Menyoal Gelar Sarjana di Undangan Pernikahan

Setelah mengalami sendiri, mempersiapkan pernikahan bukan perkara mudah. Persiapan tidak cuma dari keyakinan kedua mempelai, tapi juga persiapan dokumen agar tercatat oleh negara, pesta, dan tetek-bengek lainnya.

Mempersiapkan pernikahan menguras tenaga, tidak hanya fisik tapi juga mental. Banyak intervensi membuat persiapan ini membuat saya capek lahir-batin. Soal ini akan saya bahas di lain cerita.

Salah satu hal yang penting dalam pernikahan adalah undangan. Dan di hampir setiap undangan pernikahan di Indonesia, selalu tertera gelar akademik calon mempelai dan orang tua.

Mengapa?

Ada banyak alasan mengapa dalam undangan pernikahan di Indonesia ada gelar akademik. Lengkapnya di tulisan dari laman Hipwee ini: Kenapa Sih Harus Banget Ada Gelar Sarjana di Undangan Pernikahan Orang Indonesia?

Mainstream dengan undangan lain, undangan pernikahan pasangan dan saya pun memakai gelar akademik. Alasannya sama seperti yang dituliskan di Hipwee. Kebanggaan orang tua.

Awalnya, saya bersikukuh tidak ingin menuliskan gelar akademik itu. Apalah saya cuma lulusan sarjana, sementara banyak teman-teman seusia saya yang bahkan sudah mengambil gelar doktor.

Saya pun menilai tidak ada hubungannya gelar akademik dengan ibadah yang menyempurnakan setengah agama ini. Tidak penting, begitu kata saya kepada si mama.

“Ya udah, terserah kamu,” begitu kata mama, menyerahkan sepenuhnya konten itu kepada saya. Meskipun, beliau bilangnya dengan sedikit nada kecewa. Tapi, tahulah saya ini keras kepala, kalau sudah mau satu, harus terjadi, walaupun orang lain tidak suka.

Saat mendiskusikan ini dengan pasangan, saya diberi tahu kalau pemasangan gelar akademik tidak hanya untuk riya alias pamer. Tapi, sebagai bentuk syukur karena orang tua sudah berhasil memberikan pendidikan kepada anaknya.

Dari situ saya berpikir, mengingat. Sejauh ini, di keluarga inti, baru saya yang berhasil sampai lulus sarjana, di kampus negeri pula. Ini mungkin jadi kebanggaan bagi mama yang tidak pernah mengecap pendidikan sampai kuliah. Jangankan sarjana, merasakan duduk di bangku SMA saja cuma setiap akhir semester, saat mengambil rapor anak-anaknya.

Masa saya tega menembok kebahagiaan mama yang sebesar itu dengan ego saya. Toh itu cuma dua huruf yang tidak akan memakan banyak tempat di undangan. Dua huruf yang mungkin membuat mama bisa tersenyum menerima salam dari tamu undangan nanti.

Saat undangan sampai di tangan mama, beliau pun merasa heran dan takjub. Bisa juga keras kepala anaknya luluh bagai es krim magnum kelamaan disimpan di atas meja.

“Katanya enggak mau pakai gelar, kok dibikin juga?” kata mama di saluran telepon saat mengabari telah menerima paket undangan.

“Demi mama itu,” jawab saya.

Nah, begitulah alasan pemakaian gelar akademik dalam undangan pernikahan kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s