Cinderella (Bagian 1)

Dulu, hiduplah seorang kaya dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik.

Pada suatu hari, istri si kaya sakit keras. Si istri merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Maka, ia memanggil anak perempuan satu-satunya untuk duduk di sampingnya.

“Anakku sayang, jadilah anak yang baik. Tuhan akan selalu melindungimu dan aku akan menjagamu dari surga,” kata ibunya. Setelah itu, sang ibu menutup matanya. Ia pun meninggal.

Tidak dapat diungkapkan betapa sedihnya gadis itu ditinggal mati ibunya. Setiap hari ia selalu datang ke makam ibunya dan menangis di sisinya. Meskipun salju menyelimuti makam, gadis itu tetap setiap berkunjung ke tempat sang ibu.

Setelah musim semi berakhir, si kaya telah memiliki istri yang baru. Istri barunya ini telah memiliki dua orang anak perempuan. Kedua anak ini dibawanya ke rumah si kaya.

foto oleh rottentomatoes
foto oleh rottentomatoes

Kehadiran ibu dan dua kakak tiri ini menjadi petaka bagi si gadis. “Apakah angsa bodoh ini harus duduk di ruang tamu bersama kami?” tanya mereka. “Seseorang yang ingin memakan roti harus berusaha mendapatkannya,”

Ibu dan kakak tiri mengambil baju-baju indah si gadis dan menggantinya dengan baju kerja abu-abu yang sudah tua dan jelek. Mereka memberinya sepatu kayu. “Lihatlah bagaimana putri cantik ini berpakaian,” kata mereka, menertawakan si gadis yang kini tampak sangat lusuh.

Mereka membawa si gadis ke dapur. Ia dipaksa bekerja dari pagi hingga larut malam. Ia harus bangun sebelum matahari terbit, membawakan air, menyalakan api, memasak dan mencuci. Sementara, kedua saudara tirinya berusaha merusak pekerjaan si gadis.

Si gadis bekerja begitu keras sampai-sampai tidak punya waktu untuk tidur. Karena kelelahan, si gadis tertidur di sebelah perapian dapur. Abu perapian membuat si gadis menjadi sangat kotor dan berdebu. Karena hal itu ia dipanggil Cinderella.

Pada suatu hari, si kaya akan pergi ke sebuah pasar malam. Ia bertanya kepada keluarganya, apa yang mereka inginkan.

“Saya ingin pakaian yang indah,” ujar anak tirinya yang pertama.

“Saya ingin mutiara dan perhiasan,” kata anaknya yang kedua.

“Dan kau, Cinderella, apa yang kau inginkan?” tanya sang ayah.

“Ayah, bawakan aku ranting pertama yang membentur topimu dalam perjalanan pulang,” ujar Cinderella.

Maka, si kaya pun memenuhi permintaan ketiga anak perempuannya. Ia membawakan pakaian indah untuk si sulung dan perhiasan untuk si tengah. Dalam perjalanan pulang, topi si kaya tersangkut ranting pohon hazel. Ia kemudian mematahkan ranting tersebut untuk diberikan kepada Cinderella. Sesampainya di rumah, ia menyerahkan pesanan tersebut kepada anak-anaknya.

Cinderella berterimakasih kepada sang ayah. Ia kemudian pergi ke makam ibunya dan menanam ranting pemberian sang ayah di atasnya. Di sana, ia menangis dan menangis di atas makam ibunya. Air matanya jatuh ke makam dan menyirami ranting yang ditanamnya. Ranting itu, kemudian tumbuh menjadi pohon hazel besar.

Setiap Cinderella datang ke makam ibunya dan menangis, seekor burung putih selalu bertengger di pohon yang ditanamnya. Dan ketika Cinderella mengucapkan doa, si burung mewujudkan impiannya.

cinderella

Impian itu tiba ketika raja setempat mengadakan sebuah festival. Acara itu berlangsung selama tiga hari dan seluruh gadis di desa itu diundang. Sang raja ingin mencari seorang istri untuk anak laki-lakinya.

Ketika dua saudara tirinya termasuk dalam undangan, mereka sangat senang. Ia memanggil Cinderella dan berkata, “Sisirlah rambut kami, cuci sepatu kami, rapikan baju kami. Kami akan pergi ke festival yang diadakan raja,”

Cinderella menurut dan melakukan seluruh yang diperintahkan dengan hati yang sedih. Ia pun ingin hadir di pesta itu. Maka, Cinderella memohon kepada ibu tiri untuk mengizinkannya pergi.

“Kau, Cinderella? Kau yang kotor dan bau akan pergi ke festival? Kau tidak punya pakaian, sepatu, apalagi bisa berdansa!” kata ibu tirinya.

Namun Cinderella terus memohon. Akhirnya, sang ibu mengizinkannya pergi. Namun, ia memberi satu syarat. “Aku telah membuang kacang polong ke dalam abu. Jika kau dapat memungutnya dalam dua jam, kau boleh pergi dengan kami,” kata ibu tiri.

foto oleh wikipedia
foto oleh wikipedia

Cinderella pun berjalan ke pintu belakang menuju taman dan berkata, “Merpati yang jinak dan seluruh burung yang ada di bawah langit, datanglah dan bantu aku,

“Yang baik ke dalam panci
yang buruk jadi tanaman,”

Dua ekor burung dara terbang ke dapur melalui jendela. Kemudian tiba lagi beberapa dan bayak sekali burung yang datang, membantu Cinderella memungut kacang polong. Mereka mengambil semua kacang yang masih baik dan melemparnya dengan paruh ke dalam panci.

Hanya perlu satu jam bagi Cinderella dan teman-temannya untuk memungut seluruh kacang-kacangan. Kemudian, ia membawa panci itu ke ibu tirinya, senang karena ia berhasil memenuhi syarat untuk diizinkan pergi ke pesta.

“Tidak, Cinderela. Kau tidak punya pakaian, sepatu, apalagi bisa berdansa! Kau hanya akan jadi tertawaan,” kata ibu tirinya.

Ketika Cinderella menangis, ibu tirinya mengajukan kembali syarat. “Jika kau dapat mengumpulkan kacang polong ke dalam dua panci dalam satu jam, kau boleh ikut dengan kami,” ujar ibu tiri. Ia yakin Cinderella tidak akan mampu melakukannya.

Ketika ibu tiri mengosongkan dua panci kacang polong, Cinderella kembali memanggil teman-temannya.

“Merpati yang jinak dan seluruh burung yang ada di bawah langit, datanglah dan bantu aku,

“Yang baik ke dalam panci
yang buruk jadi tanaman,”

Dua ekor burung dara terbang ke dapur melalui jendela. Kemudian tiba lagi beberapa dan bayak sekali burung yang datang, membantu Cinderella memungut kacang polong. Mereka mengambil semua kacang yang masih baik dan melemparnya dengan paruh ke dalam panci.

Kurang dari setengah jam, Cinderella dan teman-temannya berhasil mengumpulkan kacang-kacangan ke dalam dua panci. Ia kembali membawa panci itu ke ibu tirinya, senang karena ia berhasil memenuhi syarat untuk diizinkan pergi ke pesta.

“Semua ini tidak akan membuatmu pergi ke pesta itu. Kau tidak punya pakaian, sepatu, apalagi bisa berdansa! Kau hanya akan membuat kami malu,” kata ibu tirinya. Tanpa berkata lagi, sang ibu tiri pergi dengan dua anaknya meninggalkan Cinderella sendirian.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s