Menumpang Tidur di Kandang Batu

Lama tidak menulis membuat otak agak tumpul. Mengarang cerita saja saya sulit, apalagi melaporkan tugas.

Oke, mari kita coba lagi menulis.

Setelah agak lama tidak menginjakkan kaki di perbukitan, akhirnya saya ikut mendaki bersama beberapa kawan kantor. Setelah rapat konsolidasi yang dilakukan melalui blackberry multichat, diputuskan kami akan berangkat naik Gunung Pangrango.

Saya tidak ikut memutuskan sih, cuma bilang, “Saya ikut, ke manapun,”.

Saya diberi tahu ada hampir 10 orang yang berangkat. Tapi, di lapangan, hanya tujuh orang. Itu juga satu orang nambah pada H-1.

Awalnya, kami akan berkumpul Jumat (19/12) malam. Tapi, karena masih banyak yang harus bekerja di hari Sabtu (20/12), perjalanan terpaksa diundur jadi Sabtu sore atau malam. Di situ, saya agak ragu untuk melanjutkan ikut, karena perjalanan melalui Cibodas menuju Kandang Badak saja memakan waktu sekitar lima jam. Itu saya bareng bos BESAR, lho. Nah, ini ada hampir 10 orang yang mau ikut, jalan malam pula. Mau sampai jam berapa?

Tapi karena saya sudah memutuskan untuk tidak menjadi labil, saya tetap ikut. Sudah bilang ikut, lho, masa dibatalkan.

Dari tujuh orang, hanya dua laki-laki. Untungnya, hanya satu orang yang membawa tas kerir yang berisi makanan, tenda, matras, dan perlengkapan tim. Jadi, para perempuan tidak punya tanggung jawab buat bawa tas berat itu. Hehe.

Kami berjalan mulai dari pos pertama pada pukul 23.00 Waktu Indonesia Bagian Cibodas (WIBC). Karena beberapa di antara kami ada yang masih baru mendaki (jadi teringat 2009, ketika pertama kali mendaki, sama mengeluhnya, hehe), kami berhenti beberapa kali. Apalagi, kawan yang membawa perlengkapan kami juga sering tertinggal di belakang.

Ternyata perjalanan malam itu tidak menyenangkan, ya. Selain membatasi perjalanan menjadi lebih lama, jalan malam juga membatasi penglihatan. Tidak ada yang bisa dilihat kecuali lampu senter dan kunang-kunang.

Seperti yang sudah saya duga, perjalanan memang sangat lama. Kami sampai di Kandang Batu sekitar pukul 04.00 WIBC dini hari. Di sana, kami beristirahat sejenak sebelum memutuskan untuk lanjut atau tidak.

Beberapa teman sudah terlihat kelelahan dan mengantuk, termasuk saya, karena belum pernah mendaki malam. Saya meminta teman-teman untuk pasang tenda di Kandang Batu saja, karena sudah sangat mengantuk (egois banget). Selain itu, berdasarkan informasi dari pendaki yang sudah ada di lokasi itu, Kandang Badak sudah sangat penuh.

“Mending pasang tenda di sini aja. Yang tadi sampai kandang badak saja turun lagi, karena gak dapat tempat,” kata si pendaki yang tidak diketahui namanya.

Atas alasan itu, saya bilang pada yang lain untuk berhenti di Kandang Batu saja. Memang, perjalanan sampai puncak masih jauh. Tapi kalau dipaksakan, nanti jadinya ya seperti pendaki yang lain. Lagipula, kantuknya sudah tidak tertahankan.

Disepakatilah kami memasang tenda di Kandang Batu. Setelah tenda terpasang, semua tidur. Satu tenda bertujuh.

Hari sudah menunjukkan pukul 08.00 Waktu Indonesia Bagian Kandang Batu (WIKB) ketika saya akhirnya terbangun. Alarm sudah menjerit-jerit sejak pukul 07.30 WIKB.

Setelah semua terbangun, kami menyiapkan sarapan untuk bekal sebelum mendaki ke puncak. Semua peralatan tempur dikeluarkan. Sekitar pukul 09.00 WIKB, kami bersiap menuju puncak.

Tapi, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Karena, saya tahu fisik saya takkan sanggup untuk melanjutkan ke puncak. Pasalnya, saya masih kurang tidur. Malam sebelum berangkat ke Pangrango, saya tidak tidur cukup.

Saya takut drop di tengah perjalanan dan menyusahkan yang lain. Jadi, lebih baik saya jaga tenda saja, jadi kami tidak perlu membawa perlengkapan sampai ke atas. Mendaki membawa semua perlengkapan cukup memberatkan.

“Lo jauh-jauh ke Cibodas cuma pindah tidur?” ujar kawan baik saat saya ceritakan apa yang saya lakukan selama menunggu teman-teman muncak. Lalu, setelah itu dia menceramahi saya panjang kali lebar kali tinggi.

Teman-teman akhirnya sampai puncak sekitar pukul 03.00 Waktu Indonesia Bagian Puncak (WIBP). Dan ternyata, mereka tidak sampai di puncak Pangrango, melainkan Gede.

Cuaca saat itu tidak bersahabat. Langit mendung, dan hujan pun turun. Persis ketika teman-teman dari puncak sampai di tenda, hujan turun dengan lebatnya. Kami yang tadinya mau makan dulu, urung. Akhirnya diputuskan untuk langsung turun.

Ampun, tidak bisa saya bayangkan bagaimana rasanya kaki teman-teman yang baru turun dari puncak itu. Pasti sakitnya tuh di sini *nunjuk lutut.

Perjalanan kami berlangsung selama 24 jam. Kami sampai di pos pertama pada pukul 22.00 WIB dalam kondisi basah. Yup, sepanjang perjalanan, hujan tidak berhenti. Alhasil, kami turun dengan risiko gelap dan licin. Tapi syukurlah, kami sampai dengan selamat. Tapi tetap, kami turun malam.

Pelajaran pendakian kali ini: jangan mendaki di musim hujan. Kalau nekat, tanggung risiko sendiri.

Saya ingin meminta maaf kepada teman-teman, karena sudah egois tak mau ikut ke puncak. Terima kasih untuk perjalanan yang mendebarkan namun menyenangkan itu. Lain kali kita rencanakan perjalanan yang lebih bersahabat, ya….

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s