Anak Harimau yang Ingin ke Puncak

Pada suatu masa, saat pujangga tak dapat melihat bintang tanpa kegelapan, hiduplah seekor anak harimau. Ia masih sangat muda, namun tidak satu pun yang dapat memastikan usianya. Namun saat kisah ini ditulis, si anak harimau masih tergolong harimau muda dan berbahaya. Bukan berbahaya berarti mudah menggigit atau jahat, tetapi dia cukup diperhitungkan di hutan tempatnya tinggal.

Makhluk hutan memanggilnya Gigi. Bukan gigi ‘gigi’, tapi Gigi saja. Badannya tak lebih besar dari kucing hutan yang sudah tua, tapi otot-ototnya melebihi makhluk yang sering disangka anak singa itu. Dan di usianya kini, Gigi memiliki segalanya; otot yang kuat, taring yang tajam dan sempurna, mata dan penciuman yang luar biasa; serta satu hal yang selalu dimiliki makhluk muda: rasa penasaran yang tinggi.

Gigi hidup di kaki gunung kawah tertinggi di sebuah negeri tropis. Hutan Hujan, begitu manusia menyebut tempat Gigi tinggal. Meskipun, Gigi tahu Hutan Hujan tempatnya bukan satu-satunya Hutan Hujan yang ada di negeri tropis itu. Masih banyak hutan lain yang dinamai manusia sebagai Hutan Hujan. Tapi kita hanya akan bercerita tentang Hutan Hujan yang ditinggali Gigi.

Karena masih muda dan berbahaya, Gigi cukup disegani oleh penduduk hutan. Untungnya, Gigi tidak sombong dan sangat bersahabat dengan mereka. Sehingga, kedatangan Gigi selalu disambut dengan gembira, alih-alih ketakutan.

Gigi bersahabat dengan seekor kambing hutan, Beidar namanya. Bersama sahabatnya ini, Gigi sering berkeliling Hutan Hujan, mengawasi teritori milik ayahnya, Pak Harimau. Mereka berkeliling sambil melihat-lihat perkembangan apa yang telah terjadi di hutan dan terkadang melihat apa yang manusia lakukan. Sesekali, Gigi dan Beidar masuk ke teritori harimau lain untuk mengecek ada perubahan apa di sana. Kadang, mereka melakukannya dengan diam-diam, tapi tidak jarang juga mereka berkunjung secara terbuka atas perintah ayah Gigi, si raja hutan.

Pada suatu hari, Gigi melihat serombongan manusia muda tengah melintasi jalur tempatnya biasa berpatroli. Ada lima anak manusia yang berjalan pelan. Di punggung mereka ada tonjolan berwarna-warni yang besarnya setengah tubuh manusia itu sendiri.

“Ayo, ayo, puncak masih jauh,” kata salah seorang dari mereka. Ia berdiri tepat di depan Gigi, membelakanginya. Gigi diam seribu basa dan tidak membuat gerakan sedikit pun supaya tidak diketahui oleh si manusia.

“Yaelah, puncak enggak bakal kemana-mana, Bro” ujar manusia lain yang berbadan lebih berlemak dari yang pertama. Dan bagi Gigi, dia terlihat enak.

Si manusia yang dipanggil Bro itu hanya tertawa mendengar si gendut.

Gigi dan Beidar masih diam di tempat mereka masing-masing. Meskipun pemberani dan disegani seluruh hutan, takut juga Gigi berinteraksi dengan manusia. Dulu saat masih sangat kecil, Gigi pernah mendengar cerita dari Kakek tentang kelakuan para manusia kepada hewan di hutan. Mereka menangkapnya dan menghabisi para hewan, terutama harimau. Lalu dengan kejam, mereka menarik paksa taring harimau lalu memotong cakarnya dan membiarkan harimau itu mati begitu saja.

Gigi merasa taringnya sudah cukup sempurna, meskipun belum sepanjang taring ayahnya, Pak Harimau. Tapi, tentu saja dia tidak ingin menjadi bagian dari sejarah sebagai harimau yang mati karena ditarik taringnya oleh manusia. Menurutnya, itu bukan cara mengakhiri hidup yang elegan.

Setelah memastikan para manusia muda itu pergi, Gigi dan Beidar kembali ke teritori mereka. “Siapa mereka, ya? Aku belum pernah melihat manusia dengan punggung bungkuk mereka,” kata Gigi membahas warna-warni yang ada di punggung manusia yang baru saja mereka temui.

“Mereka adalah pendaki gunung. Manusia yang suka mendaki gunung,” kata Beidar. Beidar mendapatkan informasi itu dari ayahnya. Para pendaki, senang masuk ke dalam hutan untuk mendirikan rumah kain, yang mereka sebut tenda, dan menginap di dalam hutan. Dan apa yang ada di punggung mereka itu adalah perlengkapan mereka untuk membuat tenda di hutan. Di dalam itu, mereka juga membawa makanan. Beidar mengatakan, meskipun ada banyak makanan, para manusia tidak selalu cocok dengan makanan yang ada di hutan.

“Untuk apa mereka susah-susah membuat rumah di hutan, padahal mereka sudah punya rumah sendiri di bawah?” tanya Gigi lagi. Kehadiran mereka membuat Gigi terganggu, karena diakuianya, bau manusia tidak enak. Bau sebagian besar manusia membuat hidung Gigi sakit. Beberapa di antaranya bahkan bisa membuatnya pilek selama berminggu-minggu.

“Kalau Pak Elang bilang, para pendaki itu biasanya berjalan ke puncak gunung. Mungkin manusia yang kita temui tadi ingin berjalan sampai ke puncak gunung ini,” tutur Beidar.

“Memangnya ada apa di puncak gunung?” tanya Gigi, masih penasaran dengan kelakuan manusia-manusia itu.

Beidar menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. “Entahlah. Pak Elang yang pandai terbang pun tak tahu apa yang manusia cari di puncak. Kau bisa bertanya pada ayahmu. Dia kan raja hutan,” kata Beidar.

Betul juga, pikir Gigi. Tapi, rasa penasaran membuatnya tidak punya waktu untuk bertanya pada si raja hutan. “Ayo,” kata Gigi kepada Beidar. Sambil mengibas-ngibaskan ekornya, Gigi berjalan membuntuti para pendaki.

“Kau mau ngapain?” tanya Beidar curiga.

“Aku mau ikut mereka ke puncak. Aku ingin tahu apa yang mereka cari di puncak,” kata Gigi riang. Tidak terbesit rasa takut dalam dirinya, seperti yang dirasakan Beidar. Rasa penasaran Gigi mengalahkan takut akan ancaman manusia.

“Ayolah, nanti kita tertinggal jauh,” kata Gigi lagi. Dengan setengah hati, Beidar mengikuti sahabatnya yang muda dan berbahaya ini. Berbahaya bukan berarti menakutkan dan suka menggigit, tapi setengah bodoh dan setengah nekat.

Ternyata, manusia berjalan lamban sekali. Gigi yang mengekor mereka sampai bosan karena mereka keseringan berhenti. Mereka duduk dulu, sambil bercanda, lalu mengisap pipa, lalu jalan lagi, mengisap pipa lagi, makan siang, mengisap pipa, jalan lagi. Begitu saja sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lapangan luas di ketinggian. Gigi belum pernah sampai ke lapangan itu, karena teritori ayahnya sudah jauh tertinggal di bawah. Gigi sedikit khawatir kalau-kalau lapangan ini adalah teritori harimau lain. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya tidak ada seekor harimau pun yang ingin tinggal di sana karena udaranya dingin sekali.

“Ugh, dingin sekali di sini,” kata Beidar yang sampai paling akhir. Mukanya lusuh sekali, seperti baru saja disuruh berlari bermil-mil jauhnya tanpa berhenti. Tapi, wajahnya yang lusuh itu bagi manusia akan terlhat sama saja, karena memang manusia tidak peka dengan hewan.

Mereka mencari tempat bersembunyi yang cukup jauh dari para pendaki. Sembari meluruskan kaki, Gigi melihat para manusia mulai berbenah dan mengeluarkan barang-barang dari dalam apa yang mereka sebut ransel. Pepohonan melindungi mereka dari pandangan para pendaki, tapi dengan penglihatan yang sangat baik, Gigi bisa melihat para pendaki dengan jelas. Mereka membangun tenda. Lalu, ada yang mencari ranting-ranting (Gigi memastikan mereka tidak akan bertemu muka), ada yang menyalakan api dan sebagian lagi hanya duduk-duduk melihat.

Saat tenda selesai dipasang, matahari sudah meredup. Bola api oranye itu sudah terlihat mengantuk dan menyisakan garis malas di ufuk barat. Melihat warna merah itu membuat Gigi merasa lapar. Dia baru ingat sudah melewatkan jam makan siang dan makan camilan sore. Ia juga merasa sangat haus. “Ayo kita makan,” katanya pada sahabatnya.

Beidar mendelik gusar. Gigi tidak perlu susah-susah mencari makan, karena makanan itu sudah tersaji di depan hidungnya, mengikutinya ke manapun dia pergi setiap hari. Meskipun Beidar tahu Gigi takkan pernah menjadikannya mangsa, mendengar Gigi mengatakan kata ‘sihir’ itu tetap membuat Beidar menggigil. Karena, bisa saja sewaktu-waktu Gigi khilaf dan salah satu kakinya sudah masuk ke mulut Gigi.

Gigi menyadari Beidar tidak mengikutinya. Lalu ia teringat telah mengatakan kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan di antara mereka; makan. Tentu saja, karena Gigi merupakan hewan tertinggi dalam rantai makanan, sedangkan Beidar adalah ‘hewan kelas dua’.

“Aku tidak sengaja,” kata Gigi tanpa menunjukkan penyesalan dalam nada bicaranya. Beidar memberengut, lalu berjalan turun mengikuti Gigi. Untuk menghormati Beidar, Gigi memutuskan tidak makan daging apapun malam itu. Dia akan makan apa yang Beidar makan, terutama buah-buahan. Lagipula, kebanyakan makan daging akan membuatnya sakit kepala dan cepat marah seperti Pak Harimau. Selain itu, Gigi juga perlu diet supaya tidak terlalu gendut.

Saat tengah asyik minum di sebuah sumber air, Gigi mendengar dua pendaki berjalan ke arah mereka. Dengan sigap Gigi bersembunyi di balik sesemakan. Beidar mengekor di belakang. Tapi, ia terpeleset jalan yang licin, membuat Gigi terpekik—yang di telinga manusia terdengar sebagai auman.

Dua orang yang sedang berjalan menuju sumber air itu membeku. “Lo denger, Bro?” Gigi mendengar suara salah satu dari mereka.

“Suara macan?” tanya si laki-laki yang dipanggil Bro. Temannya mengangguk.

“Ah, mana mungkin ada macan di ketinggian segini. Bisa mati dia,” kata Bro lagi, mencoba berbaik sangka pada alam. Dia mengajak temannya turun, tapi si teman tidak mau jalan lebih lanjut. Akhirnya, Bro turun sendirian sambil membawa jeriken air. Ia mengisinya dengan air persis di tempat Gigi tadi minum. Bahkan, jejak kaki Gigi masih ada di sana, tercetak dengan sangat jelas di atas tanah lembek. Bro bisa melihatnya, tapi berusaha untuk tidak bereaksi apa-apa. Setelah mengisi air, mereka pun kembali ke tenda.

Betul kata Bro. Di ketinggian, hewan berbulu seperti Gigi bisa mati kedinginan. Malam itu, udara sangat dingin menggigit. Menurut salah satu pemuda, suhu udara malam itu lima derajat celcius, entah apa artinya. Namun bagi Gigi, lima derajat celcius artinya sangat sangat sangat dingin. Angin berhembus cukup kencang, membuat giginya bergemeletuk.

Gigi memanjat pohon dan mencari tempat ternyaman untuk tidur malam itu. Sementara, Beidar yang tidak diberi kemampuan memanjat, cukup puas dengan semak-semak di bawah. Semak-semak itu melindunginya dari angin. Ia juga telah mengumpulkan dedaunan untuk dijadikan selimut. Ia bahkan menemukan plastik hitam berisi sampah-sampah sisa para pendaki yang dengan sangat bijak meninggalkannya di sana. Beidar membongkar isinya, lalu bergelung di dalam kantong plastik itu, menjadikannya kantong tidur. Hangat, pikirnya, meskipun sedikit bau.

Namun, angin malam membuat Gigi tidak bisa tidur. Suara desingannya sangat kencang di kuping Gigi. Akhirnya, Gigi turun ke bawah dan iseng berjalan ke tenda para pendaki. Ada beberapa tenda di lapangan itu, dan di antara mereka terdapat api unggun yang sudah padam. Onggokan arang sisa api unggun masih berasap dan saat diinjak, Gigi merasakan hangat. Gigi pun memutuskan untuk duduk di atasnya, menyerap sisa kehangatan yang ditinggalkan oleh api pada arang.

Beidar yang tengah tidur nyaman dengan ‘kantong tidur’ temuannya tiba-tiba panik saat Gigi menghilang. Kepanikan itu langsung berubah menjadi kekesalan saat melihat sahabatnya itu tengah bersantai di atas arang. “Kau ini. Bagaimana kalau ketahuan mereka?” embik Beidar pelan. Gigi cekikikan.

“Ayo kita naik lebih dulu. Lebih baik tidak bertemu mereka daripada nanti jadi santapan kambing guling dan gulai harimau,” kata Beidar pula. Dia mendorong Gigi dengan kepala, memaksanya meninggalkan sisa kehangatan yang masih disimpan arang.

“Beidar, kau bau banget, deh,” kata Gigi saat Beidar mendorongnya.

“Mana ada kambing yang wangi,” gerutu Beidar. Gigi ingin tertawa, tapi ditahannya karena tawa seekor harimau akan membuat kepanikan di lapangan itu.

Sementara ditinggal oleh Gigi dan Beidar, para pendaki pun terbangun dan mendapati samar jejak harimau di depan tenda. Mereka memutuskan untuk membawa beberapa ‘senjata’ kalau-kalau berpapasan jalan dengan macan itu. Bro yang tadi bertemu Gigi (atau tepatnya jejak kakinya) tidak mengatakan apa-apa. Tapi, dia juga tidak melarang teman-temannya untuk membekali diri dengan pisau dan senjata tajam lain.

Bagi Gigi dan Beidar, perjalanan menuju puncak merupakan pengalaman baru. Di teritorinya, tidak ada jalan pasir berbatu seperti yang ada di puncak ini. Sesekali, Gigi dan Beidar mengalami kesulitan melaluinya. Mereka beberapa kali terpeleset dan harus menahan satu sama lain dari bawah agar tidak berguling-guling ke jurang. Bagi Beidar, jurang bukan masalah. Yang bermasalah adalah kontur tanahnya yang licin.

Mereka sampai di puncak beberapa jam lebih cepat dibandingkan kelompok pendaki yang mereka ikuti. Dan dari puncak, Gigi dapat melihat bintang-bintang bersinar lebih terang dan wajah jerawatan bulan dengan lebih jelas. Gigi juga dapat melihat gumpalan awan terhampar di sekelilingnya, menutupi perkampungan manusia yang ada di bawahnya. Jauh di sebelah timur, Gigi melihat garis merah mulai terbentuk, tanda fajar akan tiba.

Di puncak, terdapat sebuah lembah berisi air kehijauan meletup-letup. Dengan penciuman yang tajam, Gigi dapat mencium bau busuk dari bawah sana. Baunya lebih busuk dari Beidar saat ini.

“Ternyata puncak cuma seperti ini,” kata Beidar kecewa. Dia pikir, di puncak gunung ada santapan yang enak atau pohon yang bisa dipanjat atau sesuatu yang menyenangkan seperti akar-akar. Ternyata, hanya ada hamparan awan putih yang menutupi perkampungan dan jauh di sebelah barat, ada lapangan biru yang lebar hingga ke garis bumi yang tak bisa dilihat oleh matanya.

Gigi nyengir lebar, memamerkan taring tajam dan panjangnya pada Beidar. Gigi mengakui dalam hatinya, puncak tidak sesuai dengan ekspektasinya (tapi tentu saja dia tidak akan mengakuinya pada Beidar). Tapi saat sampai di atas, ada sedikit rasa bangga dalam diri Gigi. Kebanggaan itu seperti berkata padanya, “Kau sudah berhasil melakukan apa yang manusia lakukan. Dan tidak banyak makhluk sejenismu yang melakukannya,”

Dan Gigi benar-benar terpukau dengan luasnya dunia tempat dia hidup. Selama ini, ia berpikir dunia hanya seluas Hutan Hujan. Memang, ada Hutan Hujan lain yang tidak kita bicarakan dalam kisah ini, tapi pikir Gigi, Hutan Hujan itu masing-masing hanya seluas miliknya. Nyatanya, dunia tak hanya sekadar Hutan Hujan satu dan lainnya, tetapi juga ada perkampungan manusia yang bukan Hutan Hujan dan lapangan biru yang belakangan Gigi kenali sebagai samudera.

“Bisakah kita turun sekarang?” tanya Beidar setelah matahari mulai kembali memancarkan cahaya pertamanya ke kaki Gigi. “Aku sudah kedinginan,” lanjutnya.

“Ah, kau ini. Lihatlah, kita sudah sampai di puncak. Dari sini, matahari terlihat lebih besar. Dan kau lihat tadi bintang-bintang? Tampak lebih jelas dari atas sini.” kata Gigi.

Beidar terlihat tidak tertarik dengan pelajaran astronomi. Ia lebih peduli dengan cakarnya yang membeku dan bulu-bulunya yang kaku karena diembus angin.

“Baiklah, baiklah. Kakiku juga sudah beku dan sakit.” ujar Gigi mengalah saat melihat wajah Beidar yang memberengut sebal. Cakar-cakarnya sudah mulai kaku dan sulit digerakkan. Selain itu, bau busuk dari lembah berair hijau itu telah membuat hidung Gigi tersumbat.

Turun gunung ternyata tidak semudah mendaki. Dengan cakar yang sudah beku karena dingin, Gigi dan Beidar kesulitan berjalan kaki tanpa terpeleset. Berkali-kali mereka terpeleset dan menjatuhkan batu-batu.

Di bawah, lima orang pendaki tengah berjalan menuju titik tertinggi. Saat itu, cuaca berkabut dan badai. Akibatnya, pandangan mereka terhambat dan hanya bisa melihat sampai lima meter ke depan.

Saat tengah berjalan beriringan, mereka terkejut melihat sebongkah batu besar menggelinding dari balik kabut. Beberapa detik kemudian, salah seorang pendaki, yang berbadan lebih gendut dari yang lainnya, bertemu muka dengan Beidar. Karena dipikirnya Beidar adalah makhluk halus penghuni puncak, si gendut menjerit ketakutan. Ia mengeluarkan pisau yang telah ia sarungkan dan diikat di pinggangnya, lalu melemparnya ke Beidar.

Gigi yang menyadari bahaya itu mencoba membantu. Gigi mendorong Beidar agar tidak menjadi target lemparan si gendut. Tapi alih-alih mendorong Beidar ke samping menghindari pisau, Gigi malah terpeleset dan mengenai si gendut. Mereka terguling beberapa meter ke bawah.

Kawan si gendut yang dipaanggil Bro segera berlari turun menyelamatkannya. Tapi setelah berada dekat dengan si gendut dan Gigi, tiba-tiba bebatuan besar terlepas dari cengkraman pasir dan menggelinding tepat ke arah mereka bertiga. Sementara si gendut menggelinding ke samping untuk menghindari longsoran batu, Gigi dan Bro tidak bisa berkutik karena batu-batu seukuran bola kaki itu jatuh lurus ke arah mereka.

Batu-batu itu terus menggelinding ke arah mereka. Salah satu batu melayang tepat ke arah Gigi yang tak dapat menghindar. Gigi berusaha menjauh, tapi cakarnya terlalu panik untuk berlari. Bro yang hanya berjarak semeter dari Gigi mencoba menangkis batu besar itu dengan tangannya seperti seorang atlet tengah latihan bisbol.

Alih-alih kena ujung tangan, batu itu malah meleset ke bahu Bro dan mendorongnya ke arah Gigi. Keduanya terguling-guling ke jurang, dan daya tarik bumi menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.

***

Gigi tidak tahu berapa lama dia pingsan. Tapi saat terbangun, ia mendengar suara auman kemarahan Pak Harimau, ayahnya.

“Dia tidak bermaksud mengambil teritorimu, dia jatuh,” samar-samar, Gigi mendengar suara Pak Harimau. Ia terdengar sedang berdebat dengan harimau lain. Gigi tidak begitu memahami perdebatan mereka, karena suara-suara itu seperti teredam saat sampai di telinganya. Selain itu, suara mereka membuat kepalanya serasa mengembang dan seperti akan meledak.

“Lihatlah, dia jatuh di atas tumpukan sampah. Dan apapun yang sudah berada di sana, kuanggap sampah,” ujar harimau lain yang sedang berdebat dengan Pak Harimau.

“Anakku bukan sampah,” geram Pak Harimau.

“Gigi sudah sadar!” kali ini, Gigi mendengar suara Beidar. Saat membuka mata, Gigi melihat muka hitam jelek Beidar hanya berjarak satu sentimeter dari ujung kumisnya. Kalau saja Gigi tidak mengetahui itu sahabatnya, Beidar mungkin sudah kehilangan moncong.

Dilihatnya Pak Harimau datang dengan wajah penuh kemarahan. Tapi dalam emosi negatif itu, ia juga melihat kekhawatiran. Di sampingnya, ada harimau lain yang sama besarnya dengan Pak Harimau. Ah, pemilik teritori. Ternyata, Gigi jatuh ke jurang dan meluncur sukses ke teritori milik harimau lain.

Begitu Gigi jatuh ke jurang, Beidar segera kembali ke lembah tempatnya tinggal dan memberitahu Pak Harimau tentang peristiwa itu. Ia segera berlari menuruni jurang (seekor kambing hutan memiliki kemampuan naik-turun perbukitan curam dengan sangat baik) dan melupakan kuku-kukunya yang membeku karena dingin. Ia bahkan melupakan badai dan kabut. Beidar tidak pernah berlari sekencang saat itu, apalagi di jalan pasir berbatu. Kuku-kukunya menendang-nendang bebatuan hingga saat dia melintas, dari bawah terlihat seperti hujan batu.

Pak Harimau segera berlari mencari anak jantannya semata wayang itu. Ternyata, dia jatuh ke teritori milik Pak Macan, yang terkenal galak dan kejam. Pak Macan tidak pernah mengizinkan satu mahkluk pun masuk ke teritorinya tanpa izin, terutama hewan sesama pemuncak rantai makanan seperti dirinya. Sehingga, saat melihat Gigi dan seorang manusia merusak lembahnya, tepat ke atas tumpukan sampah yang dikumpulkannya dari para pendaki, Pak Macan punya alasan untuk mengamuk. Minimal, dia bisa memperoleh makanan gratis selama waktu yang disepakati.

Pak Harimau berdebat panjang sebelum akhirnya Pak Macan mengizinkan dia membawa Gigi kembali ke teritorinya. Dengan syarat, si manusia yang jatuh bersama Gigi, yang dari tadi kita panggil Bro, tinggal bersamanya. Sudah beberapa tahun Pak Macan tidak makan daging pendaki yang sembrono.

“Kau bisa berdiri?” tanya Pak Harimau kepada Gigi setelah yakin anaknya itu sadar sepenuhnya. Gigi mencoba berdiri. Keempat kakinya sedikit gemetar, namun ia bisa berdiri dan berjalan perlahan. Seluruh tulangnya terasa sakit, terutama punggungnya. Gigi rasa ada beberapa tulang rusuknya yang patah, tapi itu bisa dibetulkan nanti kalau sudah sampai di sarangnya. Tapi, dia berhasil mengendalikan diri. Tubuhnya tidak terluka parah karena jatuh di atas tumpukan sampah yang empuk.

Sebetulnya, Gigi tidak khawatir dengan tulang-tulangnya yang rusak. Dia lebih khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Dia pasti dimarahi habis-habisan. Selain itu, dia juga ingin sekali berendam. Dia merasa bau sekali setelah tertidur pulas di atas tumpukan sampah. Baunya seperti Beidar.

“Ayo kita pulang,” kata Pak Harimau. Dia memberi kode kepada Beidar, yang masih berdiri ketakutan melihat Pak Macan, untuk mengikutinya pulang.

“Bagaimana dengan manusia itu, Ayah?” tanya Gigi, teringat Bro yang jatuh bersamanya. Dilihatnya, pemuda itu terluka parah di kepalanya. Jaketnya robek dan Gigi bisa melihat darah mengalir dari sebelah tangannya. Kaki kiri manusia itu mencuat ke arah yang tidak seharusnya. Sepatunya hilang satu.

“Dia bukan urusanku. Urusanku hanya membawamu pulang. Ayo,” kata Pak Harimau tanpa menoleh kanan-kiri. Dengan gagahnya dia melangkah meninggalkan Pak Macan yang memberikan tatapan penuh kemenangan.

“Tapi Ayah, dia sudah menyelamatkan aku,” kata Gigi yang tidak tega meninggalkan si pemuda bersama Pak Macan yang terlihat sudah ingin memakannya. Sebetulnya, daging manusia tidak enak-enak amat dimakan. Namun, peristiwa ini sudah mengganggu tidur siang Pak Macan dan jika demikian, dia sudah terlalu malas untuk berburu pada malam hari. Kehadiran Gigi dan Bro menjadi rejeki nomplok baginya.

“Aku tidak mengurusnya. Dia bertanggungjawab atas dirinya sendiri,” kata Pak Harimau. “Manusia adalah makhluk egois dan terlalu ambisius. Penaklukan membuat mereka bangga, tapi tidak peduli dengan makhluk lain. Merusak, menyampah, merambah; mereka lakukan semua itu untuk diri mereka sendiri,” gerutu Pak Harimau. Ia berkata demikian lebih pada dirinya sendiri alih-alih kepada Gigi.

“Dia mungkin tidak jahat. Tapi dia harus menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Kita tidak pernah melarang mereka datang ke hutan untuk mengambil atau melakukan apapun yang mereka inginkan. Tapi, mereka datang menjajah rumah kita tanpa mengembalikannya seperti semula, membunuh hewan-hewan yang bahkan tidak melakukan apa-apa pada mereka. Manusia tidak memperlakukan kita sebaik kita memperlakukan mereka di hutan. Mereka menganggap kita ancaman. Dan manusia terlalu egois untuk mengakui kesalahan mereka terhadap alam.” ujar Pak Harimau lagi.

“Angkat ekormu, ayo kita pulang. Kalau kau punya tenaga sampai ke puncak, kau juga harus punya sisanya untuk pulang,” Pak Harimau berkata keras, mengabaikan tawa jahat Pak Macan.

Gigi menunduk sedih. Ia yakin sekali manusia itu tadi berusaha menyelamatkannya. Dan ia juga meyakini manusia yang ini tidak seperti yang Pak Harimau pikirkan. Tapi, Gigi tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, dia sudah salah dengan nekat pergi ke puncak dan berakhir di teritori harimau lain. Gigi berharap ia jatuh ke teritori harimau lain saja, bukan Pak Macan. Tapi, semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan si manusia.

Perjalanan pulang kali itu adalah yang terlama bagi Gigi. Mereka pulang dalam diam, membuat suasana menjadi sangat aneh. Beidar berusaha meramaikan suasana dengan menyanyi dan mengembik, tapi Pak Harimau menyuruhnya diam dengan suara geraman yang membuat si kambing hutan itu langsung membeku.

“Ayah, di puncak aku melihat lapangan biru yang luas sekali. Apa itu?” Gigi mencoba mengalihkan perhatiannya dari nasib Bro di tangan Pak Macan dan nasibnya sendiri nanti. Ia juga berusaha mengabaikan teriakan teman-teman Bro dari kejauhan yang sampai ke telinganya.

“Manusia menyebutnya samudera. Seperti danau yang luas sekali, tapi asin airnya.” jawab Pak Harimau tak menyadari reaksi Gigi selanjutnya.

Samudera. Nalurinya sebagai harimau muda dan berbahaya kembali muncul. Dia merasa harus melihat samudera itu. Segera! n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s