Lillahi ta’ala (Episode 1)

Sejak masuk ke dalam kantor, hampir tidak ada yang bisa saya tulis. Saya menjadi orang yang sangat tidak produktif, karena kerjaan saya sehari-hari adalah membenarkan tulisan yang sudah ada, bukan membuat tulisan baru.

Sejujurnya, ini adalah pekerjaan yang membosankan, karena mengedit tulisan yang sudah ada akan menumpulkan kemampuan menulis.

Kegiatan beberapa bulan belakangan membuat saya meninggalkan blog ini. Sayang sekali, padahal sungguh banyak pembaca yang penasaran dengan hidup saya <– pede abis.

Dan selama saya meninggalkan dunia kepenulisan di dunia maya, ada banyak hal yang terjadi. Tidak banyak sih, tapi itu membuat hidup saya (mungkin) berubah banyak di masa depan.

Iya, ini tentang jodoh.

Saya adalah orang yang dulu kurang mempercayai bahwa jodoh itu datang dari tempat yang tidak pernah kita duga. Saya penganut mazhab ‘saya harus kenalan dengan orang ini cukup lama sebelum memutuskan untuk hidup bersamanya selamanya’. Ini didefinisikan sebagai hubungan (haram) yang bernama pacaran.

Saya juga orang yang tidak mempercayai tentang ‘keyakinan itu akan datang saat kamu siap’. Menurut saya, keyakinan itu bisa dibuat, bisa dibangun dari diri sendiri, dan tidak datang tiba-tiba.

Tapi ternyata, keyakinan versi saya tidak membuahkan hasil yang saya inginkan, karena akhirnya runtuh juga oleh virus keraguan. Lalu, Tuhan akhirnya menguji saya dengan keyakinan lain versi Dia yang tiba-tiba masuk ke urat nadi tanpa saya minta.

Kegagalan di masa lalu membuat saya sedikit trauma untuk memulai kembali sebuah hubungan dengan makhluk dari Mars. Bahkan, untuk hubungan sekadar teman. Saya menjadi antisosial dan menjauhi apa-apa yang sekiranya membuat saya kembali teringat dengan masa lalu.

Enam (atau tujuh) tahun bukan masa yang sebentar, meskipun, ya, sangat sebentar jika dibandingkan dengan usia pernikahan orang tua saya yang sudah 35 tahun (yaiyalah). Tapi, masa-masa itu sangat membekas dan membentuk saya menjadi saya hari ini.

Saya menyadari tidak bisa selamanya bergelimang dalam kesedihan dan penyesalan. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah, dan percayalah, mesin pemutar waktu bikinan manusia di masa Doraemon tidak akan pernah tercipta. Tidak di dimensi ini.

Saya harus bangkit dan memulai hidup baru.

Mungkin, apa yang saya inginkan selama ini bukanlah apa yang saya perlukan. Tuhan tidak mungkin salah memberi saya skenario, kan? Tuhan punya gudang penyimpanan data yang lebih keren daripada Densus 88, atau KPK.

Ketika saya meyakini sesuatu sangat pantas bagi saya, tepat seperti yang saya mau, belum tentu pantas dan sesuai menurut si Dia. Menurutnya, saya seharusnya mendapatkan yang bersifat Z-A-M, bukan D-R-S, apalagi B-N-Y, misalnya.

Begitulah, akhirnya saya menyadari kalau Tuhan sudah memberikan skenario terbaik untuk saya. Apa pun jalannya, harus saya hadapi karena sudah tercatat.

Yakinilah, setiap manusia pernah berada di titik tertinggi hidupnya, bersama angin dan gumpalan awan yang selembut gulali. Dia pernah pula berada di titik terendah, saat bergelimang dengan lumpur dan tanah becek. Tidak ada yang selamanya berada di atas atau berada di bawah.

Namun, itu semua tidaklah penting. Yang benar-benar penting adalah bagaimana seorang manusia menghadapi saat dia berada di atas dan saat dia berada di bawah. Dan satu-satunya senjata yang diperlukan untuk menghadapi berbagai situasi itu adalah ikhlas.

Beberapa tahun lalu, saya pernah berkata pada seorang sahabat, ikhlas adalah ilmu yang mudah tapi juga sulit dipraktikkan. Mudah untuk diucapkan, tapi sangat sulit untuk dilaksanakan, sesulit tidak mengklik gambar keranjang di situs belanja daring.

Pada saat kita bahagia, belajar ikhlas sangat mudah, bicara ikhlas sangat mudah, karena kita tengah berdiri di atas angin, saat hati berbunga-bunga, dan menerima keadaan dengan hati riang. Ini berbeda saat belajar ikhlas ketika musibah menimpa. Saat itu, kita pasti bertanya, kenapa saya, kenapa ini harus terjadi, kenapa tidak dari dulu ketahuan, kenapa harus di saat-saat sekarang? Dan banyak pertanyaan kenapa lainnya.

Lah, jadi melantur.

Intinya, saat kamu bertemu dengan sosok idamanmu, dengarkan kata hatimu. Hati kecil tidak pernah berbohong, tapi terkadang kita mengabaikannya karena tenggelam oleh nafsu. Perbanyak bertanya pada Tuhanmu, dan percayalah Dia akan menjawab pertanyaanmu dengan cara yang tidak kamu sangka. Iya, saya juga dulu tak percaya, tapi nyatanya saya alami.

Kamu tidak tahu kapan keyakinan itu akan diberikan kepadamu, tapi kamu bisa mulai meyakinkan diri sendiri bahwa jodoh tidak mungkin tertukar. Dan apapun yang diberikan Tuhanmu nanti, lakukanlah karena niat yang baik. Kalau kata orang-orang saleh, lillahi ta’ala.

Mari berjuang!

n c02

arrum

Advertisements

One thought on “Lillahi ta’ala (Episode 1)

  1. Iya betul banget, jodoh (dan rezeki) tidak mungkin tertukar. Gw dan suami adalah dua orang yang berasal dari dua latar belakang yang berbeda serta bertolak belakang. Masing-masing kubu pertemanan kami sampai bingung kenapa kami bisa berjodoh. Tapi itu justru membuktikan bahwa jodoh (dan rezeki) itu adalah memang kerjanya Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s