Move On Bersama Pesawat Kertas

Drama antara orangtua dan anak selalu menarik untuk dibuat film. Cerita tentang persoalan dua generasi ini seperti tidak lekang oleh waktu.

Tema ini pula yang dicoba diangkat sutradara Robert Connolly melalui film Paper Planes (2015). Adalah Dylan Webber, seorang anak yang tinggal di barat Australia, yang terobsesi mengikuti kompetisi dunia pesawat kertas. Berawal dari pelajaran di sekolahnya tentang membuat pesawat kertas, Dylan ingin sekali memenangkan kompetisi itu.

Kompetisi pesawat kertas ini hanya penyambung cerita yang sebenarnya. Hubungan Dylan dan ayahnya tidak begitu baik sejak mereka ditinggal mati ibunya akibat kecelakaan. Sang ayah kehilangan semangat hidup dan tidak mempedulikan lingkungan di sekitarnya, termasuk Dylan.

foto oleh vimeo
foto oleh vimeo

Dylan terus mencoba mengajak ayahnya merelakan sang ibu, tapi si ayah yang dibintangi oleh Sam Worthington (Avatar) ini tidak juga bisa move on dari rasa kehilangan. Bahkan, gelar juara se-Australia pun tidak dapat membuat ayahnya mau membagi hidupnya kembali untuk anaknya.

Akhirnya, Dylan pergi sendiri untuk mengikuti kompetisi dunia pesawat kertas yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang. Di ajang ini, dia berkenalan dengan juara dunia asal negara matahari terbit itu, Kimi. Keduanya berbagi filosofi tentang kompetisi pesawat kertas dan seni melipat.

Akhir cerita film ini mudah sekali ditebak. Dylan memenangkan kompetisi dan hati ayahnya sekaligus. Dylan juga berhasil mengambil hati Kimi dan membuat rivalnya sesama warga Australia tersadar bahwa kemenangan bukanlah segalanya dalam sebuah kompetisi. Tapi yang namanya film drama, tentu dibuat sedramatis mungkin agar pesan seringan itu bisa dicerna oleh penonton. Biar ceritanya seru, tentu saja.

Tema yang sederhana tapi selalu berhasil menggugah air mata, begitu saya menyimpulkan setelah menonton film berdurasi sekitar satu jam 36 menit ini. Bahwa, hasil bukan segalanya dalam sebuah kompetisi, tetapi proses dan bagaimana kamu mencapai hasil itu. Bahwa, sesuatu akan terasa lebih berharga saat kamu merelakannya (pergi) dan melanjutkan hidup untuk memperjuangkan apa yang dimiliki saat ini.

Pada akhirnya, sang ayah menyadari terkurung dalam kesedihan tidak akan membuat istrinya kembali. Satu-satunya yang dia miliki adalah Dylan, dan itulah yang harus dia jaga sebaik-baik mungkin.

Selain tentang ayah dan anak, film ini juga bercerita tentang perundungan. Di sekolah, Dylan sering dirundung oleh teman sekelasnya. Tapi, sikap ramah dan istiqomah Dylan membuat si perundung ini justru berbalik menjadi mate-nya.

Rotten Tommatoes menilai 80 persen untuk film ini meskipun skornya hanya 6,6/10. Tapi, IMDb cuma menilai 6,3/10. Banyak yang memuji cerita film yang sederhana namun sarat makna ini. Padahal, film under-dog yang bercita-cita tinggi itu sudah banyak sekali sejak film pertama kali dibuat.

Di box office Australia, film ini menghasilkan 9,61 dolar juta Australia. Tidak tahu deh kalau di Indonesia. Bagi penyuka drama, film ini layak tonton, terutama jelang akhir liburan sekolah. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s