John Wick The Assassin

Hal pertama yang terpikir oleh saya setelah menonton film terbaru Keanu Reeves adalah: jangan mencuri mobil dan membunuh hewan milik orang lain. Pesan moralnya sederhana sih, tapi film ini cukup menghibur.

Tanpa membaca sinopsisnya terlebih dahulu, saya mengajak teman saya menonton film ‘John Wick’. Alasannya? Sederhana: karena pemeran utamanya adalah Keanu Reeves.

Siapa sih yang meragukan aktingnya Reeves? Sebut saja, Speed, The Matrix, The Lake House, dan 47 Ronin. Itu film-film yang berhasil membuat saya terkagum-kagum sama aktor satu ini. Yah, meskipun ada filmnya yang kurang menarik, wajah tampannya tidak pernah mengecewakan, hehehe.

foto oleh: comingsoon.net
foto oleh: comingsoon.net

Kembali ke film.

Saya menilai, film John Wick tidak mempunyai cerita yang kuat. Ceritanya sepele dan menurut saya tidak ada isinya. Si John Wick baru saja kehilangan istrinya karena sakit. Lalu, istrinya memberi kejutan dengan mengirimkan dia seekor anjing bernama Daisy.

Saat dia merasa ada harapan, yaitu dari si Daisy itu, tiba-tiba si anjing dibunuh oleh anak gangster Rusia. Pun mobilnya yang konon klasik itu diambil oleh si Rusia, Iousef.

Dunia gangster pun geger. Iousef ini ibarat membangunkan macan lapar yang sedang tidur, karena John Wick adalah mantan pembunuh profesional. “Dia pernah membunuh tiga orang dengan pensil,” ujar Viggo Tarasov, ayahnya si Iousef.

Tidak rela kehilangan anjing dan mobilnya, John Wick pun kalap dan akhirnya memburu si Iousef. Berbekal senjata dan koin emas yang ditanamnya di lantai rumah, John Wick membuat New York City menjadi medan tempur.

Segitu sajalah spoilernya, ya. Sisanya tonton sendiri.

Aksi John Wick ini mengingatkan saya pada Kenshin Himura yang dipancing kembali menjadi /battousai/ alias pembunuh oleh Shishio Makoto. Tapi, toh pada akhirnya keduanya (Himura dan Wick) berhasil tidak benar-benar kembali ke masa lalu mereka yang kelam. Pesannya, cinta perempuan selalu berhasil membuat seseorang yang jahat kembali ke jalur yang benar.

Film yang berdurasi 101 menit ini sih tidak bagus-bagus amat alurnya. Tapi, /packaging/ yang dibuat oleh si sutradaralah yang membuat saya bertahan sampai habis. Apik sekali.

Si John Wick tidak banyak omong, tapi cukup beraksi, tembak sana, tembak sini. Betul-betul seperti sedang main Counter Strike (yailah, jadul amat).

Kalau teman saya bilang, filmnya lebih mirip The Raid: umbar darah. Betul sih, karena unsur darahnya lebih terlihat daripada film aksi lain seperti Die Hard atau James Bond.

Rotten Tomatoes saja memberi peringkat 86 persen dengan nilai 6,9/10. “Stylish, mendebarkan, dan sangat sembrono. John Wick melayani kembalinya aksi apik Keanu Reeves–dan tampaknya ini akan menjadi yang pertama dari waralaba John Wick,” kata Rotten Tomatoes.

Yah, film yang sukses menembus nomor wahid di Box Office biasanya akan berakhir menjadi /franchise/. Saya tidak yakin John Wick bakal ada sekuelnya. Tapi kalau film pertamanya saja laku, ya pasti ada film kedua. Biasanya, si pemeran utama dapat tugas dari orang berpengaruh, yang akhirnya menyeret dia (lagi) ke masa lalu.

Oh iya, rambutnya si John Wick mengingatkan saya pada era 1990-an, kayak rambutnya Nick Carter. Dan hal lain yang membuat film ini menarik adalah karena ada Willem Dafoe, meskipun dia cuma cameo. Ah, sudah mulai kelihatan tua si Green Goblin ini….

n c02

foto oleh: moviepilot
foto oleh: moviepilot
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s