Puncak Bayangan

Catatan Perjalanan Kerinci (Bagian 4)

Sampai di sini, saya berharap para pembaca yang mahardika belum bosan dengan cerita saya. Well, kalau sudah tidak menarik ya bisa langsung close tab.

Melihat matahari terbit dari puncak gunung adalah salah satu yang paling ingin dilakukan oleh setiap pendaki. Dan untuk mendapatkan ini, tidak jarang pendaki harus membayar mahal (yaelah, lebay).

Setelah mengisi perut seadanya, kami pun berjalan menuju Puncak Indrapura. Sebelumnya, kami harus mencapai Shelter 3. Daaaan, perjalanan ke Shelter 3 adalah perjalanan yang seharusnya tidak saya lakukan, karena susahnya naudzubillah. Kalau kata kawan saya, jidat ketemu lutut ya cuma di situ.

Betul kata dia, kita harus punya teknik dasar memanjat pohon, karena jalurnya menuntut begitu. Saya hampir menangis saat melihat ada jalur tingginya menyamai tinggi saya dan harus dipanjat gelantungan seperti Siamang.

Jalur ini membuat saya betul-betul kerepotan. Saya saja kerepotan, apalagi Bos. Dan memang, ada beberapa jalur yang membuat kami (Bos) terhenti lama karena kesulitan mencari celah agar bisa lewat.

Mendaki tanpa tas saja sudah repot dan sulit rasanya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib saya sampai di Shelter 3 kalau kemarin kami memaksakan diri sambil membawa ransel yang beratnya hampir sama dengan berat badan sendiri. Hebat betul orang-orang yang bisa sampai ke Shelter 3 dengan tas di punggungnya (kasih jempol).

Sayang, saya tidak sempat mendokumentasikan jalurnya karena waktu itu kondisinya gelap. Saya juga lupa mengambil gambarnya saat turun karena sudah kehabisan tenaga saat turun. Mana hujan, becek, ga ada ojek….

Kami sampai di Shelter 3 dua jam kemudian (dari waktu normal yang hanya sejam). Matahari sudah terlihat di timur, menyerahkan sinar pertamanya pada hamparan kebun teh yang membentang di kaki Kerinci.

Pemandangan dari Shelter 3
Pemandangan dari Shelter 3

Saat akan melanjutkan perjalanan, kami diadang badai. Pak Tumin mengatakan, Shelter 3 memang selalu diterjang badai. Saat melihat jalur ke puncak (yang sebelumnya harus menyeberang bukit), kabut tebal menutupi jalan.

Angin kencang membuat saya hampir terbang. Kabut berseliweran di sekeliling membuat kacamata saya berembun.

“Lanjut gak nih?” tanya saya pada Bos. Saya bisa melihat keragu-raguan di matanya (cieelah).

“Tunggu kabutnya hilang dulu,” katanya. Benar juga, kabut itu adalah musuh utama pejalan kaki, karena membuat jalan tidak terlihat dan potensi hilang menjadi tinggi.

Saya teringat seorang pendaki asal Bekasi yang hilang di Kerinci pada akhir tahun lalu. Kabarnya, dia hilang saat turun dari puncak yang (mungkin) dalam keadaan badai atau berkabut. Hilangnya pendaki 22 tahun ini disebut-sebut mirip seperti hilangnya Yudha Santika pada 1991.

Setelah menunggu selama beberapa menit, kabut pun hilang. Tapi tak lama kemudian, dia kembali menutupi jalur kami. “Berkabut terus, kita jalan pelan-pelan saja,” kata Pak Tumin.

Untuk mencapai puncak, kami harus menyeberangi bukit kecil yang dipenuhi tanaman edelweiss. Setelah bukit kecil itu, barulah kontur berubah dari tanah menjadi pasir. Kami harus melewati checkpoint yang disebut Batu Gantung dan Tugu Yudha. Setelah melewati dua itu, puncak sudah di depan mata.

Melihat jalur pasirnya, saya sempat lega, karena ternyata tidak seperti Semeru yang sudah kelewat gembur. Jalur pasir di Kerinci masih cukup padat dan tidak begitu licin. Jadi, tidak ada tuh istilah naik selangkah turun dua langkah seperti di Semeru.

Tapiiiii…. ternyata jalur pasir di Kerinci sama melelahkannya dengan jalur Semeru, karena jaraknya lebih jauh. Jalur ini pun juga sama membuat putus asanya seperti jalur ke Mahameru, karena kabut menutupi puncaknya sehingga saya tidak bisa mengira-ngira berapa lama lagi sampai di atas.

Itu baru jalurnya, belum badai yang berkali-kali menerjang, membuat saya kelimpungan. Beberapa kali kami harus berhenti karena angin berhembus dari sebelah kiri.

Batu Gantung ternyata tidak menggantung seperti namanya. Namun memang kalau dilihat dari bawah, bentuknya sih menggantung (adeeeeh, penjelasan apa ini).

“Dari sini ke Tugu Yudha berapa lama lagi, Pak?” tanya saya pada Pak Tumin.

“Ya, kalau jalannya begini sih bisa sejam lagi,” katanya. Padahal dari Shelter 3 ke TKP tempat saya bertanya ini sudah memakan waktu dua jam!

Pemandangan di tengah jalan. Lihat titik kuning di kanan bawah foto? Itu Shelter 3 (foto oleh Oom Setan Martabak)
Pemandangan di tengah jalan. Lihat titik kuning di kanan bawah foto? Itu Shelter 3 (foto oleh Oom Setan Martabak)

Saat sedang asyik beristirahat, saya melihat dua orang berjalan dari atas. Mereka adalah bule asal Jerman (terdengar dari bahasa yang mereka pakai berkomunikasi satu sama lain) yang berangkat sama paginya dengan kami.

Yaampun, ini orang sudah turun lagi, sementara perjalanan kami belum sampai atasnya. Saat si bule melintas, saya hanya bisa melongo sambil berbalas pandang dengan Bos yang jauh di bawah. Dan kedua orang itu membawa ransel mereka yang mungkin beratnya sekira 4 kg.

Melihat si bule membuat saya cukup jiper. Tapi kata orang bijak, janganlah membandingkan dirimu dengan orang lain, karena masing-masing sudah punya kadarnya. Ibaratnya, Tuhan memberi mereka darah sekelas Pertamax Dex, sementara saya cuma Pertalite atau bahkan Premium. Ya sudah, mau bagaimana lagi.

Saya pun melanjutkan perjalanan. Satu jam kemudian, Pak Tumin mengangkat tangannya, sebagai pertanda puncak sudah dekat. Dia menunggu saya di atas sambil duduk menikmati angin kencang dari arah timur.

“Sudah sampai puncak ini, Pak?” tanya saya saat melihat lapangan luas di atas. Luasnya mungkin dua kali lapangan bola. Saya celingak-celinguk mencari kawah.

“Belum, baru sampai Tugu Yudha. Itu puncaknya,” ujar Pak Tumin sambil menunjuk. Kabut ternyata menutupi Puncak Indrapura. Dan seperti adegan dalam sinetron, badai perlahan-lahan berkurang dan kabut menghilang. Seperti sedang main petak-umpet, si puncak pun menunjukkan diri.

Yaampun, puncak di atas puncak? Sialan! n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s