Putri Salju (Bagian 3-habis)

Para kurcaci sangat terkejut saat mendapati Puti Salju terkapar tidak berdaya di depan pintu. Mereka segera mengangkatnya dan melepaskan korset yang membelit tubuhnya. Seketika, Puti Salju bernapas kembali.

“Penjual itu pastilah Ratu yang jahat. Kau harus lebih berhati-hati,” ujar para kurcaci setelah mendengar kisah malang Puti Salju.

Sampai di istana, Ratu bergegas menemui cermin dan bertanya,

“Cermin, cermin di dinding,
Siapakah di negeri ini yang paling cantik?”

Cermin menjawab,

“Engkau, Ratu, memang cantik,
Namun Puti Salju yang tinggal bersama tujuh kurcaci,
Ia seribu kali lebih cantik dari engkau,”

Ratu murka mendengarnya. Ternyata, usahanya tadi gagal. Kemudian, ia memikirkan cara yang membuat Puti Salju benar-benar lenyap dari muka bumi.

Dengan sedikit sihir, Ratu membuat sisir beracun. Ia menyamar menjadi perempuan tua lain, lalu datang menemui Puti Salju pada hari berikutnya. “Dijual, barang indah dijual,” kata Ratu.

“Pergilah, aku tidak diizinkan untuk membiarkan siapapun masuk,” kata Puti Salju.

“Kau pasti menyukainya, percayalah,” ujar Ratu sambil mengeluarkan sisir yang telah beracun.

Tidak ada satu anak perempuan pun yang tidak menyukai sisir. Puti alju pun membukakan pintu untuk Ratu.

Setelah masuk, Ratu merayu Puti Salju agar rambutnya mau disisir. Baru sisiran pertama, sihir tersebut bekerja. Puti Salju jatuh tak sadarkan diri.

Malamnya, kurcaci kembali menemukan Puti Salju tidak berdaya di depan pintu. Mereka melepaskan sihir dari Puti Salju dan meminta gadis itu untuk lebih berhati-hati.

Sampai di istana, Ratu kembali menemui cermin dan bertanya,

“Cermin, cermin di dinding,
Siapakah di negeri ini yang paling cantik?”

Cermin menjawab,

“Engkau, Ratu, memang cantik,
Namun Puti Salju yang tinggal bersama tujuh kurcaci,
Ia seribu kali lebih cantik dari engkau,”

Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kemarahan Ratu. “Puti Salju akan mati, meskipun itu seharga nyawaku!” teriaknya.

800px-Schneewittchen_(Meggendorfer)_08

Ratu kemudian pergi ke kamarnya yang paling rahasia. Di sana, dia membuat sebuah racun yang sangat kuat. Racun itu dimasukkannya ke dalam apel. Siapapun yang memakan itu akan mati dalam satu gigitan.

Ratu kembali menyamar dengan wajah yang berbeda. Ketika tujuh kurcaci sudah pergi, Ratu mengetuk pintu rumah.

“Pergilah, aku tidak diizinkan untuk membiarkan siapapun masuk,” kata Puti Salju dari balik jendela.

“Tidak apa-apa. Aku bisa memberikan apelku kepadamu dari jendela,” ujar nenek tua yang tak lain adalah Ratu.

“Aku tidak diizinkan menerima apapun,” kata Puti Salju.

“Apakah kau takut apel ini beracun? Baiklah, aku akan memotong apel ini menjadi dua dan kita akan memakannya bersama-sama.

Puti Salju setuju. Ia memang sangat menyukai apel dan ingin memakannya. Tanpa ragu, Puti Salju menggigit apel pemberian Ratu. Satu gigitan membuatnya jatuh ke tanah.

Ratu menatapnya dengan wajah gembira. “Putri yang seputih salju, semerah darah dan sehitam kayu eboni sudah mati. Para kurcaci tidak akan bisa menghidupkannya kembali,” kata Ratu.

800px-Schneewittchen_(Meggendorfer)_09

Di istana, Ratu bertanya kepada cermin ajaib,

“Cermin, cermin di dinding,
Siapakah di negeri ini yang paling cantik?”

Cermin menjawab,

“Engkau, Ratu, yang paling cantik dari semua perempuan,”

Rasa dengki Ratu sedikit berkurang mendengar jawaban cermin ajaib. Ia kemudian beristirahat dengan tenang.

Malam itu, kurcaci kembali menemukan Puti Salju dalam keadaan pingsan. Puti Salju telah mati dan tidak ada yang dapat mereka lakukan.

Kurcaci menidurkan sang putri di ranjang, menyisir rambutnya, merapikan pakaianya, dan mencuci wajahnya dengan air. Kemudian ketujuh kurcaci menangis selama tiga hari.

800px-Schneewittchen_(Meggendorfer)_10

Kurcaci membuatkan peti dari kaca untuk Puti Salju agar mereka bisa melihat gadis cantik itu dari segala sisi. Di atas kertas emas, kurcaci menuliskan nama Puti Salju. Peti itu kemudian mereka bawa ke puncak gunung.

Bahkan hewan-hewan di hutan pun ikut sedih dengan kematian Puti Salju. Pertama-tama datanglah merpati, kemudian gagak, lalu burung hantu. Puti Salju bahkan tidak membusuk. Ia tetap seputih salju, semerah darah dan sehitam kayu eboni.

Pada suatu hari, seorang pangeran memasuki hutan tempat kurcaci tinggal. Ia mencari tempat untuk menginap ketika menemukan peti yang berisi Puti Salju.

“Berikan aku peti itu dan ambillah apapun yang kau mau,” ujar Pangeran kepada salah satu kurcaci yang menjaga peti sang putri.

“Kami tidak akan menjualnya untuk demi seluruh emas di muka bumi,” ujar kurcaci.

“Maka berikanlah kepadaku karena aku tidak bisa hidup tanpa melihat Puti Salju. Aku sangat menghormatinya dan dan mencintainya,” ujar Pangeran, memohon agar kurcaci menyerahkan jasad putri malang itu padanya.

800px-Schneewittchen_(Meggendorfer)_11

Karena iba, kurcaci akhirnya merelakan peti Puti Salju kepada Pangeran. Kemudian, Pangeran meminta pengawalnya untuk mengangkat peti Puti Salju.

Namun di tengah jalan, salah satu dari pengawal Pangeran tersandung. Peti tersebut nyaris jatuh dari pundak mereka. Beruntung, peti kaca itu masih dapat diselamatkan.

Tapi, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Goncangan yang terjadi pada peti telah membuat apel yang digigit gadis itu keluar dari kerongkongannya. Segera setelah itu, Puti Salju membuka matanya dan hidup kembali.

“Astaga, di mana aku?” teriaknya panik dari dalam peti. Pangeran yang terkejut melihat Puti Salju hidup kembali, segera membuka peti.

“Engkau bersamaku,” kata Pangeran kepada gadis itu. Ia menjelaskan semuanya.

“Aku mencintaimu. Ikutlah bersamaku ke istana ayahku dan jadilah istriku,” pinta Pangeran. Dengan gembira, Puti Salju mengiyakan.

Undangan pernikahan Pangeran sampai ke telinga ratu yang jahat. Namun, ia tidak tahu kalau calon istri Pangeran adalah Puti Salju.

Seperti biasa, Ratu merias diri di depan cermin ajaibnya dan bertanya,

“Cermin, cermin di dinding,
Siapakah di negeri ini yang paling cantik?”

Cermin menjawab,

“Engkau, Ratu, memang cantik,
Namun ratu muda negeri seberang seribu kali lebih cantik dari engkau,”

Perempuan jahat itu marah dan mengutu. Ia menjadi sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Awalnya, dia tidak ingin datang ke acar pernikahan itu. Namun, ia merasa tidak tenang dan sangat penasaran. Akhirnya, Ratu datang ke pesta tersebut dan melihat seberapa cantik perempuan yang mengalahkannya itu.

Ketika sampai, betapa terkejutnya Ratu saat melihat Puti Salju berdiri mendampingi Pangeran. Ia terpaku, tidak rela dengan kekalahan yang diterimanya.

Kemudian, mereka menempatkan sepasang sepatu besi di atas bara api. Sepasang sepatu itu disodorkan kepada Ratu. Ia dipaksa memakai sepatu merah-panas itu dan menari, menari sampai Ratu jatuh dan mati.

n c02

800px-Schneewittchen_(Meggendorfer)_12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s