Generasi LOL

Apa yang menjadi ketakutan kita di masa depan terjadi sudah. Beberapa waktu lalu, saya membaca ulasan di salah satu media nasional tentang seorang anak, yang duduk di bangku taman kanak-kanak, tertawa sambil berkata, “Lol, lol,” alih-alih “Hahaha,”.

Well, selamat datang di dunia LOL.

Bagi yang belum tahu (rasanya tak ada, deh), LOL adalah singkatan dari frasa berbahasa Inggris laughing out loud alias ketawa keras-keras. Lema ini biasanya digunakan untuk percakapan tertulis dalam pesan singkat.

Kehadiran LOL dan kawan-kawan tidak lepas dari kehadiran teknologi yang disebut short messaging system (SMS) dan media sosial Twitter. Seperti yang kita tahu, SMS membatasi penggunanya untuk mengirim satu kali pesan dengan maksimal 160 karakter (belum berubah kan?). Sedangkan, lini masa Twitter membatasi satu cuitan dengan 140 karakter.

Karena singkatnya kalimat yang harus dibuat dalam satu kali pesan itulah yang akhirnya membuat generasi Y menciptakan singkatan-singkatan. Ini bertujuan agar pesan yang disampaikan dapat dipadatkan dalam jumlah karakter yang terbatas. Singkatan-singkatan ini akhirnya menjadi bahasa baru yang dipakai sehari-hari.

Nah, yang ditakutkan adalah bahasa percakapan virtual ini masuk ke dalam bahasa percakapan audio-visual alias saat ngobrol tatap muka. Akhirnya, itu terjadi sudah pada generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir saat bahasa baru itu telah dipakai generasi sebelumnya dan mereka menganggap bahasa baru itu sebagai bahasa yang lazim dipakai sejak lama.

Kedekatan generasi Y dengan teknologi telah menjadikan mereka sebagai penemu bahasa baru yang lebih mampu mereka pahami. Secara tidak langsung, penciptaan bahasa baru oleh agen-agen bahasa ini mematikan bahasa-bahasa lama yang dipakai oleh generasi X dan generasi sebelum X.

Penggunaan bahasa baru ini adalah sebagai ajang pamer eksistensi oleh generasi Y. Bagi generasi X, ini adalah genosida bahasa baku yang selama ini mereka dewakan. Bagi generasi Z, ini adalah bahasa mereka, bahasa biasa dalam kehidupan mereka yang biasa.

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan lahirnya bahasa baru itu. Semakin maju peradaban, tentu linier dengan semakin berkembangnya bahasa. Dan sudah menjadi sebuah keniscayaan bahasa lama akan tergerus oleh bahasa baru.

Anthony C Woodbury dari Linguistic Society of America bilang, selama berabad-abad manusia hidup di bumi, selama itu pula bahasa berkembang, datang dan pergi. Banyak bahasa lama yang tidak lagi dipelajari oleh generasi berikutnya. Misalnya, bahasa Latin yang kini telah jarang dipakai. Belum punah sih, tapi sudah tergantikan dengan bahasa Latin modern.

Ada beberapa alasan mengapa bahasa menjadi hilang dan punah. Salah satunya adalah karena generasi di sebuah negara lebih memilih belajar bahasa asing alih-alih bahasanya sendiri.

Ini yang terjadi di Indonesia. Arus globalisasi yang tidak difilter dengan baik membuat generasi masa kini lebih banyak menggunakan bahasa asing daripada bahasanya sendiri, apalagi bahasa ibu. Keseringan memakai bahasa asing ini membuat mereka lupa padanannya dalam bahasa sendiri, menjadikan bahasa asing itu sebagai bahasa sendiri, lalu puff, si bahasa sendiri pun lenyap.

Seperti LOL tadi. Kenapa si anak harus tertawa sambil ngomong “Lol, lol,”. LOL kan berarti ketawa keras-keras, bisa disingkat jadi KKK (jangan tertukar dengan Ku Klux Klan). Setidaknya, bahasa baru tercipta dari bahasa sendiri, kkk.

Selain penggunaan bahasa lain yang berlebihan, punahnya bahasa juga disebabkan oleh genosida. Kata Woodbury, ini pernah terjadi pada awal abad ke-19 saat orang-orang Eropa menginvasi Tasmania. Kebanyakan, bahasa yang punah adalah bahasa yang dipakai oleh kaum minoritas di daerah tertentu, terutama di pedalaman.

Lalu?

Tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghindari ini. Semua terjadi begitu saja, seperti pasir yang terbawa arus sungai. Pasir itu akan terbawa arus hingga ke muara. Tempatnya akan digantikan oleh pasir yang baru datang dari hulu. Kecuali, pasirnya di tengah jalan diambil buat dijual.

Kita masih bisa mempertahankan bahasa lama, tentu saja. Caranya? Ya dengan menggunakannya terus-menerus. Tapi masalahnya, siapa yang akan menggunakannya? Di tengah psikologi generasi Y yang mencari eksistensi di dunia maya dengan bahasa slang baru. Di tengah semakin berkurangnya penutur generasi X dan generasi sebelum X. Di tengah kurang pedulinya generasi Z untuk mempelajari masa lalu.

Maka mulai hari ini, terbiasalah mendengar anak-anak tertawa “lol, lol,” atau “lmao, lmao,” setelah beradaptasi dengan “Warbyasak,” dan “Leh uga,” n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s