Seperangkat Alat Shalat

Pada suatu malam saat berkunjung ke kota domisili saya, ibu saya mengeluh,

“Ini mukena apa lap pel sih,” kata beliau saat melihat mukena saya. Kala itu, beliau akan menunaikan Shalat Isya.

Saya melihat mukena yang akan dipakai perempuan yang saya panggil Mama itu. Aih, jauh kok bedanya itu mukena sama lap pel.

Tapi demi menghormati beliau yang membesarkan saya, saya berikan mukena baru, fresh from lemari. Mama pun kemudian shalat setelah melakukan perjalanan sepanjang 166 km dari Barat ke Timur.

Usai shalat, Mama masih mengomentari soal mukena itu.

“Mukena udah jelek kayak gitu kenapa masih kamu pakai?” kata Mama.

“Masih bagus, Ma. Masih layak pakai,” ujar saya ngeles.

“Layak pakai gimana, bentuknya saja sudah tidak karuan,” kata Mama lagi.

Kalau dilihat-lihat, mukena itu memang sudah setua bendera pusaka. Usianya sudah akil baligh. Tapi karena masih sangat nyaman dipakai, saya pun tak rela menggantikan posisinya dengan mukena lain. Hanya sesekali saya berganti mukena, ketika mukena kesayangan itu sudah waktunya dicuci.

Sebetulnya, tidak ada yang spesial dari mukena itu. Mukena itu pemberian Nenek ketika saya akan pergi merantau untuk pertama kalinya. Dan karena nyaman, saya pun masih memakainya hingga kemarin.

“Kamu apa tidak malu pakai mukena ini. Mukena itu ibarat pakaian. Masa kamu mau menghadap Tuhan pakai mukena jelek begini, tapi kalo ketemu pacar pakai baju cantik-cantik,” Mama melanjutkan.

Di situ saya mulai tertohok. Nasihat seperti ini tidak sekali dua kali saya dengar. Cukup sering, terutama di forum-forum perempuan solehah. Tapi, saya tidak begitu ambil pusing dengan pernyataan itu. Karena menurut saya, menghadap Tuhan cukup dengan pakaian (mukena) yang baik dan bersih.

Justru yang tidak bisa saya pahami adalah mereka yang ketika menghadap Tuhan dengan mukena bergambar dan bercorak dan berwarna. Meskipun, saya punya mukena hitam yang setiap kali dipakai selalu mengundang tatapan panjang di tempat-tempat tertentu.

Mukena bercorak (bagi saya) justru lebih mengganggu dibandingkan mukena jelek saya yang polos itu. Kan Tuhan pun bilang, jangan berlebih-lebihan.

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (7:31)

“Yang penting bersih, Ma,” kata saya mencari pembelaan.

“Masa segini kamu bilang bersih. Jangan pelit buat ibadah. Gimana doamu mau dikabulkan kalau shalat saja masih pakai mukena jelek,” Mama kekeuh.

Ih, apa hubungannya?

Standar kebersihan Mama dan saya memang jauuuuh berbeda, terutama barang-barang yang dipakai untuk diri sendiri. Apa yang saya anggap sudah bersih belum tentu bersih di mata beliau.

“Kamu kan sudah kerja. Berhubung belum ada yang beliin seperangkat alat shalat, beli sendiri dulu,” kata Mama pula.

Arah angin mulai terbaca…

“Iya, Ma, nanti dibeli gantinya,” kata saya mengalah, lalu mengalihkan pembicaraan.

Tapii, mukena akhirnya baru saya beli enam bulan setelah pembicaraan itu terjadi. Ada saja alasan saya untuk tidak melipir membeli mukena. Yah, alasan terkuat adalah berharap ada yang memberi. (Hahaha)

Dan sejak itu saya berusaha meningkatkan standar bersih. Tidak setinggi standar Mama, tapi setidaknya lebih bersih dan baik dibandingkan saya yang dulu.

Etapi bukan berarti dulu saya jorok, lho. <- pembelaan.

Bagaimanapun juga, menghadap Yang Maha Esa harus lebih ‘cantik’ daripada menghadap yang PHP. Toh tidak ada salahnya menjadi orang yang bersih. Selain ibadah, itu juga bagian dari mensyukuri nikmat Tuhan, kan?

Jadi Mas, kapan kamu mau beri saya seperangkat alat shalat? n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s