Abak

“Uda, Angku masuk rumah sakit lagi. Pulanglah, Uda,”

Demikian kata sepupuku, Nasri, melalui pesan elektronik yang dikirimnya pagi ini. Singkat saja, tapi buatku sangat menyayat hati. Abak, ayah, jatuh lagi. Ini sudah untuk yang ketiga kalinya dalam enam bulan.

Sudah sejak lama Abak harus berjuang melawan segala jenis virus yang menyerangnya. Mungkin sejak terakhir kali aku melihatnya, Abak sudah sakit. Tapi Abak menyimpan penyakitnya di dalam tubuhnya yang renta namun kuat. Penyakit itu juga disembunyikannya melalui tawa kerasnya yang khas.

Pertamanya, Abak mengaku hanya sekadar kelelahan akibat mengurus sawah. Kemudian, beranjak makin parah. Abak jatuh di tengah sawah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Katanya, stroke ringan. Kemudian, kondisinya terus fluktuatif.

Tahun ini baru sampai Bulan Juni. Tapi, Abak sudah tiga kali menginap di rumah sakit. Kali pertama hanya dua hari. Kali kedua empat hari. Kali ini, Nasri bilang sudah hampir sepekan.

Dulu, saat Abak pertama kali pasang cincin karena serangan jantung, aku tidak berada di sisinya. Pun halnya saat Abak pasang cincin kedua, tiga tahun kemudian. Bukan aku tidak mau pulang, Abak justru tidak mengatakan kalau dirinya dirawat. Aku baru tahu kala Nasri melapor, sepekan setelah operasi.

Abak memang tidak pernah mau mengadu hal-hal menyedihkan di kampung halaman. Kata beliau, apalah artinya kabar duka yang hanya membuat orang merajuk dan menyesali keadaan.

Sebagai kemenakan yang selama ini dibimbing Abak, Nasri sangat penurut. Nasri menurut apa kata Abak. Kalau tidak boleh, ya tidak boleh. Lain denganku yang tumbuh sebagai pembangkang.

Tapi sejak Abak memasang cincin kedua, aku mengancam Nasri untuk terus mengabari tentang kondisi Abak. Dan memang setelah waktu berlalu, Nasri tampaknya justru lebih takut kepadaku daripada kepada Abak. Secara berkala, dia melaporkan apa yang terjadi di kampung halaman. Pernikahan, kabar duka, kabar kelahiran kemenakan, pertengkaran, perceraian, sampai hal remeh-temeh.

Kali ini, Nasri melapor lagi. Bukan untuk hal yang tidak penting, tapi kabar yang membuat aku harus pulang. Dan dari cerita-ceritanya yang lalu, kondisi Abak semakin memburuk. Apalagi, kali ini Abak sudah dirawat cukup lama di rumah sakit. Dan seringnya Abak mengigau tentang aku. Bujangnya semata wayang.

Segera aku mengurus keperluan pulang. Setelah sekian lama bergelut di tanah Bavaria, akhirnya aku menginjakkan kaki di Indonesia lagi. Dari Jakarta, aku langsung mengambil penerbangan ke Padang, Sumatra Barat. Di bandara Soekarno-Hatta, aku berjumpa dengan sepupuku, Rama. Dia adalah adik Nasri yang juga dibesarkan bersamaku oleh Abak. Kami akan pulang ke Padang bersama-sama.

Terakhir kali aku bertemu dengannya, Rama masih sangat kecil. Aku masih ingat ketika Amak menyuruhku menjadi pengasuh anak yang masih ingusan ini. Aku mengajaknya ke sawah dan menakut-takuti Rama dengan ular yang aku dan Nasri tangkap di sawah. Sejak hari itu, Rama lari kalang-kabut kalau melihat ular.  Aku juga ingat ketika menjahili Rama yang penakut itu di balai tengah sawah. Tengah malam, aku mengajaknya duduk di balai sambil menunggu hantu suluh, hantu yang terlihat seperti api di bukit. Lalu, aku meninggalkan dia sendirian dan membuat suluh sendiri, dan mendatangi balai. Rama lari terkencing-kencing mengadu kepada Amak. Aku ingat dihukum membajak sawah berhektare-hektare selama musim tanam sampai aku merasa hampir mati karenanya.

Kini, Rama sudah menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka di Indonesia. Aktivis pula. Evolusi Rama benar-benar membuatku terperagah, karena dia yang hari ini sangat jauh berbeda dengan dia yang kukenal dulu.

Perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju bandara di Padang hanya memerlukan waktu satu setengah jam. Selama perjalanan, aku dan Rama berbagi cerita apa yang sudah terjadi di ibu kota. Rama yang kukenal sebagai penakut itu hilang sudah. Yang ada sekarang adalah Rama seorang aktivis yang kerjanya melakukan aksi sana-sini memperjuangkan hak rakyat. Khas mahasiswa.

Saat sedang asyik mengobrol, kudengar pramugari melaporkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Dari atas, kulihat bandara kecil dengan bangunan beratap khas masyarakat Minangkabau. Bandara Internasional Minangkabau, demikian orang-orang menyebutnya.

Berbeda dengan bandara di Jakarta yang padat dan sumpek, bandara ini cukup bersih dan nyaman. Mungkin, karena bandara itu masih anyar. Meskipun kecil, bandara tersebut padat oleh orang, baik yang akan pergi maupun baru sampai di bandara. Ada pula orang-orang yang menanti atau melepas sanak saudara yang akan pergi. Tidak sedikit calo bandara dan supir taksi tembak yang menunggu penumpang, pun kuli angkut yang menunggu barang.

Aku dan Rama sudah dinanti Nasri di gerbang kedatangan. Dia sudah berada di bandara bahkan sebelum pilot pesawat yang aku tumpangi selesai makan siang.

Sebelum aku berangkat ke Jerman, Nasri masih anak sekolah berseragam putih-abu yang pemalu. Kini, dia telah bertransformasi menjadi laki-laki berperawakan tegas. Rambutnya klimis, wajahnya bersih, dan pakaiannya rapi. Saat bertemu, Nasri masih memakai seragam cokelat khas baju pegawai negara. Di papan namanya, tertulis gelar yang selama ini dicita-citakannya: insinyur.

“Bagaimana perjalanan Uda?” sapanya saat kami bertemu. Ia menyalamiku dan merangkulku seperti baru saja menemukan keluarga yang hilang. Yah, aku memang hilang 10 tahun terakhir.

“Aman,” kataku singkat. Aku dan Nasri besar bersama-sama di bawah pengawasan Abak. Orangtua Nasri dan Rama meninggal dalam kecelakaan saat kami masih sangat kecil. Tidak ada di antara kami bertiga yang ingat persis dengan kejadian itu, kecuali mungkin Rama, karena dia adalah salah satu korban kecelakaan.

Saat itu, Nasri sedang berada di rumahku dan Rama terlibat dalam kecelakaan itu. Entah keajaiban apa yang membuat Rama tetap hidup, sementara orangtuanya meninggal di tempat.

Sejak saat itu, keduanya tinggal bersama kami. Aku tentu senang, karena aku anak satu-satunya dan merasa kesepian. Meskipun Abak membesarkan dengan sikap otoriternya, kami tumbuh dengan sifat yang sangat berbeda. Nasri adalah laki-laki yang tenang dan selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin. Berbeda sekali denganku yang meledak-ledak, bahkan senang mengambil keputusan berdasarkan emosi. Nasri terkenal penurut, sementara aku anak pemberontak.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah sakit, kami bertukar cerita. Banyak sekali hal yang bisa dibagi setelah 10 tahun tidak bertemu. Nasri telah menjadi seorang pegawai negeri sipil. Tugasnya di bidang pekerjaan umum. “Saya sekarang mengukur jalan saja kerjanya,” kata Nasri, bercerita betapa pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur. Ia memaksaku untuk ikut dengannya nanti, melihat-lihat jalanan baru mana saja yang telah ia bangun.

Abak dirawat di sebuah rumah sakit umum di Padang. Jadi, kami bertiga langsung melaju ke rumah sakit menggunakan mobil kantor Nasri. Setelah sampai, Nasri mengatakan kalau dia harus kembali ke kantor. Ia akan kembali ke rumah sakit begitu jam kerja usai.

Rumah sakit yang kudatangi ini juga sudah berubah rupanya. Dulu, tempat ini hampir tidak layak disebut rumah sakit. Kini, tempatnya sudah jauh lebih baik dan pelayanannya pun cukup menggembirakan. Ayahku terbaring di ruangan ICU. Dari luar, aku melihat Abak ditemani oleh Amak, sebutanku untuk ibu. Dua orang yang telah menjadikan aku seperti sekarang. Bagaimana rupa mereka sekarang?

Aku mengetuk pintu ICU dan masuk ke dalam. Amak menolehkan kepala, lalu menangis. Beliau berlari dan memelukku sampai aku sesak napas.

Amak telah banyak berubah. Tubuh kecilnya yang dulu kuat, kini rapuh. Kulitnya telah mengeriput, tanda-tanda penuaan. Wajah manisnya yang dulu kutinggal masih menyejukkan, kini berubah suram. Tapi, Amak masih memiliki senyum cantik yang sama. Dan bau yang sama. Bau yang membuatku selalu ingin berada di sampingnya.

Perubahan serupa juga dialami Abak. Abak yang dulu tinggi besar dan tegap, kini terbaring lemah. Rambutnya telah memutih, kulitnya mengeriput. Selang dipasang hampir di seluruh tubuhnya; hidungnya, mulutnya, tangannya. Matanya tertutup. Sekeliling matanya menghitam. Dadanya naik-turun.

“Anak Amak pulang,” kata Amak begitu melepasku dari pelukannya. Matanya merah, air mata membanjiri pipinya. “Bagaimana kabar waang, Nak?”

“Alhamdulillah, Mak. Saya sudah lega bertemu Amak,” kataku, si anak hilang.

Amak menceritakan secara singkat kondisi terbaru Abak. Beliau baru saja tertidur. Aku membiarkannya. Masih banyak waktu menyapa ketika Abak terbangun. Sementara itu, aku dan Amak menghabiskan hari untuk saling berbagi kabar. Aku menceritakan keadaan di Jerman dan pekerjaanku. Sementara, Amak menceritakan semua yang terjadi selama aku pergi.

Baru menjelang Maghrib, Abak terbangun. Aku tahu ada kebahagiaan di dalam dadanya ketika ia melihat anak semata wayangnya pulang. Anak lelaki yang ia banggakan setiap bertemu dengan orang.

“Bilo waang tibo? (Kapan kau sampai?)” tanya Abak dengan suara sangat pelan, sampai aku harus mendekatkan kupingku ke mulutnya. Aku menjawab pertanyaan Abak. Beliau tersenyum, kemudian menutup matanya. Tidur lagi.

Begitu saja kerja Abak setiap hari, kata Amak. Bangun sebentar, minta ini atau itu, lalu tidur lagi. Kalau sudah tidak bisa tidur, Abak ingin mendengar orang mengaji. Suara mengaji Amak adalah favoritnya. Aku pun menyukai suara Amak mengaji. Ketika mengaji, Amak seperti bernyanyi.

Malamnya, Amak memintaku pulang ke rumah Nasri. Tapi entah mengapa aku tidak ingin pulang. Aku ingin menemani Abak sepanjang malam.

Amak pun terus berada di sisi Abak, mengaji. Kulihat, Amak mengaji dengan kitab yang beliau dapatkan ketika ijab-qabul pernikahannya dengan Abak. Kitab itu sudah lusuh, namun masih jelas bacaannya. Kitab itu adalah kesayangannya. Aku pernah membelikan Amak kitab baru, tapi tak pernah disentuhnya. Dipakainya hanya kalau pergi takziah ke rumah tetangga yang meninggal. Yang dibacanya dari kitab itu pun hanya surat yasin.

Amak memang sangat pandai mengaji. Beliau bahkan lebih paham membaca huruf Arab ketimbang membaca latin. Membaca koran saja beliau bisa berjam-jam. Kadang-kadang, Amak memaksa aku yang membacakan untuknya. Tapi kalau mengaji, Amah sudah khatam di luar kepala.

Sekira pukul dua malam, Abak terbangun minta diambilkan air. Amak sedang lelap sehabis mengaji, sehingga aku terjaga kalau-kalau ada apa-apa pada Abak. Aku mengambilkan air untuk Abak dan meminumkannya.

“Abak senang waang pulang. Jadi Abak tidak khawatir,” kata Abak, setelah bersusah payah menyeruput air putih dari sedotan. Napasnya terdengar berat dan tersengal.

“Apa yang Abak khawatirkan?” tanyaku.

“Abak letih, Nak. Abak ingin pulang,” ujar Abak. Pernyataannya membuatku terkesiap. Pulang?

“Abak sudah menanti-nanti kehadiran engkau. Abak ingin kau menjaga ibumu karena Abak akan pulang. Abak tidak tega meninggalkan dia sendirian,” kata Abak. Perkataannya terbata-bata. Sesekali ia kesulitan bernapas.

“Apa yang Abak katakan? Tidak usahlah Abak khawatir. Abak akan pulang dan sembuh,” kataku.

“Tidak, Nak. Dia sudah memanggil. Tidak ada pula yang Abak cari lagi di sini. Engkau sudah sukses. Nasri dan Rama sudah lepas dari tanggung jawab Abak. Kini, tugas engkau melanjutkan. Jadikan hidupmu berguna untuk orang lain. Janganlah engkau berkeluh kesah karena kepergian Abak. Karena nanti kita akan bersua kembali,” kata Abak. Aku yang tidak pernah menangis sejak usia sembilan tahun, tidak tahan juga menahan bendungan air mata.

Amak terbangun dari tidur. Aku tidak tahu apakah beliau mendengar pembicaraan kami. Namun, Amak kemudian tidak tidur lagi. Ia mencuci muka dan berwudu. Kemudian, Amak membantu Abak bertayamum di atas tempat tidur. Lagi, Amak mengaji. Yaasin.

Abak kemudian tertidur. Setelah azan Subuh berkumandang, tubuh Abak dingin. (bersambung) n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s