Rapunzel

Pada suatu hari hiduplah sepasang suami istri yang sudah lama menginginkan seorang anak. Segala upaya dilakukan demi mendapatkan seorang bayi, tapi usaha tersebut nihil.

Akhirnya setelah sekian lama berdoa, permohonan sang istri dikabulkan. Ia pun mengandung.

Kedua pasangan tersebut memiliki sebuah jendela yang menghadap ke belakang rumah. Dari sana, seseorang dapat melihat sebuah kebun yang sangat indah, penuh dengan bunga-bunga dan rempah-rempah. Hanya, sebuah dinding tinggi berdiri menjulang mengelilingi kebun tersebut. Tidak seorang pun dapat masuk ke dalamnya.

Selain itu, kebun tersebut adalah milik seorang penyihir yang amat ditakuti semua orang. Ia memiliki kekuatan yang hebat dan tidak seorang pun berani melawannya.

Pada suatu hari, sang istri berdiri menatap kebun melalui jendela rumahnya. Ia melihat sebuah petak kebun yang ditanami selada–Rapunzel yang sangat indah. Tanaman itu terlihat sangat segar dan hijau. Sang istri yang sedang mengandung sangat menginginkan selada tersebut untuk dimakannya.

Setiap hari, si istri terus menatap daun rapunzel tersebut seolah-olah rapunzel memanggil dan menghipnotisnya. Keinginan itu setiap harinya makin membesar dan ia menyadari bila tidak mendapatkannya, ia akan merana.

foto oleh kids-pages.com
foto oleh kids-pages.com

Sang suami menyadari keadaan istrinya dan bertanya, “Apa yang kau risaukan, istriku tercinta?“

“Suamiku, jika aku tidak dapat memakan tanaman rapunzel yang tumbuh di kebun belakang rumah kita, aku pasti akan mati,” jawab si istri.

Sang suami yang sangat mencintai istrinya itu berpikir, daripada melihat mati menderita, ia akan mengambilkan daun itu untuk istrinya, apapun akibatnya.

Ketika senja tiba, si suami memanjat dinding tinggi yang mengelilingi kebun dan masuk ke dalamnya. Dengan tergesa-gesa, ia mencerabut tanaman rapunzel dari tanah dan membawanya pergi.

Sang istri membuat salad dari tanaman itu dan memakannya dengan rakus. Baginya, rapunzel sangat lezat rasanya. Saking sukanya, sang istri meminta suaminya untuk kembali mengambil tanaman itu ke kebun si penyihir. Kali ini, dia minta dibawakan lebih banyak.

Demi cintanya kepada istri dan calon bayi, sang suami kembali menyabung nyawa dengan mencuri rapunzel dari kebun si penyihir. Ia melakukannya pada senja, seperti ketika pertama kali.

Sayang, usahanya kali ini diketahui si penyihir. Ketika merangkak turun dari dinding, ia mendapati si penyihir sedang berdiri di depannya.

“Berani-beraninya kau memanjat masuk tamanku dan seperti seorang pencuri mengambil tanaman rapunzelku? Kau harus menderita karenanya!” kata si penyihir dengan pandangan marah.

“Biarlah pengampunan menjadi hakim. Hanya karena kesengsaraanlah aku melakukan ini. Istriku telah melihat tanaman rapunzelmu dari jendela dan sudah sejak lama menginginkannya. Jika tidak dapat memakannya, ia akan mati,” jawab sang suami dengan wajah sedih.

Kemarahan si penyihir berkurang setelah mendengar pernyataan si suami. Lalu ia berkata, “Jika memang benar apa yang kaukatakan, maka aku mengizinkanmu untuk mengambil tanaman rapunzel ini sebanyak yang kau mau, hanya saja dengan sebuah syarat: kau harus menyerahkan anak kalian yang akan lahir nanti. Ia akan dirawat dengan baik dan aku akan menjaganya seperti ibunya sendiri,” kata si penyihir.

Dalam ketakutannya, sang suami menyanggupi permintaan itu. Ketika sang istri akhirnya melahirkan anak mereka, sang penyihir menampakkan diri dan menagih janji si suami. Sebelumnya, bayi perempuan itu diberi nama Rapunzel.

foto oleh disney wikia
foto oleh disney wikia

Rapunzel tumbuh menjadi gadis yang paling cantik di bawah matahari. Ketika ia berumur dua belas tahun, si penyihir mengurungnya di dalam sebuah menara yang terletak di tengah hutan. Menara itu tidak mempunyai baik tangga ataupun pintu. Menara itu hanya punya sebuah jendela kecil di sebelah atas. Apabila si penyihir ingin naik ke atas menara, ia akan berdiri di bawah dan berkata,

“Rapunzel, Rapunzel,
Turunkanlah rambutmu!”

Ya, Rapunzel mempunyai rambut yang panjang, indah, dan sangat halus bagaikan emas yang ditenun. Apabila ia mendengar suara si penyihir, ia akan membuka jalin rambutnya dan mengaitkannya ke kait yang tergantung di jendela, lalu menjatuhkannya sepanjang dua puluh hasta ke bawah. Dan si penyihir pun memanjat ke atas dengan rambut Rapunzel.

Rapunzel tidak pernah diizinkan keluar dari menara tersebut. Jika ada sesuatu yang ia inginkan, si penyihir yang akan membawakan untuknya.

Beberapa tahun berlalu.

Seorang Pangeran berkuda ke dalam hutan dan ia sampai di sebuah menara yang sangat tinggi. Ia mendengar sebuah nanyian yang sangat indah. Ia berhenti sejenak di bawah menara dan mendengarkan senandung tersebut.

Yang didengarnya adalah Rapunzel. Dalam kesendiriannya, gadis itu menghabiskan waktunya dengan membiarkan suara indahnya menggema.

Sang pangeran ingin memanjat menuju Rapunzel dan mencari sebuah pintu di menara tersebut. Ia penasaran siapa yang bernyanyi begitu indah dari dalam menara. Sayang, ia tidak berhasil menemukan pintu masuk menuju menara.

Ia pulang ke rumah, namun nanyian itu menyentuh sangat dalam ke hatinya. Sang pangeran pun datang setiap hari ke hutan untuk mendengarkan nyanyian Rapunzel.

Pada suatu hariketika berdiri di belakang pohon, ia melihat seorang penyihir datang dan mendengar si penyihir memanggil,

“Rapunzel, Rapunzel,
Turunkanlah rambutmu!”

Si pangeran melihat tali keemasan turun dari atas menara. Tali itu tidak lain merupakan rambut panjang Rapunzel. Dengan rambut itu, si penyihir naik ke atas menara.

foto oleh bibliozealous.blogspot.com
foto oleh bibliozealous.blogspot.com

“Apabila itu merupakan tangga yang dapat membawa orang ke atas, maka aku juga akan mencoba keberuntunganku,” pikir sang pangeran. Maka, ia pun mencoba peruntungannya. Ketika hari mulai gelap, ia datang ke menara dan berkata,

“Rapunzel, Rapunzel,
Turunkanlah rambutmu!”

Segera setelah itu, turunlah rambut Rapunzel. Si pangeran memanjat ke atas. Rapunzel sangat terkejut dan ketakutan ketika melihat seorang pria datang. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat jenis makhluk seperti si pangeran.

Dengan sikap yang sangat bersahabat, pangeran menceritakan betapa ia sangat mengagumi suara indah Rapunzel. Ia mengaku tidak bisa melupakan suaranya dan ingin tahu siapa yang memiliki suara tersebut.

Setelah merasa tenang, Rapunzel menyadari laki-laki yang ada di depannya adalah seorang pangeran yang tampan. Ketika si pangeran meminta Rapunzel untuk menjadi istrinya, ia mengiyakan.

“Dia pastilah akan lebih mencintaiku daripada perempuan tua itu,” pikir Rapunzel. Selama ini, hanya si penyihir itulah yang ia kenal.

Rapunzel meletakkan tangannya di atas tangan si pangeran. “Aku sangat senang sekali pergi denganmu, tapi aku tidak tahu bagaimana aku dapat turun. Bawakanlah aku tali sutra setiap kali kau datang, maka aku akan menjalinnya menjadi tangga. Jika telah selesai kukerjakan, aku akan turun ke bawah dengannya. Bawalah aku dengan kudamu,” kata Rapunzel.

Keduanya berjanji untuk bertemu kembali. Sang pangeran pun pergi, berjanji setiap hari akan membawakan tali sutra agar Rapunzel bisa turun dari menara.

Lalu datanglah si penyihir. Awalnya, si penyihir tidak menyadari apa yang telah terjadi, sampai suatu hari Rapunzel tidak sengaja kelepasan bicara.

“Katakan padaku, Nyonya, bagaimana mungkin kau bisa begitu lebih berat diangkat dibandingkan pangeran muda yang pernah datang menemuiku?” tanya Rapunzel.

Mendengar itu, murkalah si penyihir. “Kau anak nakal. Apa yang telah kau katakan padaku? Kupikir aku telah memisahkanmu dari semua hal di dunia ini. Dan kini kau mengkhianatiku!” kata si penyihir.

Dalam kemarahannya, si penyihir mencengkeram rambut indah Rapunzel dan menggulungnya dua kali dengan tangan kiri. Dengan tangan yang lain, ia mengambil gunting. Lalu kret kret kret, si penyihir menggunting rambut indah Rapunzel. Belum selesai sampai di situ, si penyihir membawa Rapunzel ke sebuah padang pasir. Di sana, ia hidup penuh kesengsaraan dan penderitaan.

Masih pada hari yang sama, tak lama setelah Rapunzel dibuang ke padang pasir, si pangeran datang dan memanggil,

“Rapunzel, Rapunzel,
Turunkanlah rambutmu!”

Si pangeran melihat rambut Rapunzel sudah diturunkan. Si penyihir telah membuat jebakan agar si pangeran menyangka Rapunzel masih di dalam menara. Ketika si pangeran sampai di atas, ia tidak menemukan Rapunzel, tetapi si penyihir.

“Aha,” ejek si penyihir, “kau ingin membawa sang pujaan hati, namun burung kecil yang cantik itu tidak lagi duduk di sarangnya dan bernyanyi. Seekor kucing telah membawanya. Kucing itu juga akan mencongkel matamu sehingga tidak akan pernah melihatnya lagi!”

Sang Pangeran hilang akal. Dengan putus asa ia turun dari menara tersebut. Malang, ia terpeleset dan jatuh ke semak-semak yang tumbuh mengelilingi menara. Duri-duri di semak tersebut menusuk langsung ke matanya.

Sang pangeran melarikan diri ke dalam hutan, bingung dan kehilangan arah. Matanya kini buta dan ia tidak memakan apapun kecuali akar-akar dan buah beri. Ia tidak melakukan apapun kecuali meratapi dan menangisi kepergian gadis pujaannya.

Sang pangeran berkelana dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Setelah bertahun-tahun berkelana tidak tentu arah, sampailah ia di sebuah padang pasir. Padang pasir tersebut ternyata adalah tempat di mana si penyihir membuang Rapunzel, yang setelah itu melahirkan anak kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Ketika sampai di padang pasir, si pangeran mendengar sebuah nyanyian dari suara yang sangat familiar di telinganya. Maka, dicarilah sumber suara tersebut dan bertemulah ia dengan Rapunzel. Dipeluknya perempuan itu. Menangislah Rapunzel yang akhirnya menemukan pujaan hatinya.

Air mata Rapunzel jatuh ke mata sang pangeran. Secara ajaib, mata pangeran sembuh dan kembali dapat melihat Rapunzel yang sangat dicintainya.

Sang Pangeran membawa Rapunzel dan dua anaknya ke istana, tempat ia diterima dengan senang hati. Mereka hidup sangat lama dan dengan bahagia. (der Brüder Grimm)

n c02

foto oleh wikipedia
foto oleh wikipedia
Advertisements

2 thoughts on “Rapunzel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s