Kisah si Banun dan Sarungnya

Ketika Banun lahir, ia dihadiahi sebuah sarung oleh dukun beranak yang membantunya keluar dari liang lahir. Si dukun berpesan, sarung ini adalah hadiah untuknya dan harus dijaga baik-baik karena banyak fungsinya.

Maka sampai jadi pemuda, sarung telah menjadi fesyen Banun. Kecuali ke sekolah, Banun selalu memakai sarung kebanggaannya. Sejak diberi tahu ibunya, Banun selalu menganggap sarung ini keramat. Orang-orang tentu saja tidak percaya, apa hebatnya sarung pemberian dukun beranak.

Banun tidak peduli. Ia merasa memiliki hubungan batin dengan sarungnya. Ia selalu tahu apa yang terjadi pada sarungnya jika tidak sedang dipakai. Misalnya, saat sang ibu mencuci sarung itu. Pada saat yang sama, tanpa sengaja Banun jatuh ke sungai dan nyaris terbawa arus yang deras. Waktu itu, Banun tengah memandikan kerbau usai membajak sawah.

Ah, itu hanya kebetulan, ujar sang ibu saat Banun menceritakan kejadiannya nyaris mati terbawa arus. Kau tidak hati-hati dan terpeleset. Tepat pula air sungai naik dan membuat kau terbawa arus, lanjut ibunya.

Banun tetap teguh dengan pendiriannya. Ia yakin hampir tenggelam karena saudara kembarnya, si sarung, direndam dan dicuci.

Kejadian kedua membuat Banun semakin yakin. Kala itu, Banun tengah asyik duduk di pondok, menjaga sawah dari burung-burung yang hendak memanen padi untuk makannya sendiri. Tidak hujan, cuaca tidak pula terlalu panas. Awan mendung menggelayut di atas kepala, membuat suasana menjadi adem.

Tiba-tiba, petir menyambar pondok tempat Banun duduk. Pondok itu roboh seketika, membuat Banun tertimbun kayu dan atap jerami. Untunglah Banun tidak mati tertancap kayu atau apapun yang tajam dari pondok itu. Ia hanya menderita luka-luka di kaki dan tangannya.

Pasti ibu sedang berbuat sesuatu pada sarungku, itu pikiran pertama yang terlintas di benak Banun.

Banun akhirnya dievakuasi oleh petani yang berada tak jauh dari pondoknya. Bersama beberapa orang lain, pondok tersebut disingkirkan dan Banun diungsikan.

Sesampainya di rumah, Banun ingin bertanya kepada ibunya telah diapakan sarungnya. Tapi sebelum sempat Banun bertanya, sang ibu sudah menyela lebih dulu.

Jangan kau bilang kejadian ini karena ibu sudah melakukan sesuatu pada sarungmu. Hari ini dia tidak diapa-apakan, kata ibunya setengah cemas, setengah kesal. Dengan cekatan, ibunya merawat luka-luka anak semata wayangnya.

***

Semakin ia dewasa, semakin ia menyayangi sarung pemberian si dukun beranak. Saking sayangnya dengan benda itu, Banun memberinya nama. Namanya Petir.

Nama ini dipilihnya lantaran motif sarungnya yang menyerupai petir. Selain itu, sarung itu sangat hebat kekuatannya, seperti petir.

Sang ibu awalnya membiarkan saja keintiman antara Banun dan si Petir. Tapi lama-lama, ibunya jengah juga. Terutama, setelah kejadian Banun hampir disambar petir. Sejak kejadian itu, Banun jadi sangat posesif dengan sarungnya. Ia tidak membiarkan siapapun menyentuh sarung itu, bahkan untuk sekadar memindahkannya.

Beberapa kali ibu merayunya untuk mengganti sarungnya. Sarung tenun itu telah lapuk dimakan usia dan warnanya pun sudah pudar, bikin malu kalau dibawa ke keramaian. Tapi, Banun menolaknya. Baginya, si Petir adalah nyawa. Kalau Yunani punya Atlas sebagai pelindung langit dan lautan punya kraken, ia punya si Petir sebagai pelindungnya dari segala marabahaya.

Saking sebalnya, sang ibu bahkan pernah mencoba melenyapkan si Petir. Namun, intuisi Banun yang kuat akan si Petir berhasil menggagalkan makar yang dilakukan sang ibu.

Tidak cuma menyembunyinya, sang ibu juga pernah mencoba merobek-robeknya, membuangnya, bahkan membakarnya. Tapi, Banun selalu berhasil menyelamatkan si Petir. Setelah berkali-kali mencoba, sang ibu pun menyerah.

“Kubawa sarung ini sampai mati,” janji Banun setelah sang ibu mengangkat bendera putih tanda menyerah untuk menyingkirkan sarung keramat itu.

“Terserah kaulah,” ujar sang ibu menutup perkara.

Entah saat itu Tuhan sedang berbaik hati atau tidak, sampai juga Banun pada janjinya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, Banun pulang larut malam. Seperti biasa, Banun memilih jalan pulang melewati pematang sawah untuk memotong agar cepat sampai. Saat sedang asyik dengan pikirannya, Banun mendengar suara jeritan.

Jeritan itu berasal dari tengah sawah yang sedang mekar. Karena gelap, Banun tidak dapat melihat siapa yang menjerit itu. Tapi iya yakin, si pemilik suara adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian.

Saat sedang khusyuk mendengarkan suara jeritan itu sambil berjalan perlahan, Banun tidak sengaja tersandung. Ternyata kaki.

Dengan penerangan bulan yang belum penuh, Banun melihat sosok besar sedang menindih sesuatu. Sesuatu itu bersuara lirih, antara kesakitan dan dilanda kenikmatan. Tapi, ia menjerit sesekali dalam lenguhannya.

Banun tidak mengenali keduanya, tapi kemudian ia melepas sarungnya. Ia gulung sarung itu dan dijadikannya sebagai senjata.

Dengan tangkas, Banun melecutkan sarung miliknya ke orang yang penindih. Orang itu menjerit, merasa kegiatan indahnya diganggu. Ia kemudian melepaskan si tertindih dan melihat siapa pengganggu.

Seketika itu, Banun menyadari si tertindih adalah seorang anak gadis, dan si penindih adalah pemuda yang dikenalnya. “KAU!” teriaknya kepada Banun.

Si pemuda melayangkan pukulan ke Banun, namun berhasil ia tangkis. Pukulan kedua kembali dilayangkan, kali ini Banun gagal menghindar. Ia terpelanting ke tengah sawah. Sarung masih dipegangnya kuat-kuat.

Banun tidak menyerah. Dipakainya si Petir untuk melemahkan si pemuda. Ia lilitkan sarung itu ke lehernya, lalu diputarnya kuat-kuat. Lilitannya membuat si pemuda kehilangan napasnya. Saat nyaris mati, si pemuda menendang tulang kering Banun, yang membuatnya melepaskan lilitan.

Banun lengah, si pemuda pun melarikan diri meninggalkan gadis yang diperkosanya di tengah sawah bersama Banun.

Dilihat Banun, gadis itu cuma memakai BH dan tidak bercelana dalam. Dengan sarungnya, Banun menutupi tubuh si gadis yang menangis sesegukan.

Sebetulnya, Banun enggan memberikannya kepada si gadis. Tapi, ia tidak mungkin membiarkan perempuan itu berjalan bertelanjang bulat.

Setelah lepas dari syok, si gadis memakai sarung pemberian Banun karena pakaiannya sendiri hilang entah ke mana. Banun membantunya bangkit dan mengantarnya pulang.

Namun saat di jalan pulang, tiba-tiba dari jauh terlihat puluhan obor. “Itu mereka!” teriak seseorang.

Rupanya, si pemuda yang tadi menjadi pelaku perkosaan pergi mencari massa dan mengatakan kalau Banun telah memerkosa anak gadis orang.

Banun yang tidak tahu apa-apa hanya bisa bengong. Ia tidak punya kekuatan apa-apa kecuali kaki dan tangannya sendiri. Sarungnya sedang dipakai si gadis.

“Kau haram jadah, kau apakan anakku?” pekik seorang laki-laki tua. Di tangan kanan, ia memegang sebuah celurit untuk memanen sawah.

Sebelum Banun sempat membela diri, celurit yang dipegang si bapak telah melayang ke arahnya. Banun berhasil menghindar, tapi ia gagal menghindari benda lain yang dilempar padanya. Batu, panci, pisau dan benda-benda lain yang bisa dibawa dari rumah.

Setelah serangan alat-alat rumah tangga, Banun diserang dengan pukulan dan tendangan. Darah mengucur dari hidungnya, kemudian dari mulutnya, lalu dari telinganya. Setelah Banun tidak lagi mampu bergerak, satu per satu orang meninggalkan dia.

“Kaulepas sarung itu,” ucap bapak si anak gadis. Ia menyerahkan sarung miliknya kepada anaknya itu.

Sarung milik Banun ia remas-remas sampai berbentuk bola, lalu dilemparnya ke kepala Banun yang setengah berdiri. “Matilah kau, jadah!” kata si bapak, lalu meninggalkan Banun begitu saja. Dan lima menit kemudian, Banun mati di bawah sarungnya. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s