Mitos Bertukar Piring

Sudah lama tidak menulis di laman ini. Belakangan, saya disibukkan dengan pekerjaan baru (tapi bohong). Masih, masih di perusahaan yang sama, hanya di pos baru.

Tidak terasa, sudah hampir dua bulan saya di kota ini. Kota pimpinan Ridwan Kamil ini memang punya pesona tersendiri yang membuat saya kemudian merasa nyaman. Meskipun awalnya saya menghindari kota ini, toh tidak bisa saya pungkiri, setengah hati sudah saya serahkan untuk si kota bendungan. Setengahnya lagi? Ya buat kamu, dong….

Supaya tidak kehilangan /sense of writing/, saya coba kembali menulis. Kali ini, saya ingin bercerita tentang sebuah mitos yang beredar di kampung halaman saya, tanah Minangkabau. Tidak tahu, ya, apakah mitos ini juga berkembang di perkampungan lain di nusantara.

Cerita tentang mitos ini berawal ketika ibu saya bercerita bagaimana Ibu bertemu dengan ayah saya, dan akhirnya menikah. Di tengah cerita, Ibu bercerita betapa ayah saya itu punya wajah yang tidak rupawan. Wajahnya tidak ganteng-ganteng amat, kulitnya coklat seperti Cadburry, kurus seperti tengkorak berjalan. Ini bukannya menghina orangtua lho, tapi memang begitu kata ibu saya.

Meskipun jelek begitu, kata Ibu, ayah kamu tuh pacarnya banyak. Rrrr.

Nah, di tengah cerita, kakak saya yang kala itu juga mendengarkan cerita ini menyela. “Iya ih, papa waktu muda itu kayak abang,” ujar dia.

Terakhir kali saya melihat foto Ayah ketika muda adalah sebelum kuliah. Dan saya rasa, mereka tidak mirip-mirip amat. Tapi ibu dan calon ibu (kakak, red), bersikukuh kalau mereka mirip.

“Enggak mirip apanya, mama sampai tukar piring sama ayek (sebutan saya untuk emaknya Ayah),” kata ibu saya.

“Ngapain tukar-tukar piring?” tanya saya heran.

“Itu mitosnya orang zaman dahulu. Kalau anak laki-lakinya lahir mirip banget sama bapaknya, salah satunya bakal meninggal,” ibu saya mulai bercerita.

Nah, untuk menolak bala, ibu si anak laki-laki harus bertukar piring dengan mertuanya. Ini bertujuan agar salah satunya tidak ada yang meninggal cepat.

“Lah, waktu itu abang kan masih kecil. Mana bisa ngeliat mirip apa enggak sama papa,” kata saya, masih tidak percaya. Ibu saya bilang, kemiripan itu sudah bisa dilihat sejak kecil. Prosesi tukar piring itu pun dilakukan saat usia abang saya satu tahun.

Terus, piring apa yang ditukar? Piring apa saja. Pokoknya, piring yang sehari-hari dipakai makan oleh keduanya. Jadi, piring di rumah saya diangkut ke rumah ayek dan ditukar dengan piringnya.

Sebetulnya, saya tidak tahu apa filosofinya tukar-menukar piring ini. Mengapa dengan menukar piring, keduanya tidak akan meninggal lebih dulu. Toh pada akhirnya, semua orang pasti akan pindah ke alam kubur, kan?

“Namanya juga mitos. Orang modern tidak akan paham dengan hal seperti ini,” kata ibu saya, mengakhiri cerita.

Selama ini, saya selalu berpikir kalau /like father like son/ itu sangat menguntungkan. Dia kan fotokopi dari ayahnya. Menurut saya itu keren. Tapi ternyata, menurut orang ‘lama’, itu tidak keren.

Yah, ini cerita saya tulis bukan berarti saya mempercayai mitos. Ini saya tulis sebagai salah satu warisan budaya. Siapa tahu, tulisan ini masih ada sampai 100 tahun lagi, ketika teknologi telah menjadi Tuhan umat manusia. Ketika itu, mitos hari ini akan menjadi legenda, atau minimal bahan dongeng.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s