Sahabat Betulan Mary dan Max

Dulu sebelum telepon seluler diciptakan, surat-menyurat menjadi salah satu cara orang berkomunikasi. Kantor pos digandrungi orang yang berkirim surat. Sampai-sampai, antrean di kantor pos bisa seperti antre sembako. Perangko menjadi benda seni bernilai tinggi, terutama yang sudah dicap pos.

Sebelum LINE menciptakan fitur ‘find alumni’, majalah dan surat kabar punya kolom sahabat pena. Dalam kolom itu, seseorang mencantumkan biodata dirinya dan menawarkan diri menjadi sahabat pena bagi siapapun yang mau menulis.

Mendapat surat dari seseorang asing yang tidak kita kenal itu dulu sangat menyenangkan. Menunggu tidak sabar surat sampai ke tangan penerima, lalu dibalas dan disertai barang-barang pemberian sahabat pena seperti foto atau potongan daun atau apapun yang bisa dijadikan hadiah.

Ini pula yang dilakukan oleh Mary Daisy Dinkle (8 tahun), seorang anak perempuan asal Australia yang kesepian. Ia dijauhi teman-temannya karena memiliki tanda lahir berwarna cokelat seperti kotoran. Di sekolah, ia ditertawakan teman-temannya karena tanda lahir itu.

Pada suatu hari, Mary diajak ibunya ke kantor pos. Saat sang ibu sibuk dengan urusannya, Mary melihat buku alamat. Buku itu berisi nama orang-orang yang tinggal di Amerika Serikat (AS) berikut alamatnya. Mary pun mencuri satu nama untuk dia jadikan sahabat pena.

mary-and-max-1

Adalah Max Jerry Horowitz (44), nama yang beruntung Mary catat. Oleh Mary, Max ditanyai soal kehidupan di AS. Mary pun bercerita tentang dirinya di Australia. Ia bercerita, kalau di Australia, seseorang dapat memiliki anak dari dalam kaleng bir. Kemudian Mary berpikir apakah di AS seseorang bisa mendapatkan anak dari dalam kaleng cola, mengingat orang AS suka sekali dengan cola.

Max, seorang Yahudi ateis, merasa terkejut dengan surat dari Mary. Kedatangan surat dari Mary itu membuat penyakit panik sebagai bagian dari sindrom aspergernya kambuh. Namun setelah makan sandwich cokelat dan berjam-jam berpikir, Max pun membalas surat Mary. Mereka pun akhirnya bersahabat lintasbenua.

Cerita di atas adalah sedikit spoiler dari film ‘Mary and Max’ yang rilis tahun 2009. Film yang dibuat dengan sistem animasi stop motion ini disutradarai oleh Adam Elliot dan suaranya salah satunya diisi oleh Eric Bana. Meskipun tidak box office, film ini mendapat beberapa penghargaan dan diganjar 8,2 dari IMDb dan 95 persen oleh Rotten Tomatoes.

Tau film stop motion kan? Semacam The Nightmare Before Christmas atau yang paling baru itu Shaun the Sheep.

Beberapa kali menontonnya tidak membuat saya bosan, karena ceritanya sederhana sekaligus kompleks. Beberapa adegan sedih dibuat dengan sangat lucu, tapi juga menyentuh kalbu (alahh).

Film ini mengajarkan kita tentang sulitnya orang-orang yang ‘berbeda’ memiliki orang lain untuk berbagi. Juga tentang ketulusan dalam persahabatan dan menerima orang apa adanya. Dan menceritakan rasa sepi, kesedihan, dan kesendirian.

Hal yang membuat saya tertohok adalah ketika Mary mengirimkan buku disertasinya tentang sindrom asperger kepada Max. Kala itu, Mary menggunakan Max sebagai objek penelitian, yang membuat Max merasa dimanfaatkan. Kata Max, apa yang ia derita bukanlah penyakit dan dia tidak butuh disembuhkan. Max memutuskan hubungan dengan Mary dan tidak pernah menulis lagi padanya.

Lalu, Max bertemu dengan seorang gelandang yang membuang puntung rokok sembarangan. Max merasa marah karena hal itu dan mencekik si gelandangan. Lalu tiba-tiba saja saat itu, Max menyadari Mary bukanlah manusia sempurna. Seperti dirinya, seperti si gelandangan. Akhirnya, Max memaafkan Mary dengan menghadiahinya koleksi mainannya.

Max menyadari bahwa tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Dia pun tidak seharusnya merasa marah pada Mary karena semua orang membuat kesalahan. Hanya memaafkan yang dapat memperbaiki itu semua.

Love-yourself-first1Persahabatan Max yang tulus ini juga bisa menjadi pelajaran bagi penonton. Pada akhirnya, Max begitu menghargai persahabatannya dengan Mary dengan menempelkan seluruh surat-surat Mary di langit-langit apartemen miliknya. Bahkan, surat itu ia laminating agar tidak rusak. Max pun menyimpan seluruh hadian dari Mary, mulai dari gambar dirinya ketika kecil hingga kiriman sebotol air mata.

Buat yang belum bisa menerima orang apa adanya, film ini cocok ditonton untuk menyadari betapa tidak ada orang yang sempurna. Kita cuma perlu menerima orang seperti adanya dirinya (ini ngomong sambil ngaca). n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s