Abak (3-habis)

Belum dua pekan Abak meninggal, keluarga beliau datang mengundangku untuk pengangkatan datuk baru. Gelar Abak akan diturunkan pada keturunannya yang sesuku. Aku jelas tidak akan memperoleh gelar itu karena tidak sesuku dengan Abak. Kami masyarakat Minangkabau menerapkan sistem kekerabatan matrilineal, sehingga keturunan menurun dari garis ibu.

Keluarga Abak di Abai telah memilih siapa yang akan menjadi datuk selanjutnya. Ialah Umar, putra dari adik perempuan Abak. Usianya masih 30 tahun, seusiaku, tapi sangat dihormati oleh kaum Abak. Orangnya supel dan sangat memahami adat istiadat nagari. Sebelumnya, ia adalah orang kepercayaan Abak. Ia pula seorang dubalang, yaitu pimpinan kaum yang posisinya di bawah penghulu nagari.

Nasri, yang juga merupakan kemenakan Abak, juga disebut-sebut sebagai pengganti beliau. Hanya, Nasri menolak karena kini ia jarang sekali di Abai. Seorang datuk haruslah orang yang paham dan berada di antara kaumnya. Sementara, Nasri telah hidup sebagai abdi negara di Padang. Sehingga, ia takut tidak dapat mempertanggungjawabkan gelar yang dia peroleh. Nasri puas dengan kedudukan sebagai pemberi kabar.

Aku diundang dalam upacara pengangkatan datuk kaum yang baru. Tapi karena jarak dari Muaralabuh menuju nagari Abai yang cukup jauh, aku melewati prosesi penting, seperti pemakaian gelar dan aksi berbalas pantun. Ketika sampai, aku, Nasri dan Rama hanya kebagian pesta. Ada randai pula.

Randai adalah sejenis opera masyarakat Minang. Randai adalah drama kehidupan sehari-hari bercampur dengan tari dan silat. Dulu, aku pernah ikut randai. Bukan sebagai pemain, tapi sebagai penari. Aku juga sering menulis naskah randai untuk pesantren. Berkat randai pula akhirnya aku memutuskan untuk menekuni bahasa dan menulis tugas akhir tentang perbandingan randai dan opera. Dosenku sampai terheran-heran karena masih ada mahasiswa yang mau membahas tentang kebudayaan daerah, alih-alih kajian sastra modern.

Perayaan berlangsung sampai tengah malam. Namun, kami tidak menginap. Amak sendirian di rumah.

***

Rasanya sudah hampir tiga pekan aku di rumah. Aku bahkan nyaris lupa kalau aku sedang mengambil cuti dan harus kembali ke Jerman. Aku teringat kalau waktu istirahatku habis ketika menerima surat elektronik dari universitas. Mereka mengingatkan aku untuk segera membuat laporan tentang mata kuliah yang kuajar. Dan aku sama sekali lupa dengan itu.

Untunglah laporan yang setengah selesai itu kubawa ke rumah. Jadi aku bisa menyelesaikannya sembari berlibur.

Bekerja di kamar tempatmu dibesarkan memiliki nilai tersendiri. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, ketika Amak duduk di sudut tempat tidur dan memelototi aku mengerjakan pekerjaan rumah. Biasanya, beliau menunggui aku mengerjakan pekerjaan rumah sambil mengaji. Kalau tidak, beliau menjahit. Apa saja dijahitnya.

“Kau sedang bekerja?” tiba-tiba suara Amak terdengar di belakangku. Ketika berbalik, aku melihat Amak duduk di sudut dipan seperti dulu mengawasiku belajar.

“Iya, Mak. Laporan harus dikirim lusa,” jawabku.

Amak tersenyum. Beliau diam sebentar, sebelum bertanya kapan aku akan kembali ke Jerman. Wajahnya terlihat sedih ketika menyatakan itu.

“Pekan depan, Mak,” jawabku. Wajah Amak tambah sedih.

“Bagaimana pekerjaanmu di sana?” tanya Amak lagi, setelah lama terdiam.

“Baik, Mak,” ujarku. Aku hening sejenak. “Saya ingin sekali membawa Amak ke sana,” kataku, mencoba menghiburnya.

Amak tertawa. “Mana mungkin Amak ke sana. Mengucap bahasa kita saja Amak sulit. Apalagi bahasa orang,” kata Amak. Bau sirih yang ia kunyah menguar.

“Sesekali Amak harus melihat negeri orang, jangan hanya negeri sendiri,” ujarku.

“Ah, itu adalah cita-cita abakmu. Abak selalu ingin bisa berpetualang ke negeri-negeri jauh, merantau. Tapi niatnya tidak kesampaian karena hatinya tidak bisa meninggalkan tanah ini. Maka, dipaksanyalah anak satu-satunya, ditambah kemenakannya untuk merantau dan melihatkan dunia untuknya. Itu saja sudah membuatnya bangga,” kata Amak. Air mata berlinang di ujung matanya, lalu membuat jalur di pipinya.

Ya, sejak merantau, aku rajin sekali mengirimkan surat berisi foto dan barang-barang yang ada di negeri lain dan tidak ada di kampung kami. Aku mengirimkan bunga tulip (yang mengering saat suratnya sampai), daun pohon ek, pasir pantai di Hamburg, salju (yang sampai di rumah sudah menjadi air), dan barang-barang lain yang ingin dilihat Abak dan Amak. Aku menceritakan seberapa dingin salju, berapa harga beras di Jerman, bagaimana aku memakan babi yang kukira potongan wortel, seperti apa rupa ayam di Jerman, dan hal-hal lain yang membuat Amak dan Abak tenganga membaca suratku.

“Kau, Nasri, dan Rama adalah anak-anak kebanggaan Abak. Abak sudah menjadi ayah buat kau, dan paman buat yatim-piatu Nasri dan Rama. Kalianlah yang harus melanjutkan perjuangannya,” lanjut Amak. Wajahnya sudah banjir air mata mengingat lelaki yang dicintainya itu. Lelaki yang baru dikenalnya tiga hari, lalu memintanya menjadi bagian dari hidupnya.

Aku tahu, Abak sangat bangga pada ketiga pemuda yang dibesarkannya. Meskipun ia tidak pernah memperlihatkan secara langsung, tetapi dalam hatinya selalu menyimpan kebesaran hati dan kasih sayang yang mendalam kepada kami, perpanjangan tangannya ini.

***

Kembali ke Jerman menjadi lebih sulit bagiku setelah Abak pergi. Meninggalkan Amak sendirian, aku merasa seperti anak kurang ajar. Tapi aku toh harus melanjutkan tanggung jawabku di sana, sebagai seorang pengajar.

Mengajar kupilih karena dengan begitu aku bisa menjadi orang yang bermanfaat. Aku selalu teringat pesan Abak ketika meninggalkan aku di Maninjau. “Setiap manusia memiliki jalan menuju kebaikan. Engkau tinggal memilih jalan mana yang mau kaususuri, yang berbelok atau berbatu. Jalan manapun yang engkau pilih, jadikanlah dirimu bermanfaat bagi orang lain. Karena orang yang memberi manfaat kepada orang lain adalah orang yang disukai Allah,”

Memberikan manfaat dengan berbagi ilmu adalah pilihanku saat ini. Namun, aku pun ingin menjadi anak yang bermanfaat bagi orangtuanya. Suatu hari nanti, aku mungkin akan pulang. Harus pulang. (Juni 2014) n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s