Promosikan Aku, Dong….

“Kok lo bodoh banget sih?” kata seorang kawan ketika saya mengatakan padanya ingin resign. Melihat mukanya yang menyeramkan, saya berhenti merajuk dan melarikan diri.

Saya merajuk kala itu, Kamis (29/8), bukan tanpa alasan. Saya merajuk karena saya dipromosikan. Ya, promosi alias naik jabatan alias naik pangkat alias apapun yang kalian suka menyebutnya.

Kalian pastilah berpikir, kenapa saya malah merajuk? Dalam keadaan normal, sikap seseorang yang dipromosikan adalah senang, kemudian ngetwit, bikin status di facebook dan path, kemudian mention semua teman-teman supaya semua orang tahu kalau kamu dipromosikan.

Siapa yang tidak shock kalau dipromosikan lalu dimutasi? Nenek-nenek pun jantungan kalau disampaikan demikian. Mutasi pun baru dikabari kurang dari satu pekan sebelum berangkat ke tempat yang baru.

Persoalan promosi ini sudah saya dengar kabarnya dari burung-burung yang beterbangan. Tapi saya anggap angin lalu karena mana mungkin orang macam saya dipromosikan. Memangnya saya ini barang dagangan? Eh….

foto oleh @awildliferanger
foto oleh @awildliferanger

Soal mutasi inilah yang membuat saya galau seribu bahasa, eh, galau tingkat jagat raya.

Mana ada orang yang dipromosiin tapi dimutasi? Ada sih, saya. Hahaha. Tapi masalahnya, saya ini kan sedang penjajakan untuk kehidupan yang lebih baik. Kalau jarak kembali memisahkan, bagaimana nasib ini?

Tidak siap dengan tanggungjawab yang baru, itu saja intinya. Saya tidak siap meninggalkan zona nyaman yang selama ini saya huni. Pergi siang pulang sore, siapa yang tidak mau seperti itu? Tidak harus ke kantor, bisa kongkow-kongkow, bisa tidur seenaknya dan main sepuasnya.

Dengan tambahan tanggungjawab, saya harus diam di kantor, duduk depan komputer, mengawal sampai seluruh pekerjaan selamat sampai Jakarta. Tidak bisa mencontek lagi, bekerja dalam diam.

Tapi itulah namanya hidup, kan? Manusia tidak selamanya menjadi anak kecil. Dia akan menjadi orang dewasa, kemudian tua, mati, lalu dilupakan. Itu pula yang terjadi dalam pekerjaan. Mulai dari kacung, setengah kacung, bos, lalu dewa (yah, tidak sampai dewa sih, soalnya dewa itu jabatan politik, hihi).

Yang jelas, sampai hari keempat saya di pos baru, rasanya saya ingin minum kopi pakai vodka ditambah bajigur. Seperti halnya ketika menempati pos baru, tidak ada yang menyenangkan. Tapi ya kalau hatinya dibuat galau terus, akan selamanya saya tersiksa dengan perasaan ini. Akhirnya setelah berdiskusi dengan kawan yang pernah di tempat yang sama, saya memutuskan untuk menikmati apa yang sudah saya peroleh. Sampai waktu yang tidak terhingga.

Terus, aku kapan dipromosikan ke ibumu? Eaaa, kambuh deh gue… x_X

FYI: Sampai tulisan ini diturunkan, saya belum mengabari orangtua kalau saya pindah ke Paris van Java….

n c02

Advertisements

5 thoughts on “Promosikan Aku, Dong….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s