dengan kehidupan saat masih lajang. Banyak hal baru yang harus dihadapi, tidak sekadar cinta-cintaan.

Pacaran/taaruf dan menikah adalah dua hal yang berbeda. Sekalipun sudah mengenalnya selama berjuta-juta tahun, saat menikah, proses perkenalan itu pasti akan kembali dimulai dari nol, macam gadis SPBU.

Biasanya kita hanya tahu apa yang tampak darinya, kini kita mengenal dia sampai ke sifat dasarnya. Yang selama ini kita selalu mengenal dia apa adanya, nah setelah menikah, apa adanya itu menjadi adanya apa.

Menikah, kata orang, bukan cuma menyatukan dua orang laki-laki dan perempuan, tetapi dua keluarga. Dan itu saya rasakan sendiri selama proses mempersiapkan hari pernikahan dan hari-hari setelahnya. Tiba-tiba punya segerombolan keluarga baru yang harus saya hapalkan namanya satu-satu. Ini siapanya suami, itu siapanya bapak mertua, ini anaknya sepupu yang mana, itu keponakan yang ke berapa.

Duh, menghapal nama keponakan/paman/nenek dari keluarga sendiri saja saya masih gagal. Ini pula ditambah PR menghapal nama-nama keluarga dari pihak suami. Lebih sulit ketimbang ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Menyenangkan? Tentu saja, menikah pasti membahagiakan karena kita telah memenuhi sunnah Rasul dan menyempurnakan setengah agama. Ada tempat berbagi, ada teman berdiskusi, ada bahu untuk bersandar (enggak nyender ke tembok lagi), ada orang yang siap membantu di saat sulit, dan ada yang selalu memberi semangat saat putus asa.

Tentu ada rasa takut, waswas, khawatir. Galau? Masihlah. Galau apakah saya bisa menjadi istri yang baik, apakah nanti akan bahagia selamanya seperti Mr Fredrickson dan istrinya. Yahh, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan Guy Pearce sekalipun.

Tapii… semua itu hanya bisa kita antisipasi dengan terus berdoa, menyerahkan semua takdir kepada Penentu Takdir, Pemilik Hati, Yang Maha Kuasa atas manusia. Sambil terus ikhtiar, berusaha sebaik mungkin agar pernikahan ini menjadi pernikahan yang diridhai dan diberkahi. Karena sesuatu tidak akan terjadi jika Tuhan tidak meridhai.

Saya bersyukur Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk saya. Tanpa doa beliau, mungkin saya masih meraba-raba, luntang-lantung tak paham tujuan hidup.

“Mama selalu berdoa untuk kamu, agar diberi jodoh yang seiman dan menunaikan shalat. Karena shalat adalah tiang agama. Jika dia shalat, insya Allah dia taat pada ibadah agama yang lain,” kata Mama yang membuat mata saya berkaca-kaca. Untung tidak jadi kaca betulan.

May the Force be with us.

Nb: Plis, jangan tanya kapan punya momongan. Doakan saja, itu lebih baik. Kita tidak tahu dari mulut siapa harapan kita dikabulkan Tuhan, toh? πŸ˜€ πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s