Pangeran Kodok

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja dengan tujuh orang anak perempuan yang sangat cantik. Si Bungsu merupakan anak Raja yang paling cantik. Wajahnya bersinar seperti matahari.

Tidak jauh dari istana Raja, terdapat sebuah hutan yang gelap. Pepohonan tumbuh sangat rapat sehingga hutan tersebut terlihat kelam. Di dalam hutan tersebut terdapat sebuah sumur tua.

Si Bungsu senang sekali berkunjung ke dalam hutan ketika matahari bersinar sangat terik. Ia berjalan-jalan di dalam hutan dan beristirahat di pinggir sumur. Ketika ia merasa bosan, ia bermain dengan bola emasnya. Ia memainkan bola tersebut dengan cara melemparnya ke udara. Bola emas itu adalah mainan kesayangannya.

Pada suatu hari, si Bungsu bermain ke sumur di dalam hutan seperti biasa. Tidak lupa ia membawa bola emas kesayangannya. Ketika ia melempar-lemparnya ke udara, si Bungsu kehilangan konsentrasi. Bola emas meleset dari tangannya dan terjatuh ke dalam sumur.

foto oleh @bookidu
foto oleh @bookidu

Si Bungsu begitu sedih karena mainan kesayangannya terjatuh. Lalu dia mulai menangis. Makin lama, tangisannya semakin kencang. Di tengah tangisnya, seseorang berkata, “Apa yang terjadi padamu, tuan Putri? Mendengar tangisanmu, batu pun akan merasa iba,”

Si Bungsu berhenti menangis dan mencari siapa yang sedang berbicara. Dilihatnya seekor kodok berdiri di bibir sumur. “Aku menangis karena bola emasku terjatuh ke dalam sumur,” kata si Bungsu.

“Aku bisa mengambilkan bola emas itu untukmu. Tapi apa yang akan kauberikan kepadaku jika aku membantumu?” tanya si Kodok.

“Pakaianku, mutiaraku, permataku, bahkkan mahkota emas yang aku pakai akan kuberikan untukmu,” kata si Bungsu.

“Pakaianmu, mutiaramu, permatamu, mahkotamu, tidak penting bagiku. Namun aku akan membantumu jika kau mencintaiku, menjadikan aku teman bermainmu, duduk di sampingmu, makan dari piringmu, minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu. Jika kau berjanji, aku akan mengambilkan bola emasmu dari dasar sumur,” ujar si Kodok.

“Apapun, aku berjanji padamu jika kau membawa kembali bolaku,” janji si Bungsu. Namun, ia heran dengan kodok yang aneh itu. “Aneh betul kodok ini. Ia tidak pantas menjadi teman manusia mana pun,” pikir si Bungsu.

Si Kodok, yang dengan seluruh kekuatan berenang ke dasar sumur dan mengambilkan bola emas milik si Bungsu. Ia mengambil dengan mulutnya, dan ketika sampai di permukaan, dilemparnya bola itu kepada si Bungsu. Si Bungsu, yang sangat gembira dengan kembalinya bola emas, kemudian meninggalkan si Kodok bahkan tanpa mengucapkan terima kasih.

“Tunggu, tunggu,” teriak si Kodok. “Bawalah aku bersamamu. Aku tidak bisa berlari sekencang dirimu,” Namun, si Bungsu tidak mengindahkan teriakan si Kodok. Ia berlari dengan hati senang karena mainan kesayangannya telah kembali.

Menjelang sore, si Bungsu duduk bersama ayah dan kakaknya di ruang makan. Ia sedang menikmati hidangan dengan penghuni istana. Kemudian, terdengar suara clap, clap, clap.

“Tuan Putri, Bungsu, biarkan aku masuk,” seseorang berteriak dari depan pintu. Si Bungsu penasaran, siapa yang memanggilnya. Ia membuka pintu dan melihat si Kodok berdiri di depannya. Si Bungsu kemudian membanting pintu dan membiarkan si Kodok di luar.

“Ei, mengapa kau terlihat gusar? Apa di depan ada raksasa yang akan menculikmu?” tanya sang Raja kepada si Bungsu.

“Tidak, di depan ada seekor kodok yang kemarin mengambilkan bola emasku. Ia membuatku berjanji untuk menjadi temannya. Kini ia ada di luar dan ingin masuk,” kata si Bungsu.

Si Kodok mengetuk untuk kedua kalinya. “Biarkan aku masuk. Bukankah kau telah berjanji padaku?”

Sang Raja berkata dengan tegas kepada si Bungsu, “Kau telah berjanji. Biarkan dia masuk,”

Arthur Rachkam
Arthur Rachkam

Si Bungsu, yang kecewa, membiarkan si Kodok masuk. Lalu ia kembali ke kursi kecilnya. Namun, si Kodok pun ingin duduk di kursi milik si Bungsu. “Aku ingin duduk bersamamu,” kata dia.

Si Bungsu awalnya tidak mau, tapi kemudian mengajak si Kodok duduk setelah melihat wajah galak sang Raja.

“Dorong piring emasmu lebih dekat, supaya aku dan kau bisa makan bersama-sama,” kata si Kodok kemudian. Si Bungsu merasa jijik, namun ia teringat janjinya dan membiarkan si Kodok memakan makanannya dari piring emas miliknya. Si Kodok makan dengan lahapnya, sementara si Bungsu kehilangan nafsu makan.

“Aku sudah kenyang dan sangat lelah. Bawalah aku ke kamarmu dan aku ingin tidur di ranjangmu,” ujar si Kodok setelah kenyang. Kemudian, si Bungsu mulai menangis. Ia sangat ketakutan dengan kodok yang dingin dan jahat itu, yang kini ingin tidur di atas ranjangnya. Mana mungkin ia akan berbagi ranjang dengan kodok jelek seperti itu.

Akan tetapi, ia melihat ayahnya yang telah memberinya peringatan. Si Bungsu harus menepati janjinya. Mau tidak mau, si Bungsu harus memenuhi janjinya. Dengan dua tangan, si Bungsu membawa Kodok ke kamarnya dan meletakkannya di sudut kamar.

“Tuan Putri, aku sangat lelah. Tidurkan aku di ranjangmu. Kau sudah berjanji. Kalau tidak, aku akan mengadu pada ayahmu,” kata si Kodok.

Si Bungsu, yang tidak rela kasurnya dikotori oleh kodok bermuka buruk, dengan sangat marah mengangkat si Kodok dan melemparnya sekuat tenaga ke dinding. “Diamlah, kau kodok buruk,” kata si Bungsu.

Namun, yang jatuh ternyata bukanlah kodok mati, melainkan seorang pangeran muda tampan dengan mata yang indah. Ia berkata kepada si Bungsu kalau seorang penyihir telah mengutuknya. Kutukan itu akan hilang apabila ada seseorang yang mau menjadi temannya. Si Bungsu yang berjanji menjadi teman telah membuat kutukan tersebut hilang. Dan si Pangeran meminta si Bungsu untuk menjadi istrinya karena telah menyelamatkan dia dari kutukan.

Keesokan harinya, sang Raja mengadakan pesta pernikahan untuk si Bungsu. Ia setelah ini akan tinggal di kerajaan si Pangeran. Dan apakah mereka hidup bahagia selamanya? Hanya si Bungsu dan si Pangeran yang tahu karena kisah mereka hanya kuceritakan sampai di sini.

n c02

foto oleh: jdillon82.deviantart
foto oleh: jdillon82.deviantart
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s