Gak English, Gak Kece!

“I welcome you all the great leaders the tiger of Asia and lion of Africa. Today I have a great assignment from our great President of Indonesia to read the Dasasila Bandung, the Bandung Statement of 1955 Asia Africa Conference,”

Demikian sepenggal awal sambutan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyambut kehadiran pimpinan negara-negara Asia dan Afrika di Gedung Merdeka, Bandung, Jumat (24/4). Dalam waktu singkat, pidato itu tersebar secara viral dan membuat pria yang akrab disapa Emil itu mendunia.

Emil bahkan dibanding-bandingkan dengan Presiden Joko Widodo yang berpidato setelahnya. Bukan isi pidato yang dibandingkan, melainkan pemakaian bahasa. Sepanjang pembacaan Dasasila Bandung, Emil menggunakan Bahasa Inggris, sementara Presiden Joko Widodo (Jokowi) konsisten berbahasa Indonesia, seperti pada pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta Convention Center (JCC), beberapa waktu lalu.

Tidak sedikit yang memuji Emil yang saat itu fasih berbahasa asing. Meskipun, sesekali terdengar aksen Sunda di antara kalimat yang dibacakannya. Sedangkan, Presiden Jokowi membacakan pidato berbahasa Indonesia, tak ketinggalan aksen Jawanya yang kental.

“Ridwan Kamil pidato pakai bahasa Inggris, presiden pakai bahasa Indonesia, ga malu?” tulis seorang netizen di akun jejaring sosial miliknya.

Netizen lain berkomentar, “Bangga melihat pidato Ridwan Kamil yang pakai bahasa Inggris. Daripada Jokowi pakai bahasa Indonesia,”

Komentar-komentar ini menggelitik saya. Karena, yang berkomentar ini adalah pemuda-pemudi yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa. Mereka adalah orang Indonesia. Lahir di Indonesia, besar dengan Bahasa Indonesia.

Terlepas dari KAA sebagai pertemuan tingkat dunia yang dihadiri oleh pimpinan dari berbagai negara, tidak ada yang salah dengan pidato presiden yang menggunakan bahasa nasional. Toh, konferensi dilakukan di Indonesia, dia orang Indonesia dan presiden juga terikat undang-undang.

Penggunaan bahasa ini diatur Pasal 28 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pasal 28 menyebutkan, Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri.

Jadi secara teknis, apa yang dilakukan Presiden Jokowi sudah benar. Kalau kita niat meneliti, mungkin tidak semua pimpinan negara fasih berbicara dan mendengar orang berbahasa Inggris. Seperti yang kita lihat, banyak di antara tamu undangan yang menggunakan alat bantu penerjemah.

Berpidato menggunakan bahasa Indonesia, bukan berarti presiden kita tidak bisa berbahasa asing. Beberapa kali saya melihat presiden ke-7 ini berbicara dalam forum menggunakan Bahasa Inggris.

Tapi, saya juga tidak mengatakan kalau Emil salah berbahasa Inggris. Peringatan ke-60 tahun KAA adalah panggung bagi wali kota ini. Sejak jauh-jauh hari, Emil sudah mempercantik Kota Bandung untuk menyambut hari besar KAA. Perbaikan dilakukan di sana-sini demi sekalimat pujian dari delegasi KAA. Tentu saja panggung singkat pembacaan Dasasila Bandung adalah momen berarti baginya.

Semua kembali pada seberapa dalam nasionalisme pemuda dan pemudi Indonesia. Seharusnya, rasa cinta kepada bangsa juga ditujukan dengan kebanggaan menggunakan Bahasa Indonesia, dan saya rasa celaan pada presiden yang berpidato bahasa nasional tidak perlu sampai jadi //trending topic// di jejaring sosial.

Ini saya sampaikan bukan karena saya pro-Jokowi, lho. Terlepas dari fakta menyedihkan dari presiden kita ini, saya lebih sedih dengan celaan pemuda Indonesia terhadap pemakaian bahasanya sendiri. Mereka anggap gak kece kalau tidak berpidato dengan bahasa internasional. Padahal, saat mendapatkan pengakuan kedaulatan RI dari Ratu Juliana di Belanda, pimpinan kita Mohammad Hatta bangga berpidato dengan bahasa nasional.

Satu hal yang masih menggelitik pikiran saya adalah apakah para pemuda-pemudi yang senang mendengar Emil membacakan Dasasila Bandung dengan Bahasa Inggris ini paham? Apakah mereka memaknai apa yang disampaikan Emil di sepanjang lima menit tersebut? Atau jangan-jangan, mereka malah menerjemahkan dulu kalimat Emil dengan aplikasi Google Translate ke Bahasa Indonesia?

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s