Abak (2)

Segera saja Abak dimandikan dan dikafani. Amak menghubungi orang di rumah dan meminta disiapkan liang lahat di tempat yang Abak pesankan. Pukul tujuh pagi, kami langsung berangkat menuju rumah.

Desaku terletak di sebuah kabupaten di selatan Sumatra Barat. Desa yang disebut Muaralabuh ini terletak tidak jauh dari kaki Gunung Kerinci. Jaraknya dari ibu kota Sumatra Barat sekira empat sampai lima jam perjalanan darat.

Karena hari ini Jumat, kami mengejar shalat Jumat di rumah. Karena itulah kami berangkat pagi-pagi sekali. Lagipula, tidak baik berlama-lama membiarkan mayat belum mencium bau tanah.

Aku tidak semobil dengan jenazah Abak. Amak dan Rama di sana. Aku bersama Nasri dan beberapa kerabat lain. Kami beriring-iringan melewati jalur menuju selatan negeri Minangkabau.

Sudah lupa rasanya aku bagaimana nikmatnya perjalanan Padang-Solok Selatan. Dulu, aku selalu minta ikut dengan Abak jika beliau akan ke Padang, mengirim beras. Bukan kotanya yang kucari, tapi perjalanannya. Empat jam melihat pemandangan memesona, membuat aku selalu menyukai perjalanan ketimbang tujuan. Jalur Padang menuju Solok Selatan memiliki banyak titik indah yang selalu membuatku kangen.

Jalurnya yang meliuk-liuk membuat Amak mabuk. Jika sudah naik mobil ke Padang atau sebaliknya, perjalanan kami selalu tertunda beberapa kali karena Amak minta berhenti, mau muntah. Jalan yang berbelok-belok mungkin membuat Amak pusing, seperti naik Colossos, salah satu roller-coaster paling berbahaya di Jerman.

Tapi, Abak selalu pandai mencari titik berhenti. Di pinggir danau, di pinggir hamparan kebun teh, di pinggir sungai, ada saja tempat indah yang disiapkan Abak. Sementara Amak muntah, aku berkodak atau sekadar menghirup udara yang bersih. Sesekali saja kami disalip mobil lain, truk, atau mobil pengangkut bahan bakar minyak atau semen. Nasri, bahkan pernah sempat-sempatnya melukis. Sampai-sampai kami harus berhenti sejam dua jam menunggu dia menyelesaikan lukisannya.
Iring-iringan mobil kami sampai di wilayah Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Kami melewati hamparan kebun teh yang luar biasa luas. Aku menurunkan kaca mobil, dan membiarkan udara dingin masuk ke dalam. Sesegar musim gugur di Jerman.
Melewati itu, kami memasuki daerah Danau Diatas. Danau ini berada di sisi kanan dengan latar belakang bukit cicak. Aku menyebutnya demikian, karena bentuknya memang seperti cicak raksasa yang sedang melata di bukit.

Abak pernah memberhentikan mobilnya di sini ketika Amak mulai mengeluh mual. Sementara beliau mengeluarkan isi perutnya, Nasri berlari menyeberang jalan dan mulai menggambar danau yang ditemani bukit-bukit.

Danau Diatas memiliki kembaran yang lokasinya tidak jauh, namanya Danau Dibawah. Tapi, posisi Danau Dibawah lebih tinggi daripada danau kembarannya. Abak pernah berkata, Danau Dibawah disebut demikian karena permukaan airnya lebih rendah dari Danau Diatas. Jadi meskipun lokasi menuju Danau Dibawah lebih mendaki, permukaan danaunya lebih rendah.

“Kau pernah mengukur permukaan Danau Diatas?” tanyaku kepada Nasri setelah ingatanku berlari pada masa itu.“Kerjamu kan mengukur,”.

Nasri tertawa terbahak-bahak ketika aku membuatnya bernostalgia dengan melukis danau. “Aku tidak pernah ingat membawa alat pengukur ketika ke danau. Lagipula, biarkan saja pernyataan Angku menjadi kepercayaan bagi kita. Yang aku sesalkan sampai sekarang adalah tidak pernah melukis Andung yang sedang muntah,” kata Nasri.

Aku tertawa mendengarnya. Sebetulnya, Nasri pernah melukis ekspresi Amak ketika muntah. Tapi Amak mengambilnya dan memarahi Nasri ketika ia memperlihatkan hasil gambarnya. Sejak itu, dia tidak berani lagi melukis Amak. Tidak secara langsung. Belakangan, Nasri mengatakan kalau lukisan itu masih disimpan oleh Amak.

Kami sampai di desaku pukul dua belas siang. Segera, kami berangkat ke surau untuk shalat Jumat sekaligus shalat jenazah. Lalu, Abak dimakamkan di pemakaman desa, tidak jauh dari surau.

Surau yang dulu sering kudatangi untuk mengaji kini sudah berdiri lebih kokoh. Dulu, surau ini hanya dibangun dari bilah kayu dan ruang seadanya. Sampai aku meninggalkan nagari, surau ini bertahan dengan kondisinya tersebut. Hari ini, aku melihat surau telah menjadi lebih bagus dengan dinding beton kokoh dan kubah. Ukurannya juga lebih luas, sehingga menampung lebih banyak jamaah.

***

Tiga hari berturut-turut rumah kami ramai siang dan malam. Tidak hanya sanak saudara, tetangga pun datang ke rumah untuk mengucapkan duka sedalam-dalamnya. Keluarga besar Abak yang tinggal di nagari Abai pun tiba. Baru hari keempat, rumah kami mulai sepi.

Barulah ketika itu aku betul-betul melihat rumahku, yang sudah aku tinggalkan selama satu dekade. Tidak berubah. Masih rumah panggung dengan kolam besar di samping rumah. Kamarnya masih empat berderet, seperti ruang di rumah gadang. Bedanya, rumah kami tidak ada tiang utama.

Pohon jambu yang sering kupakai bermain bersama Nasri dan Rama masih berdiri. Kini, sudah bertambah pohonnya. Pohon kelapa masih berderet di ujung kolam, sebagai batas rumah dengan halaman rumah tetangga. Halaman masih luas, dengan satu lumbung padi di belakang, dekat dapur.

Lantainya masih kayu, begitu pula dinding dan pintunya. Abak enggan merenovasi rumah. Hanya memperbaiki yang rusak saja, demikian kata Nasri. Dapur pun masih terpisah dari rumah utama, dan masih pula memakai kayu. Amak mempunyai kompor gas, aku menghadiahkannya saat pertama kali pemerintah menggadang-gadangkan konversi minyak tanah ke gas, tapi jarang dipakai. “Amak tidak paham memakainya,” kata Amak.

Duduk di depan rumah melihat jalanan yang gelap adalah favoritku. Kadang, aku dan kawan-kawan di depan bermain saluang dan rabab. Kadang gitar. Kampung yang sepi itu menjadi ramai oleh pemuda. Kadang kami bermain sampai tengah malam. Sampai Abak memarahi dan menyuruh teman-temanku pulang. Kalau tidak dituruti, Abak mengunci pintu dan kami terpaksa tidur di surau. Paginya, kami disuruh sekalian bersih-bersih surau.

Aku dikenal sebagai bujang bengal. Tidak jarang aku menginap di surau bersama ustaz, itikaf sepanjang malam. Atau menghafal Alquran. Kalau tidak, aku belajar rabab atau saluang. Bersama beberapa kawan termasuk Nasri, kami dipesantrenkan.

Meskipun sudah masuk pesantren, kami masih saja bengal. Pernah suatu hari aku dan kawan-kawan mendaki Gunung Kerinci. Waktu itu, pesantren sedang libur sepekan, tapi kami tidak boleh pulang, karena sebelumnya berbuat hal yang dilarang ustaz. Aku dan tiga kawan berangkat mendaki Gunung Kerinci. Kami kabur di malam hari sambil membawa obor dan senter. Kami hanya membawa bekal seadanya. Nasri tidak ikut karena dia masih terlalu kecil. Tapi kami mengancam agar dia diam.

Namun, Nasri mengkhianati kami. Dia mengadu pada ustaz yang segera melapor kepada Abak. Jadilah Abak menyusul kami ke gunung bersama ustaz. Awalnya aku pikir hal itu tidak mungkin karena Abak bukanlah seorang pendaki. Tapi Abak sampai juga di Kerinci. Ketika kami turun dari puncak Kerinci usai melihat matahari terbit, kami melihat Abak dan ustaz di tenda. Mereka memasang wajah paling seram daripada harimau Sumatra.

Pengalaman itu buatku tidak terlupakan karena aku dihukum habis-habisan, baik oleh pesantren maupun oleh Abak. Aku dan kawan-kawan disuruh membersihkan kamar mandi selama dua bulan. Jatah pulang dihapus selama itu. Dan aku, hanya aku, dikirim Abak ke pesantren di Maninjau.

Saat itu adalah saat terburuk dalam hidupku, karena belum pernah sekalipun aku tinggal jauh, sangat jauh dari keluarga. Meski masih satu provinsi, rasanya dikirim ke Maninjau seperti dikirim ke neraka. Padahal, merantau adalah kebanggaan bagi seorang pemuda Minang.

Abak berharap aku berubah menjadi lebih baik saat diasingkan ke Maninjau. Tapi, kebengalanku tidak berhenti sampai di situ. Bisa dikatakan, aku tidak bisa jauh dari Amak. Berpisah sehari dua hari saja dengan perempuan itu membuatku sakit kepala. Pernah saking kangennya dengan Amak, aku nekat pulang ke rumah. Aku menaiki truk sayur dari Maninjau ke Padang, lalu dari Padang menebeng truk pengangkut bahan bakar ke Solok, lalu ke rumah. Sampai di rumah, jangankan memeluk Amak, aku dilempar Abak ke dalam kolam ikan. Abak berteriak-teriak marah, mengatakan aku telah mempermalukan keluarga dengan cara ini, lalu menyuruhku kembali ke Maninjau dengan pakaian penuh lumpur.

Untungnya, Amak meluluhkan hati Abak dan meminta aku tinggal selama beberapa hari, lalu kembali ke Maninjau. Sendirian. Di sana, aku dihukum. Tapi, hukuman itu aku nikmati, karena aku sudah puas bersua dengan Amak.

Aku tidak menyesali perbuatan itu. Berkat dipesantrenkan jauh dari keluarga, aku belajar banyak hal. Apalagi aku dipesantrenkan di negeri Buya Hamka. Aku akhirnya mendapatkan beasiswa dan sampai ke Jerman. Tapi tentu saja kenakalanku tidak berkurang, meski tidak seintens ketika di rumah. (bersambung) n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s