Nonton Langsung dan ‘Live’ on TV

Seumur-umur, baru dua kali saya diajak ke keramaian. Kali pertama, saya diajak seorang kawan ke konser Iwan Fals yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Monas, pertengahan 2014. Kawan saya ini memang penggemar berat si Virgiawan ini.

Kali kedua, adalah saat menonton pertandingan final Indonesia Super League (ISL) antara Persib Bandung dan Persipura Jayapura. Tidak, saya tidak menonton langsung pertandingan itu di Jakabring, Palembang. Saya dan kawan saya ini nonton bareng di Balai Kota Bandung, Jumat (7/11).

Saya adalah orang yang paling tidak suka dengan keramaian. Sekali tiba di tempat yang ramai, kepala ini rasanya pusing. Apalagi, melihat orang yang begitu banyak berseliweran kesana-kemari.

Tapi, demi teman yang jauh-jauh datang untuk menonton, saya rela menemani.

Keramaian di konser dan nonton bareng memang sangat berbeda. Kalau di konser, penonton bernyanyi selaras dengan nyanyian si artis di panggung. Kalau nonton, nyanyian penonton berhubungan dengan klub yang mereka bela. Kasus saya, mereka menyanyikan lagu ‘Halo-halo Bandung’ yang dimodifikasi.

Iwan Fals dan Persib Bandung memiliki satu kesamaan, yaitu mereka memiliki fans fanatik. Yang satu dinamakan OI atau (berdasarkan keterangan kawan saya yang penggemar Iwan Fals) Orang Indonesia. Sementara, yang satu lagi disebut /bobotoh/.

foto oleh @tribunnews
foto oleh @tribunnews

Setiap kali mereka menggelar acara (konser atau pertandingan), penggemar fanatik mereka ini pasti selalu menggalang massa. Mereka melakukan arak-arakan sambil membawa bendera dan mengibar-kibarkannya di jalanan. Tidak sedikit di antara penggemar fanatik ini yang melanggar aturan lalu lintas. Biasanya, mereka melakukan arak-arakan sambil menggeber-geber motor dan tidak menggunakan helm.

Selama ini, saya lebih suka menonton konser melalui televisi atau media /youtube/. Melalui media ini, saya tidak perlu repot-repot berdesak-desakan dengan fans lain hanya untuk mendengar pemusik kesukaan saya menyanyi secara langsung. Di TV atau /youtube/, saya bisa mendapatkan suasana konsernya, si penyanyi menyanyi secara /live/, bahkan saya bisa melihat wajah si pemusik dengan sangat jelas dan /close up/ (terima kasih kepada kameraman).

Kalau datang langsung ke konser, boro-boro bisa melihat si pemusik dari dekat. Yang ada, saya juga menonton dari layar raksasa di samping panggung. Belum lagi harus berdesak-desakan dengan penonton lain yang berkeringat dan bau rokok dan bau ketek.

Ketika akhirnya menonton konser secara langsung, saya dan kawan saya itu tidak bisa masuk lebih ke tengah lagi. Penggemar Iwan Fals sudah terlalu memadati sekeliling panggung. Akhirnya, kami menonton dari jauh.

Kawan saya ini mungkin memang sudah sering menonton konser. Dia menyerahkan sebuah teropong mini yang dapat dipakai untuk melihat si pemusik ‘dari dekat’. Yeah, dari dekat. Kreatif juga.

Upaya ini untungnya tidak dilakukan oleh kawan saya yang mengajak nonton bareng Persib di Balai Kota Bandung. FYI: dia sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung demi menonton Persib. Kata dia, “Biar terasa euforianya,” (Kalau mau terasa, harusnya kan ke Palembang saja, kan?).

Kami sudah datang setengah jam sebelum pertandingan dimulai. Kala itu, lapangan di balai kota masih belum begitu padat dan masih bisa memilih tempat ternyaman untuk nonton. Kami pun memilih tempat yang pas, tidak dekat, tidak pula jauh dari layar.

IMG02725-20141107-2129

Ada empat layar raksasa yang disediakan panitia untuk menonton Persib versus Persipura. Dalam setengah jam, lapangan balai kota padat oleh /bobotoh/. Jangankan untuk mencari tempat yang lebih nyaman, untuk meluruskan kaki saja sudah tidak bisa. Mungkin, saat itu, balai kota berisi ratusan ribu orang. Dan mereka menonton di empat layar berukuran cuma lima kali lima meter.

“Beda, kan, suasananya kalau nonton langsung,” ujar kawan saya. Entah bagaimana, keduanya mengucapkan hal serupa.

Iya sih, beda suasananya kalau menonton langsung dan menonton ‘langsung’ via TV. Euforia yang didapatkan sangat berbeda. Belum lagi kalau lagu populer dinyanyikan, atau ketika klub kesayangan mencabik gawang lawan. Beda, beda betul.

Tapi, cukup sudah saya menonton langsung dua kali ini saja. Padatnya orang itu cuma berarti satu hal: macet. Jangankan untuk mengeluarkan sepeda motor dari parkiran, mengeluarkan diri dari lokasi konser/nonton saja tidak bisa. Belum lagi potensi kena copet di tengah padatnya manusia. Belum lagi potensi terpisah dari kawan yang mengajak nonton. Belum lagi… ah sudahlah.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s