Jalurnya Mulai Posesif

Catatan Perjalanan Kerinci (Bagian 3)

Setelah beristirahat cukup di Pos 1, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Medannya mulai asoy, terdiri dari tangga akar. Waktu yang diperlukan untuk mencapai Pos 2 tidak jauh berbeda dengan perjalanan dari Pintu Rimba menuju Pos 1.

Pak Tumin mengatakan, Pos 1 hingga Pos 3 merupakan jalur lalu lintasnya Harimau Sumatra. Biasanya, mereka lalu-lalang pada sore hari menjelang Maghrib. Jadi, tidak disarankan untuk mendaki atau turun di atas pukul 13.00 waktu Indonesia bagian Kerinci.

“Kita pernah beberapa kali ngeliat, ya takut juga kalau ketemu,” begitu jawaban pria yang memanggil dirinya sebagai ‘kita’ (seperti pejabat-pejabat kalau diwawancara) saat saya tanya apakah pernah bertemu dengan si raja hutan.

Kata dia, ada beberapa tanda yang menunjukkan keberadaan si macan. Pertama, tentu saja jejak kakinya. Tapi, itu tidak akan terlihat kalau tanahnya kering. Kedua, ada kayu yang sengaja dibuat bersilang. Kalau sudah melihat itu, lebih baik segera mendaki ke tempat yang lebih tinggi atau berlari ke permukiman.

Untungnya (dibaca: sayangnya), saya tidak ketemu dengan si pemilik rumah saat berkunjung ke Kerinci. Sepertinya dia tidak menerima kedatangan saya, padahal saya membawa makanan enak dan lezat yang gak bakal habis untuk stok sepekan, hehehe.

Back to route.

Perjalanan ke Pos 3 mulai menunjukkan jati diri Kerinci sebagai gunung yang belum banyak terjamah sepatu Merrel, Salomon, Lowa, Eiger, New Balance, Purekit dan lain-lain (hasil liat gugel). Tanjakan akarnya mulai mengasyikkan.

Tidak banyak yang dapat saya ceritakan dalam perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 menuju Shelter 1. Begitu deh, jalurnya mulai posesif. Selain tanah basah dan licin akibat hujan, sesekali saya juga harus melalui rintangan memanjat pohon tumbang.

2

Jalur yang paling menguras tenaga lahir dan batin adalah jalur dari Shelter 1 menuju Shelter 2. Menurut Pak Tumin, jalurnya merupakan yang terpanjang. Normalnya, pendaki memerlukan waktu dua sampai tiga jam untuk melaluinya. Tapi karena kami bukan pendaki maraton macam Willem Tasian, maka perjalanan menuju Shelter 2 kami khatamkan selama empat sampai lima jam.

Bukan apa-apa, menyelesaikan perjalanan dengan waktu yang normal apalagi abnormal seperti Pak Willem itu sudah mainstream. Yang kekinian adalah berjalan lambat asal selamat. Toh, puncaknya masih di tempat yang sama. <– ngeles aja karena emang jalannya selow dan kebanyakan berhenti.

Setelah beristirahat di Shelter 1 sambil menikmati makan siang, kami berjalan menuju Shelter 2. Jalurnya seperti dari Kalimati menuju Arcopodo di Gunung Semeru. Sesekali ada bonus dataran dan pemandangan bagus, tapi tidak mengurangi kecadasannya. Bahkan, beberapa kali saya harus memanjat dan melalui jalan sempit.

Bagian kiri: tampak dari bawah. Bagian kanan: tampak dari bawah
Bagian kiri: tampak dari bawah. Bagian kanan: tampak dari atas. Coba, gimana caranya bisa naik/turun?

Awalnya, kami menargetkan bisa sampai ke Shelter 3 pada hari itu juga. Tapi mengingat perjalanan kami dilakukan dalam adegan slow motion, maka kami memutuskan untuk menginap di Shelter 2 saja.

Jalur ular
Jalur ular (bukan tempat maen ular)

Tapi, rencana berubah saat kami menemukan Shelter 2 bayangan. Shelter ini semacam shelter kecil sebelum shelter yang sebenarnya (penjelasan tidak bermutu, gaes). Luasannya hanya cukup untuk lima tenda dome dan sejumput tenda mini. Tapi, semua orang akan berebut memasang tenda di shelter ini karena pemandangannya. ALUSSSSS pokoknya mah.

25
Tanpa awan, dari atas sini bisa melihat hamparan kebun teh Kayu Aro (foto masih oleh Oom Setan Martabak)

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Saya tak punya tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Shelter 3. Apalagi, perjalanan ke sana disebut-sebut sebagai perjalanan tersulit di antara yang lainnya (jalur Shelter 1 ke 2 saja sudah begini sulitnya, semacam ikut ujian UMPTN bersaing dengan orang-orang sejenius Einstein). Nah, saya pesimistis bisa sampai ke Shelter 3 tepat waktu. Pun Bos yang terlihat sudah mulai bersantai sambil melihat pemandangan.

Di shelter bayangan tersebut, ada setidaknya lima tenda yang telah lebih dulu terpasang. Empat di antaranya adalah tenda rombongan yang naik bersama saya dan Bos pagi ini, sedangkan satu tenda lain sudah menginap sejak kemarin.

Tenda dipasang, makanan dikeluarkan. Waktunya menabung tenaga untuk melihat rupa Puncak Indrapura. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s