Putri Salju (Bagian 2)

Puti Salju berjalan tertatih-tatih ke dalam hutan. Sudah berjam-jam dia berjalan tak tentu arah. Ia sangat ketakutan sampai-sampai tidak berani menoleh ke belakang.

Puti berlari secepat kakinya mampu membawanya dan tidak berhenti sampai ia merasa lelah. Sesekali hewan liar melompat dari balik pohon, namun tidak melukainya.

Ketika matahari sudah sangat merah, Puti Salju sampai di sebuah rumah kecil. Karena sangat lelah, Puti Salju masuk ke dalamnya.

Di dalam rumah tersebut, semua perabotannya berukuran kecil. Meja makannya yang kecil dihiasi taplak putih dan sangat rapi. Di atas meja tersebut terdapat tujuh piring kecil. Masing-masing piring memiliki sendok dan pisau mini. Jauh ke dalam, tujuh ranjang kecil berjejer rapi. Ketujuhnya ditutupi kelambu seputih salju.

Karena sangat lapar, Puti Salju memakan sedikit sayuran dan roti yang ada di meja makan. Ia juga minum setetes anggur dari masing-masing cangkir mini di atas meja.

Karena merasa sangat lelah, Puti Salju beranjak ke ranjang. Tetapi tidak satu pun dari ranjang itu yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ia akhirnya tertidur di ranjang ketujuh.

Setelah gelap menyelimuti hutan, si empunya rumah pulang. Mereka adalah tujuh kurcaci yang pulang dari mengambil dan mengumpulkan bijih besi dan emas di pegunungan.

Mereka menyalakan tujuh lilin dan terkejut. Rumah yang semula rapi, kini berantakan.

“Siapa yang telah duduk di kursiku?” tanya kurcaci pertama.

“Siapa yang telah makan dari piringku?” tanya kurcaci kedua.

“Siapa yang telah memakan rotiku?’ tanya kurcaci ketiga.

“Siapa yang telah memakan sayuranku?’ tanya kurcaci keempat.

“Siapa yang telah makan dengan garpuku?” tanya kurcaci kelima.

“Siapa yang telah memotong dengan pisauku?” tanya kurcaci keenam.

“Siapa yang telah minum dari cangkirku?” tanya kurcaci ketujuh.

Kemudian, kurcaci pertama melihat ada sedikit jejak di tempat tidurnya. “Siapa yang menginjak tempat tidurku?” tanyanya.

Yang lain mengecek tempat tidur masing-masing dan meneriakkan hal serupa, “Seseorang telah berbaring di kasurku,”

Tapi kurcaci ketujuh diam seribu bahasa. Karena, Puti Salju tengah tertidur lelap di ranjangnya.

Schneewittchen_(Meggendorfer)_05

Enam kurcaci lainnya berlari melihat fenomena itu. Mereka takjub melihat kecantikan Puti Salju. “Gadis ini sangat cantik!” jerit ketujuh kurcaci.

Mereka begitu senang dengan kehadiran Puti Salju, sehingga mereka tidak membangunkannya dari tidur. Kurcaci ketujuh terpaksa tidur dengan kurcaci lain secara bergantian, masing-masing selama satu jam lamanya. Dan pagi pun datang.

Ketika membuka mata, Puti Salju melihat tujuh manusia kecil berdiri mengelilinginya. Ia sangat terkejut.

Namun, kurcaci pertama bertanya dengan ramah, “Siapa namamu?”

“Puti Salju,” jawab gadis itu. Ketakutannya sedikit berkurang.

“Bagaimana kau menemukan jalan ke rumah kami?” tanya kurcaci lain.

Maka berceritalah Puti Salju kepada tujuh teman barunya tentang ibu tirinya dan bagaimana ia ingin Puti mati.

“Jika engkau mau menjaga rumah kami, memasak, membereskan tempat tidur, menjahitkan baju, mencuci dan berberes, kau boleh tinggal dengan kami selama yang kau inginkan,” kata para kurcaci.

“Tentu saja, dengan sepenuh hati,” ujar Puti Salju senang.

Sejak itu, Puti menjadi teman baru mereka yang mengurus rumah dan segala tetek-bengek seperti mencuci pakaian, menyiapkan makanan, dan menjahit. Hal ini sangat menyenangkan bagi kurcaci karena setelah lelah bekerja, makan malam sudah tersedia.

Setiap berangkat ke pegunungan, para kurcaci selalu mengingatkan Puti Salju akan ibu tirinya yang jahat. “Hati-hati dengan ibu tirimu. Dia akan segera tahu keberadaanmu. Jangan bukakan pintu untuk siapapun,” ujar kurcaci.

Jauh di istana, Ratu sedang mencatut diri di dalam kamarnya. Kini, ia percaya sudah memakan paru-paru dan hati Puti Salju. Ia yakin, tidak ada peremupuan lain yang lebih cantik dari dirinya.

Kepada cermin ajaib ia bertanya,

“Cermin, cermin di dinding,
Siapakah di negeri ini yang paling cantik?”

Cermin menjawab,

“Engkau, Ratu, memang cantik,
Namun Puti Salju yang tinggal bersama tujuh kurcaci,
Ia seribu kali lebih cantik dari engkau,”

Pernyataan cermin ajaib sangat membuat Ratu terkejut. Ia menyadari si pemburu telah menipunya dan menyadari kalau Puti Salju masih hidup.

Ratu sangat marah mendengar pernyataan cermin ajaib. Dia berpikir dan berpikir bagaimana caranya agar dapat menghabisi nyawa putri tirinya itu.

Schneewittchen_(Meggendorfer)_06

Akhirnya, Ratu medapat sebuah ide. Ia melukis wajahnya dan menyamar sebagai seorang penjual tua. Dalam penyamaran, dia pergi ke rumah kurcaci dan mengetuk pintu,

“Dijual, barang indah dijual,” kata Ratu yang telah menyamar.

Puti Salju melongok dari jendela. “Apa yang kau jual, Nyonya?” tanya dia.

“Barang-barang yang indah, gadis kecil. Kau suka ini?” tanya perempuan tua itu sambil menunjukkan sebuah korset dari sutra.

“Aku bisa biarkan perempuan tua ini masuk ke dalam, dia jujur,” ujar Puti Salju dalam hati. Kemudian, ia biarkan perempuan itu masuk.

“Gadis cantik, biarkan aku pakaikan untukmu,” kata perempuan tua itu. Ia memakaikan Puti Salju korset tersebut dan menariknya kuat-kuat sampai gadis itu tidak dapat bernapas.

“Kau dulu memang paling cantik,” kata Ratu dan membiarkan Puti Salju jatuh ke lantai, lalu dia pergi.

(bersambung)

n c02

Schneewittchen_(Meggendorfer)_07

foto-foto oleh: childrenslibrary.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s