Silaturahim ke Rumah Panthera tigris sumatrae

Catatan Perjalanan Kerinci (Bagian 1)

Saya seharusnya bangga karena di negeri asal saya ada puncak tertinggi kedua di Indonesia. Iyes, di belakang rumah nenek (tapi masih puluhan kilometer lagi di belakangnya, hehehe), ada Gunung Kerinci.

Sekilas info, Kerinci atau Kerintji atau Gunung Gadang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia atau puncak tertinggi kedua di Indonesia setelah Puncak Cartenz (Puncak Jaya) di Pegunungan Jayawijaya. Puncak Kerinci disebut Puncak Indrapura dengan ketinggian 3.805 meter dari atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini terletak di dua provinsi dan tiga kabupaten, yaitu Provinsi Jambi (Kabupaten Kerinci dan Kabupaten Sulak Deras) dan Provinsi Sumatra Barat (Kabupaten Solok Selatan). Informasi sisanya kalian cari sendiri di Google atau buku, yes.

Sebagai akamsi alias anak kampung sini, saya sudah pernah menginjakkan kaki di kakinya (jadi saling injak-menginjak, begitu). Tapi, belum pernah saya menggerayanginya sampai atas.

Tahun ini, saya berkesempatan untuk mendatangi gunung yang termasuk dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) tersebut. Dan di blog ini, saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman berkunjung ke rumah Panthera tigris sumatrae alias Harimau Sumatra tersebut.

Awalnya, saya ingin bercerita yang indah-indah tentang Gunung Kerinci ini. Tapi setelah saya pikir-pikir, sebaiknya saya mengungkap sisi lain dari si Kerinci, supaya tidak banyak pendaki (atau orang yang menyebut diri sebagai pendaki, seperti saya) yang mencoba menaklukkannya. Bukannya supaya tidak ada saingan, tapi agar Kerinci tidak menjadi mainstream seperti gunung lain di wilayah tengah Indonesia yang berujung pada kerusakan ekosistem dan lingkungan di dalamnya (sok iye banget gue!).

Catatan perjalanan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian. Saya harap pembaca yang budiman tidak keberatan dengan gaya tulisan saya yang penuh prosa dan bahasa sastra yang kekinian (baca: lebay).

Tahun ini, tepat 10 tahun saya tidak lagi berdomisili di Sumatra Barat (meskipun KTP masih bermoto ‘Tuah Sakato’). Saya sudah berpindah provinsi untuk melanjutkan tradisi masyarakat Minang, merantau. Jadi, perjalanan saya menuju Kerinci bukan dari rumah, melainkan dari indekos yang terletak di salah satu suduh Kota Bandung.

Melalui surat elektronik (surel), saya dan teman perjalanan saya–kita sebut saja dia Bos–merencanakan perjalanan ini. Sebetulnya, beliau yang lebih banyak merencanakan dan saya hanya mengiyakan. I’m not a good planner.

Satu-satunya akses menuju puncak Kerinci adalah Pintu Rimba yang berada di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Setidaknya, ada dua cara mencapai Desa Kersik Tuo, yaitu melalui bandara di Jambi atau di Sumatra Barat. Karena, lokasi Kersik Tuo berada di perbatasan kedua provinsi tersebut.

Berbekal informasi yang menyebar daring, kami pun sepakat berangkat ke Kerinci melalui Padang. Karena, perjalanannya lebih singkat dibandingkan kalau dari Jambi. Konon katanya, perjalanan dari Jambi bisa sampai 12 jam. Dari Padang, hanya butuh sekitar enam jam untuk mencapai pintu masuk Kerinci.

Cuss pake singa udara. Alhamdulillah, pesawatnya berangkat kok :D
Cuss pake singa udara. Alhamdulillah, pesawatnya berangkat kok 😀

Jadilah kami berangkat Ahad (2/8) pagi dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Minangkabau. Untuk mencapai desa itu, kami menggunakan moda transportasi paling populer di Sumatra Barat: travel.

Di bandara, saya dijemput oleh Bapak yang mengantar kami menuju travel. Bukannya sungkem dulu sama orang rumah, saya malah silaturahim dulu ke rumah macan.

Khalayak pernah nonton Final Destination (yang entah nomor berapa), adegan roller coaster yang tiba-tiba keluar rel dan membunuh hampir semua orang yang ikut di dalam keretanya? Nah, rasa takut yang sama saya rasakan saat naik travel dari Padang menuju Kerinci. Mobil bermerek AVP ini sedang mencontohkan adegan di Final Destination tersebut. Bedanya, tidak ada kecelakaan, tapi risikonya benar-benar nyata. Semacam naik wahana 4D tanpa tambahan pengamanan.

Contoh yang lebih sederhana: bayangkan Paul Walker dan Vin Diesel kebut-kebutan pake metromini/kopaja di jalur puncak. Bedanya, jalurnya kanan jurang, kiri bukit rawan longsor dengan lebar jalan yang cuma cukup dua mobil untuk dua arah.

Betul kata orang-orang (entah orang siapa), belum khatam seseorang menjadi supir kalau belum pernah nyupir jalur Sumatra. Dan abang-abang yang mengantar kami menuju Kerinci ini–yang mengaku bernama Adam (bukan Adam Levine, bukan pula Adam mamasnya Inul Daratista)–mungkin bisa ikut casting Fast Furious 8 sebagai pengganti Paul Walker (andai wajahnya cakep dan perutnya sispek).

Alhamdulillah, saya dan Bos sampai di Kersik Tuo dengan selamat, tak kurang suatu apapun. Meskipun kami dikocok-kocok di dalam mobil dan saya harus menyaksikan salah seorang penumpang berkali-kali muntah, kami sampai juga di mulut petualangan.

Kami beristirahat di homestay terdekat dengan akses menuju Pintu Rimba. Perjalanan sedari subuh membuat stamina menurun dan butuh asupan kasih sayang, eh gizi. Kami memutuskan untuk memulai pendakian pada pagi keesokan harinya. Hari ini, kami cukup memandang puncak Kerinci dari kejauhan.

Dari homestay, puncak Kerinci terlihat malu-malu. Dia memanggil awan untuk menutupi kemegahannya, seperti kamu yang misterius menutupi diri dari aku.

Nah, mulai melantur. And the journey starts in the next chapter!

n c02

Gunung Kerinci
Gunung Kerinci
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s