Jangan Campuri Urusan Tuhan

Pernahkah khalayak mengalami kejadian bertemu atau kembali berkomunikasi dengan orang yang sudah lama sekali tidak pernah kalian ajak bicara? Kira-kira apa yang kalian bicarakan pertama kali selain kabar?

Pada suatu hari, seseorang mengirimkan pesan di jejaring sosial milik saya, meminta kontak. Saya pun memberikan kontak tersebut kepadanya melalui pesan elektronik. Tidak lama kemudian, dia pun mengontak ke nomor yang saya berikan.

Reaksi pertama saya adalah bingung. Karena, hal pertama yang dia tanyakan adalah. “Kamu sudah menikah?”

Menurut prosedur operasional standar (SOP) silaturahim, hal pertama yang kita tanyakan kepada seseorang setelah lama tidak berjumpa atau berkomunikasi adalah, “Apa kabar?” Iya kan? Tanpa tedeng aling-aling, kerabat saya ini menanyakan hal yang tidak bisa saya jawab.

Well, sebetulnya bisa saya jawab “Sudah,” atau “Belum,”. Tapi karena dengan kondisi saat ini saya harus menjawab belum, dia pasti akan melancarkan pertanyaan kedua.

Ada dua kemungkinan pertanyaan yang diajukan (ini macam pelajaran peluang). Pertama, dia (mungkin) akan bertanya, “Kenapa belum menikah?”. Kedua, dia akan bertanya, “Trus kapan menikah?”.

Nah, siapa yang bisa menjawab? Saya bisa saja menjawab seperti yang disarankan portal daring terpopuler senusantara,

Orang: Kapan menikah?
Saya: Kalau tidak Sabtu, ya Ahad.

atau

Orang: Kapan menikah?
Saya: Undangannya sih udah ada, tapi nama calon laki-laki/perempuannya belom diisi.

Tapi kan tidak lucu rasanya menjawab seperti itu. Gak intelek (alahh).

Karena, menjawab pertanyaan semacam itu bukan kuasa saya. Bisa saja saya menjawab misalnya, saya ingin menikah tahun ini. Tapi kan saya hanya bisa berencana, karena yang menentukan adalah Yang Maha Oke, kan? Kalau saya yang tentukan, namanya mendahului takdir.

Pertanyaan semacam ini untuk beberapa orang adalah pertanyaan sensitif. Orang akan mengerut kayak tanaman putri malu kalau ditanya begitu, apalagi yang kenyataannya memang belum menikah. Bukan berarti setelah khalayak menikah lalu bisa menlontarkan pertanyaan, “Kamu kapan nyusul?”

Beberapa orang bahkan bersikap lebih frontal jika ditanya soal ini. Kalau orang seperti saya memilih untuk diam saja atau menjawab dengan tawa, ada orang-orang yang akan langsung curhat di lini masa dengan tulisan yang dikepslok (eh, ini saya juga lagi curhat denk, hahaha).

Dan bagi orang yang belum menikah, bukan berarti mereka tidak berusaha. Mereka (termasuk saya) punya alasan-alasan tertentu untuk berada dalam kondisi saat ini. Dan kondisi setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jalan takdir yang sudah digariskan.

Menurut saya, bertanya “Kapan kamu menikah?” itu sama seperti bertanya “Kapan kamu mati?” atau “Kapan kiamat tiba?”. Karena, ketiganya sama-sama urusan Yang Maha Oke. Tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi.

Jadi, marilah bagi saudara-saudara yang sudah pernah mencicipi nikmatnya surga dunia atau yang sudah melengkapi separuh agamanya, jangan tanyakan hal itu pada orang di sekitar kalian. Kalian cuma perlu membaca tanda, misalnya (kalau ketemu) kalian bisa lihat apakah dia memakai cincin kawin. Kalau tidak ketemu, kalian ya tidak perlu bertanya. Cukup laksanakan saja SOP silaturahim, “Apa kabar?”. Basa-basi, tapi tidak menyakiti.

Akhirnya, pesan kawan lama itu hanya saya baca. Seharusnya kalau saya sedikit lebih terang mata (antonimnya gelap mata), mungkin saja dia mengajak saya menikah. Kira-kira begini percakapan imajinernya,

Orang: Kamu sudah menikah?
Saya: Mm… belum.
Orang: Kenapa belum?/Trus kapan menikah?
Saya: Belum waktunya./Doain aja.
Orang: Kalo nikah sama saya mau gak?
Saya: ….

Bisa saja kan? Tapi sayangnya, percakapan itu tidak pernah terjadi. Karena begitu dia mengajukan pertanyaan pertama, saya langsung hapus kontaknya. n c02

PS: Artikel dari kawan saya ini @murda_dwie mungkin sedikit membantu mencerahkan khalayak tentang apa yang sebaiknya jangan ditanyakan saat pertama kali bertemu setelah sekian lama putus silaturahim. Please, be a smart person.

Advertisements

One thought on “Jangan Campuri Urusan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s