Puncak Berasa Milik Sendiri

Catatan Perjalanan Kerinci (Bagian 5/habis)

Saya sudah setengah putus asa saat sampai di Tugu Yudha, karena ternyata masih ada puncak di atasnya puncak. Saya pikir, titik tertinggi sudah saya capai, tapi ternyata dia ngumpet di balik kabut.

Pak Tumin dan saya menunggu Bos sembari meluruskan kaki. Kami bersembunyi di balik bebatuan merah jambu yang tersebar di puncak (bayangan) untuk menghindari badai. Sejak dari Shelter 3, ini sudah badai yang kesekian kalinya. Tak dapat saya hitung lagi.

Perjalanan menuju puncak. Ada tiga titik di tengah atas? Itu tiga orang yang sudah lebih dulu mencapai 3.085 mdpl
Perjalanan menuju puncak. Ada tiga titik di tengah atas? Itu tiga orang yang sudah lebih dulu mencapai 3.805 mdpl

Bahkan hingga sampai di puncak pun, badai masih posesif betul pada kami. Tak mau dia berhenti barang semenit pun. Akhirnya ketika sampai di puncak, kami tidak bisa melihat pemandangan indah yang digadang-gadangkan banyak blog dan catatan perjalanan lain.

Dari Tugu Yudha, hanya perlu 20 menit mencapai puncak. Kami? Sudah deh, tidak usah pakai hitung-hitung waktu segala. Yang jelas, lebih lama dari hitungan normal.

Puncak Kerinci tidak seluas Tugu Yudha. Mungkin cuma seluas satu lapangan badminton. Pun tidak lebar. Andai saja tidak badai, kami bisa melihat kawah yang kehijauan. Pemandangan pun bakal sangat indah. Dari puncak Indrapura, pendaki bisa melihat tiga provinsi sekaligus: Jambi, Sumatra Barat dan Bengkulu. Bahkan katanya, dari atas sini kelihatan Samudra Hindia di sebelah barat.

Say goodbye to that view.

Saat sampai di puncak, hari sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Waktu-waktu segini sudah tidak sehat bagi pendaki, karena bau belerang mulai tercium. Kabut tidak meredam bau sulfur menguar dari dasar kawah. Dan saat itu, hanya ada kami bertiga di puncak. Jadiii, berasa milik sendiri. Coba kalau saya cuma berdua dengan mu, aih, pasti romantisssss (mulai lagi).

Setelah beristirahat beberapa saat di puncak dan mengisi perut dengan camilan yang ada, kami pun turun (antiklimaks banget tulisan ini).

Turun ternyata sama sulitnya dengan naik. Ditambah, vertigo saya kambuh saat melihat turunan yang begitu curam. Iya, saya takut ketinggian. Huft.

Badainya posesif
Badainya posesif

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB saat kami sampai di Shelter 3. Waktunya makan siang. Dan saat membongkar bekal, ternyata yang terbawa cuma lauknya. Nasinya ketinggalan di tenda. Deuh. Jadilah kami cuma makan lauk di tengah hujan dan angin kencang.

Karena sudah kehabisan tenaga, kami memutuskan untuk turun gunung pada hari berikutnya dan menginap semalam lagi di Shelter 2 bayangan. Kalau dipaksakan hari itu juga, bisa-bisa kami bertemu dengan si macan berbobot 150 kg atau makhluk asli Kerinci yang setinggi kurcaci, bermuka seperti kera dengan kaki terbalik (nah loh, bagaimana rupanya?).

Perjalanan turun dengan jalur bukan pasir sama sulitnya dengan mendaki, tapi waktu yang diperlukan lebih cepat karena tidak banyak berhenti. Kami menyelesaikan perjalanan Kerinci selama 52 jam. Well, no need to rush, lah.

Meskipun berkali-kali terpeleset, terluka, lecet, memar di sana-sini, senang juga hati ini setelah khatam mendaki bukit belakang rumah. Setidaknya kalau ditanya orang asalnya dari mana dan mengarahkan pembicaraan ke “Sudah pernah ke Kerinci?”, saya bisa jawab dengan kepslok “SUDAH DOOONG!”. <– pendaki amatir banget dengan niat dan pola pikir yang sangat mainstream.

Tapiiiiii, saat diajak lagi ke Kerinci, saya akan menjawab dengan sangat bijak, “TIDAK,”. Jalurnya amsyiong! n c02

DSC_1695

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s