Pak Raden dalam Kenangan

Pertama (dan terakhir) kali saya bertemu Pak Raden alias Drs Suyadi pada 14 April 2012. Pada saat itu, tim dari Pak Raden mengadakan ngamen bareng untuk memperjuangkan hak cipta boneka Si Unyil.

Waktu itu, saya libur dan tidak pula diminta untuk datang ke acara itu. Namun karena kekaguman saya pada Pak Raden, rasa malas saya buang jauh-jauh dan rela berpanas-panas mencari rumahnya di wilayah Petamburan, Jakarta Pusat.

Ternyata, sulit juga mencari rumah beliau. Tapi berkat Google Map (terima kasih, Google Map), saya berhasil menemukan rumah itu di kawasan padat penduduk.

Jakarta sebelah mana yang enggak padat penduduk, Neng….

Rumahnya tidak besar, tapi rindang. Ada pohon (saya tidak ingat jenisnya) di halaman depan, menutupi jendela ruang lukisnya. Sejumlah tanaman lain menghias halaman yang dibiarkan bertanah.

Acara dimulai pukul 14.00 WIB. Saya sudah di sana sejak pagi. Saya ingin bertemu dulu dengan kreator Si Unyil ini, sebelum beliau terlalu sibuk menerima tamu lain. Kala itu, hanya ada saya dan seorang jurnalis lain yang juga curi start wawancara.

Pak Suyadi baru saja kelar mandi saat saya tiba. Sambil mempersiapkan kostum, kumis dan alisnya, Pak Suyadi dengan senang hati bercerita tentang proses pembuatan Si Unyil.

Beliau duduk di kursi plastik putih yang sudah comel oleh debu. Kami berdua duduk bersila di lantai, macam bocah yang siap mendengar dongeng.

Sambil mengoles-oleskan potongan rambut ke alis (untuk membuat efek alis tebal), Pak Suyadi bercerita betapa pentingnya Boneka Si Unyil baginya. Dia rela mencopot statusnya sebagai seorang dosen di sebuah universitas teknik terkenal di Kota Bandung supaya bisa fokus menggarap Si Unyil.

Dia juga sempat mengajak kami ke ruang kerjanya, menjelaskan lukisan-lukisan yang tengah dibuatnya untuk pameran di sebuah mal di Jakarta. Di ruang lukis itu, ada beberapa lukisan yang sudah selesai dan masih setengah jadi. Lukisannya khas Pak Raden dan tentu saja, bertema anak-anak. Saya tak paham soal lukisan, jadi tak komentar.

Kami mengobrol selama beberapa jam, sampai akhirnya salah satu tim ngamen mengatakan kalau acara akan dimulai. Akhirnya setelah berkodak sedikit, saya pun meninggalkan Pak Suyadi untuk bersiap-siap. Belum pasai mengobrol, tapi tak apalah, giliran yang lain untuk bertemu beliau.

Di luar, saya mengobrol dengan rekan beliau (yang sialnya saya tak ingat namanya). Dari bapak ini, saya mendapat info kalau tidak semua negatif film-film Boneka Si Unyil terselamatkan. Hanya ada beberapa yang selamat dan itupun sebagian dibeli kolektor.

Saat Perum Produksi Film Negara (PPFN) mati suri, perusahaan itu menjual negatif film-film produksinya, termasuk Si Unyil. “Bahkan ada negatif yang dijual ke perusahaan untuk dicairkan dan jadi sol sepatu,” kata si Bapak.

Mehh!

Dan sayangnya, tidak ada upaya dari perusahaan untuk mendigitalisasi film-film, sehingga apa yang sudah dibuat itu hilang begitu saja. Lenyap. Mampus.

Pak Suyadi akhirnya berpulang, sebulan sebelum hari ulang tahunnya yang ke-83. Pak Suyadi tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Tapi, ada jutaan anak, mereka yang tumbuh bersama Si Unyi di era 1980-an hingga awal 1990-an, yang akan mendoakannya.

Selamat jalan, Pak Raden. Kami sayang padamu. n c02

PS: Tulisan tentang awal kemunculan Si Unyil sudah saya tulis di blog dengan judul “Hompimpah, Unyil Kucing!” (Bag. 2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s