Dimulai dari Pintu Rimba

Catatan perjalanan Kerinci (Bagian 2)

Cuaca cerah kemarin sore ternyata tidak menular sampai keesokan pagi. Hujan deras membangunkan saya setelah alarm henpon gagal membuat saya terjaga.

“Hujan ya?” tanya Bos. Saya mengangguk, menunjukkan muka tidak senang. “Makin mantap kalo hujan,” ujar Bos.

Muka saya makin mengerut. Hujan bukan teman terbaik saat mendaki. Bukannya saya tidak bersyukur dengan kehadirannya, tapi hujan dan mendaki bukanlah pasangan yang klop. Pasangan serasi itu, ya kita. <– mulai deh.

Akhirnya, perjalanan terpaksa ditunda dua jam dari rencana awal pukul 07.00 waktu Indonesia bagian Kersik Tuo. Sembari menunggu hujan, kami beberes dan sarapan pagi.

DSC_1646
Gunung Kerinci dikelilingi perkebunan teh terluas se-Jambi milik PTPN VI

Saat packing, saya menyadari ada yang tidak beres dengan tas ini. Selain volumenya yang membesar dengan bawaan tambahan, juga ada yang tidak terbawa di dalamnya.

Dan betul saja. Jas hujan pamungkas saya KETINGGALAN! Padahal, saya sudah merasa memasukkannya ke dalam tas itu. Meskipun cuma bekas main di Tangkuban Perahu beberapa waktu lalu, jas hujan seharga Rp 15 ribu itu berhasil menyelamatkan saya dari kedinginan saat hujan-hujanan dari Lembang menuju Bandung.

Jas hujan adalah nyawa tambahan bagi saya sebagai manusia yang gampang kedinginan karena minim lemak. Sehingga, mempunyai jas hujan adalah suatu kewajiban. Saya pun mencari-cari nyawa tambahan itu di warung. Puji Tuhan, jas hujan yang sama dijual dengan harga Rp 7.000 di warung sebelah homestay (sial, kenapa di sini harganya lebih murah??).

Setelah memastikan semua perlengkapan tempur masuk ke dalam tas, kami pun menumpang mobil menuju Pintu Rimba. Saat melihat ukuran tas, saya merasa milik saya lebih besar dibandingkan Bos. Tas saya berukuran 40+10 liter dan terisi penuh. Sementara miliknya cuma 35 apa 30 liter.

“Tapi kan gue bawa ini,” katanya sambil memegang perut. Yah, adil deh, adil.

Dalam perjalanan kali ini, kami tidak berdua. Kami ditemani seorang pemandu bernama Pak Tumin. Saya sebut pemandu–bukan porter–karena dia memang bertugas memandu dan menemani perjalanan kami. Kami juga memulai pendakian dengan empat tim berbeda. Lucunya, semuanya dari Bandung dan Jakarta.

Menurut Pak Tumin, sejak awal tahun ini, Kerinci lebih banyak dikunjungi oleh orang-orang dari Jakarta dan Bandung. “Kalau ditanya dari mana, jawabannya pasti kalau bukan Jakarta, dari Bandung,” katanya. Jumlahnya membludak sejak Kerinci populer. Ada juga bule yang datang, tapi tidak sebanyak orang Jakarta-Bandung ini.

Seperti yang telah ditulis oleh banyak blog dan catatan perjalanan, Kerinci memiliki tiga pos, tiga shelter dan dua shelter bayangan. Perjalanan dimulai dari Pintu Rimba dengan ketinggian sekitar 1.400 mdpl. Dari Pintu Rimba menuju Pos 1 alias Bangku Panjang alias Pos Mak Lampir (katanya suka muncul di waktu tertentu), hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit sampai satu jam bagi pejalan biasa.

Selamat datang, jangan lupa pulang, yaa
Selamat datang, jangan lupa pulang, yaa

Jalurnya sih enteng (nah, sombong!) dan banyak bonusnya. Belum terlihat tanda-tanda kegarangan Kerinci seperti yang banyak ditulis orang.

Saat sedang khusyuk berjalan, saya bertanya kepada Pak Tumin di mana kami harus melapor sebelum melakukan pendakian.

“Wah, tadi harusnya di R10, Mbak. Mobilnya enggak berhenti di situ. Enggak apa-apalah, nanti pas turunnya saja melapor,” ujar bapak dua anak ini.

Oke, jadi kami fix sebagai pendaki ILEGAL. Lanjoottt! n c02

Bonus di awal perjalanan
Bonus di awal perjalanan (foto diambil Oom Setan Martabak)
Yaah, ini belum apa-apa (foto oleh Bos Setan Martabak)
Yaah, ini belum apa-apa (foto oleh Oom Setan Martabak)
Advertisements

2 thoughts on “Dimulai dari Pintu Rimba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s