Menari dalam Hening

Empat penari berparas cantik mengintip malu-malu dari balik tirai gelap di belakang panggung. Mereka menunggu aba-aba dari seorang perempuan yang duduk di antara kerumunan penonton.

Pelan-pelan, musik mulai mengalun. Perempuan berjilbab hijau di tengah penonton mengangkat tangannya dan meminta para penari keluar.

Dengan wajah sumringah, Nita Ariani (23 tahun) dan penari lain keluar dari persembunyian. Mereka berjalan lenggak-lenggok dan memainkan tangan sesuai irama lagu.

Musik mulai bermain dalam tempo yang agak cepat. Hal ini membuat kelima penari ikut bergerak lebih cepat mengikuti irama. Lantai panggung yang terbuat dari kayu bergetar dan berbunyi keras akibat hentakan kaki keempat penari.

Lalu, tiba-tiba sunyi.

Musik yang dipasang dari sebuah laptop kecil di sisi kiri penonton, berhenti. Hampir semua penonton menoleh ke operator musik, berpikir kalau ada kesalahan teknis. Tapi tidak, tidak ada yang salah dengan musiknya.

Penonton kembali menatap ke panggung, khawatir akan terjadi kekacauan. Penari pastilah kebingungan karena musiknya berhenti.

IMG_20140926_144701

Ternyata tidak. Mereka masih tetap menari, menggoyang panggulnya kesana-kemari dan memainkan tangan dengan gemulai. Gerakannya tetap sama semangatnya seperti menari dengan musik. Senyum mereka sama merekahnya. Karena, mereka menari dalam hening.

Adalah Nita, Sally, Wiranti, dan Reni yang menari penuh semangat di depan panggung tersebut. Keempatnya merupakan penyandang disabilitas. Mereka dilahirkan tanpa kemampuan untuk mendengar. Jangankan mendengar musik, mendengar suara sendiri saja mereka tidak bisa.

Kekurangan itu tidak membuat keempatnya putus asa. Nita dan kawan-kawan tidak memerlukan musik untuk menari, karena musik itu ada di dalam kepala mereka.

“Saya suka menari sejak kecil,” ujar Nita. Keheningan dunia tidak membuat Nita urung menari. Ia belajar menari dengan mempelajari isyarat dari pengajarnya dan ‘mendengarkan’ getaran musik.

Nita mulai menari secara profesional sejak 2004. Menjadi penari memang cita-citanya dari kecil. Baginya, menari dapat membuat jiwanya bebas dan hatinya senang. Sekarang, Nita sudah mampu membawakan berbagai jenis tari, termasuk Jaipongan, Tari Saman, dan Tari Topeng.

Tidak ada rasa khawatir di hati Nita saat menari tanpa mampu mendengar musik. Apa yang dia perlukan untuk menari hanya bakat dan isyarat.

Ya, isyarat dari pengajar merupakan kunci keberhasilan para tuna rungu ini membawakan sebuah tarian. Neng Subartin adalah orang yang bertanggung jawab atas tarian yang dbawakan oleh Nita dan kawan-kawan. Kepada gerakan isyarat dari tangannyalah keempat penari menaruh perhatian. Tangan tangkas Neng lah yang akan membuat Tari Topeng yang dibawakan penari berhasil atau tidak.

Sudah tiga tahun Neng melatih Nita dan teman-temannya menari. Mereka berlatih memahami isyarat yang diberikan Neng untuk melakukan gerakan tertentu. Tidak mudah, memang, hanya menari melalui isyarat. Tapi bagi Nita, hal itu justru lebih mudah daripada memaksakan diri mendengar musik.

Neng mengatakan, penari tetap mendengarkan musik yang akan mengiringi mereka. Hanya, proses mendengarkan yang dilakukan penari adalah mendengarkan getaran musik. Sehingga, penari memiliki ketukan sendiri untuk mempermudah mereka menentukan gerakan selanjutnya.

Isyarat dari Neng memang bukan satu-satunya faktor penentu bagus tidaknya hasil tarian tersebut. Faktor yang paling utama tentu adalah ada pada si penari itu sendiri, yaitu bagaimana mereka menjiwai tarian yang dibawakan.

Neng merasa tidak mengalami kesulitan dalam mengajar penari tuna rungu ini. “Tapi mungkin yang masih kurang adalah ‘penjiwaan’ karena mereka tidak melebur di dalam musik itu,” ujar Neng.

Seorang penari dengan pendengaran yang normal pun tentu sama sulitnya menjiwai sebuah seni tari. Tapi apa yang dilakukan Nita dan teman-temannya adalah sebuah hal yang luar biasa. Tanpa musik, mereka masih mampu menari seindah penari lainnya. Mereka bahkan berhasil menciptakan decak kagum orang-orang yang merasa dirinya ‘normal’. Karena, mereka menari dalam hening. n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s