Cinderella (Bagian 2)

Cinderella terpaku. Hatinya sedih karena ibu tiri tidak mengizinkannya pergi ke pesta yang paling ditunggu-tunggu seluruh gadis desa. Menjadi istri pangeran, siapa yang tidak ingin?

Dengan hati yang terpukul, ia berlari ke makam ibunya, dan merajuk di atasnya. Kepada pohon hazel yang ia tanam di atas makam ibunya, Cinderella berkata,

“Bergetar dan bergoyanglah, pohon kecil,
Beri aku perak dan emas,”

Tiba-tiba saja sebuah gaun berbalut benang emas dan perak jatuh dari atas pohon. Jatuh pula sendal bersulam sutra yang dijahit dengan benang perak. Tanpa pikir panjang Cinderella memakai gaun tersebut dan berlari ke istana.

Ibu dan saudara tirinya tidak mengenali Cinderella yang kini memakai gaun berhias benang emas. Mereka masih berpikir Cinderella duduk di antara debu perapian, memunguti kacang polong yang masih berserakan.

Mereka menyangka gadis bergaun emas itu berasal dari negeri asing yang juga diundang datang ke pesta tersebut. Gadis itu sangatlah cantik.

Pangeran mendatangi Cinderella, meraih tangannya dan mengajaknya berdansa. Pangeran sangat menyukai Cinderella dan memutuskan memperistrinya. “Kaulah pasanganku,” kata dia.

foto oleh huffpost
foto oleh huffpost

Mereka berdansa sampai larut malam. Ketika Cinderella akan pulang, anak raja itu ingin mengantarnya. “Aku akan menemaminu,” katanya. Ia ingin tahu siapakah orangtua dari gadis pujaannya itu.

Karena tidak ingin identitasnya diketahui, Cinderella melarikan diri. Ia berlari masuk ke dalam rumah merpati yang ada di kebun rumah.

Si pangeran menunggu hingga ayah Cinderella tiba dan mengatakan seseorang telah masuk ke dalam rumah merpati miliknya. “Apakah itu Cinderella,” pikir sang ayah. Tentu saja tidak mungkin, karena Cinderella sedang berada di dapur, di antara debu dan kayu.

Sang ayah kemudian menghancurkan tempat persinggahan merpati tersebut, kemudian melihat ke dalamnya. Tidak ada siapa-siapa. Cinderella telah keluar melalui lubang di belakang dan kembali ke dalam rumah. Ia bersegera berganti pakaian sebelum ibu tirinya curiga. Ia meletakkan pakaian indahnya di atas makam ibunya, membiarkan burung-burung mengambilnya kembali.

Ketika sampai di rumah, ibu tiri melihat Cinderella tengah tidur di antara debu sisa perapian. Cinderella tidak seperti baru saja menghadiri sebuah pesta.

Pada hari kedua, ibu dan saudara tirinya kembali menghadiri festival tersebut. Cinderella kembali ke pohon hazel dan berkata,

“Bergetar dan bergoyanglah, pohon kecil,
Beri aku perak dan emas,”

Burung-burung membawakannya gaun yang lebih indah dari kemarin. Ketika Cinderella datang memakai gaun tersebut, semua orang memandangnya dan mengagumi kecantikannya. Sang pangeran yang telah menunggunya sejak sore pun mengagumi Cinderella. “Dialah pasanganku,” ujar sang pangeran.

Sama seperti malam sebelumnya, Cinderella kabur dari pesta. Namun, pangeran mengikutinya. Ia penasaran di mana Cinderella tinggal.

Cinderella menyadari sedang diikuti. Ia kemudian mengambil arah yang berbeda dari kemarin, berlari ke dalam kebun orang yang di dalamnya terdapat sebuah pohon raksasa yang pernah ada. Cinderella memanjat seperti seekor tupai yang lincah.

Sang pangeran menunggu hingga seseorang melewati tempat itu. Kebetulan, ayah Cinderella tiba. Si pangeran mengatakan seseorang telah masuk ke dalam tempat tersebut. “Apakah itu Cinderella,” pikir sang ayah. Ia mengambil kapak dan memotong pohon tersebut hingga terbelah. Namun tidak ada siapa-siapa di atas.

Ketika sampai di rumah, ia melihat Cinderella tengah tertidur di antara abu perapian, seperti hari kemarin. Ia telah melompat di sisi lain pohon dan melepas gaun sesampainya di makam ibunda.

Pada hari ketiga, ketika seluruh keluarganya telah pergi ke pesta, Cinderellah kembali ke makam ibunya dan berkata,

“Bergetar dan bergoyanglah, pohon kecil,
Beri aku perak dan emas,”

Burung-burung kecil memberi Cinderellah sebuah gaun yang lebih cantik dan lebih indah dari hari sebelumnya. Ia juga diberi sepatu yang terbuat dari emas.

Ketika ia masuk ke dalam ruangan pesta, tidak ada seorang pun yang bisa mengungkapkan betapa cantiknya Cinderella. Semua ternganga dengan keindahan yang terpancar darinya. Sang pangeran yang melihat Cinderella pun tak bisa berkata-kata. “Ialah pasanganku,” katanya.

Malam semakin larut. Cinderella harus pulang. Sang pangeran yang sangat penasaran memaksa ikut dengan Cinderalla. Namun gadis itu menolak. Ia pergi diam-diam agar si pangeran tidak lagi mengikutinya.

Kali ini si pangeran tidak mau kecolongan. Ia telah membuat jebakan di anak tangga. Ia telah mengolesi salah satu anak tangga dengan ter sehingga sepatu kiri Cinderella menempel. Ia berusaha untuk menarik sepatu tersebut, tapi gagal. Akhirnya Cinderella meninggalkan sepatunya dan kembali pulang.

Si pangeran mengambil sepatu emas yang tertinggal itu. Ia berkata pada ayahnya, “Tidak ada yang lebih aku inginkan untuk menjadi istriku kecuali perempuan yang kakinya sesuai dengan sepatu emas ini,”

Semua perempuan di penjuru desa bersemangat untuk mencoba sepatu tersebut. Tidak terkecuali dua saudara tiri Cinderella. Apalagi, keduanya memiliki kaki yang indah.

foto oleh gutenberg.org
foto oleh gutenberg.org

Anak pertama mencoba peruntungannya. Ia mencoba memasukkan kakinya ke sepatu tersebut. Sayang, sepatu itu terlalu kecil untuknya. Sang ibu memberikan pisau pada anaknya dan menyuruh si sulung memotong jemari kakinya. “Potong jari kaki itu. Jika kau seorang ratu, kau tidak perlu lagi menggunakan kakimu untuk berjalan,” kata ibunya.

Si sulung dengan sangat kesakitan memotong jemari kakinya. Ia memasang lagi sepatu tersebut. Kali ini, sepatu tersebut sesuai dengan ukuran kakinya.

Pangeran pun membawa si sulung bersamanya menggunakan kuda. Namun di tengah jalan, ketika keduanya melewati makam ibu Cinderella, mereka mendengar burung-burung bernyanyi,

“Lihatlah, oh lihatlah,
Darah mengalir dari sepatu emas,
Sepatu itu terlalu kecil untuknya,
Mempelai yang asli masih menunggumu,”

Pangeran melihat ke kaki si sulung. Betul, darah mengalir dari sepatunya. Ia menyuruh kudanya berbalik dan mengembalikan si sulung ke rumahnya. Kata pangeran, si sulung bukanlah perempuan yang ia cari.

Belum hilang akal, ibu tiri menyuruh si tengah mencoba sepatu emas itu. Ia berhasil memasukkan jemari kakinya ke dalam sepatu dengan aman. Tapi, tumitnya terlalu besar.

Sang ibu memberikan pisau pada anaknya dan menyuruh si tengah memotong sedikit tumitnya. “Potong tumitmu itu. Jika kau seorang ratu, kau tidak perlu lagi menggunakan kakimu untuk berjalan,” kata ibunya.

Si tengah memotong sedikit tumitnya, dan memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Ia lalu memperlihatkan kakinya kepada pangeran. Dan pangeran pun percaya gadis itu adalah pujaan hatinya.

Pangeran membawa calon istrinya dengan kuda. Tapi saat sampai di makam ibu Cinderella, dua ekor burung yang bertengger di pohon hazel bernyanyi sendu,

“Lihatlah, oh lihatlah,
Darah mengalir dari sepatu emas,
Sepatu itu terlalu kecil untuknya,
Mempelai yang asli masih menunggumu,”

Pangeran melihat ke kaki si tengah. Betul, ia kembali kecolongan karena darah membanjiri kaus kaki gadis itu. “Kau juga bukan perempuan yang aku cari,” kata si pangeran. Ia mengembalikan si tengah kepada sang ibu.

“Tidakkah kau memiliki anak perempuan yang lain?” tanya si pangeran kepada ibu tiri.

“Tidak,” jawab si ibu tiri. “Tapi aku punya anak suamiku dari istrinya yang telah meninggal. Tapi dia tidak mungkin menjadi pengantinmu,”

Si pangeran berkata tidak ada salahnya gadis itu mencoba. Toh jika tidak sesuai ukurannya, si pangeran akan mencari ke tempat yang lain. Ia meminta ibu tiri untuk memanggil Cinderella.

“Tidak, dia terlalu kotor dan tidak bisa menunjukkan diri,” tolak si ibu tiri.

Tapi si pangeran memaksa untuk bertemu. Maka, Cinderella pun membersihkan tangan dan mukanya dari abu. Ia berjalan perlahan ke depan pangeran, dan menunduk hormat.

Pangeran menyerahkan sepatu emas tersebut kepada Cinderella. Gadis itu duduk di kursi dan melepas sepatu kayunya, lalu mencoba sepatu emas. Cinderella pun berdiri.

foto oleh oilyboot
foto oleh oilyboot

Pada saat itu, pangeran menyadari kalau dengan Cinderella lah ia berdansa selama perayaan. “Kaulah pengantinku,” ujarnya.

Ibu tiri dan kedua saudaranya berteriak ketakutan. Mereka tidak percaya kalau Cinderella lah yang menjadi istri sang pangeran.

Pangeran mengajak Cinderella menuju istana. Ketika melewati makam ibunya, dua ekor burung yang bertengger di pohon hazel bernyanyi,

“Lihatlah, oh lihatlah,
Tidak ada darah di sepatunya,
Sepatu itu tidak terlalu kecil untuknya,
Pengantin yang sesungguhnya telah kautemukan,”

Sambil bernyanyi, kedua burung merpati tersebut terbang ke arah Cinderella. Satu bertengger di bahu kanannya, yang lain di bahu kiri.

Hari pernikahan pangeran dan Cinderella pun tiba. Pada hari pernikahan itu, kedua saudara tiri Cinderella datang. Mereka meminta gadis itu berbagi keberuntungan dengannya.

Keduanya menjadi pendamping Cinderella ketika berjalan menuju istana. Si sulung berjalan di sebelah kanan Cinderella, sementara si tengah di sisi kirinya.

Namun sebelum memasuki istana, dua ekor burung merpati terbang ke arah kedua saudara tiri. Seekor mematuk mata si sulung dan seekor lagi mematuk mata si tengah. Keduanya memekik kesakitan dan berlari tidak tentu arah.

Itulah hukuman bagi dua orang tamak atas kejahatan dan kebohongan mereka. Dan keduanya dihukum dengan kebutaan selamanya.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s