Infeksi Pencernaan

“Pencernaanmu infeksi,” kata dokter perempuan itu.

Hah? Infeksi pencernaan? Yang bener, dok?

“Terus gimana, dok?” tanya saya.

“Ya gak gimana gimana. Kamu gak boleh makan sayur dan buah dulu. Jangan makan pedes,” kata si dokter sambil menuliskan daftar obat yang harus saya minum dalam dua pekan ke depan. Setidaknya ada enam obat yang harus diminum.

Yah, baru beberapa pekan sebelumnya saya menertawakan teman yang kerjaannya sakit pencernaan terus. Sekarang saya malah kena karma diberi penyakit yang sama persis.

Infeksi pencernaan (mungkin) bukan penyakit yang menakutkan, tapi bikin sangat tidak nyaman. Kamar mandi menjadi kawan baik selama beberapa hari. Tempat tidur adalah tempat terbaik untuk berkeluh-kesah. Perut konser nonsetop selama beberapa hari.

a3

Dan infeksi pencernaan sukses membuat saya menurunkan berat badan dari 47 kg jadi 41,5 kg saja.

Lalu bagaimana ceritanya sampai penyakit ini bisa menggerogoti saya? Rasanya bisa kita mulai dari perjalanan ke Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP). Salah seorang bos di kantor mengajak saya mendaki Gede-Pangrango. Dia mau coba mendaki sehari. Means, naik di pagi hari dan turun di sore hari.

Berhubung sedang jenuh, saya iyakanlah ajakannya. Tadinya kami akan pergi bertiga dengan kawan lain yang juga mau mendaki. Tapi sehari sebelum berangkat, si kawan membatalkan niatnya. Entah dia memang sibuk, entah dia tak mau bicara pada saya. Sibuk? Cuma sehari, keles «~ curcol.

Dan duo ini berangkatlah. FYI, malam sebelumnya saya didaulat piket malam, yaitu bekerja dari pukul 12.00 AM sampai 06.00 AM.

Kami mulai mendaki dari Cibodas. Ternyata, di Cibodas ada tempat penginapan yang disebut barak. Tempatnya cuma semacam ruang kosong saja. Sekali menginap, bayaran Rp 5.000 per kepala. Silakan mencari tempat terbaik untuk tidur. Hati-hati barang tertukar atau berpindah tangan.

a1

Sampai di kaki Cibodas, kami menikmati bubur ayam superasin. Di barak, saya langsung tidur. Si bos, masih kelaparan.

Nahasnya, saya mungkin cuma bisa tidur selama setengah jam. Sisanya cuma tidur-tidur ayam. Pasalnya, di barak ada orkes ngorok x_X.

Di mata kawan-kawan, si bos dikenal sebagai orang yang tak pernah tidur. “Habisnya tiap ada komen di grup BBM, jam berapa pun dia selalu ngebales. Kayaknya ga pernah tidur, deh,” demikian komentar kawan saya.

Tapi nyatanya memang beliau ini manusia biasa yang butuh tidur. Tapi (lagi), rasanya lebih baik beliau ini tidak tidur (atau kamu jangan tidur dekat-dekat dia, piss). Karena, beliau adalah manusia yang diciptakan mampu bersuara dalam tidur. Dan sesuai ukuran tubuhnya, suara yang dihasilkan sama besarnya.

Nah, yang bikin tidak bisa tidur adalah si bos punya pesaing, yang tidur tidak jauh darinya. Keduanya membentuk sejenis alunan musik yang mungkin lebih cocok sebagai lagu nina bobo anak-anak Shrek dan Putri Fiona.

Oke, kita skip bagian konser.

a2

Pukul 07.00 AM kami mulai mendaki. Bagi yang pernah melalui jalur Cibodas, tentu sudah tahu jalur ini merupakan jalur yang sudah diberi bebatuan agar lebih nyaman untuk didaki. Jalur pendakian menuju Kandang Badak memakan waktu sekira lima jam. Itu pakai berhenti-berhenti, lho.

Saya lupa ada berapa pos yang harus dilewati (mungkin blog lain bisa membantu). Yang jelas, hari sudah pukul 12.30 ketika akhirnya kami sampai di Kandang Badak. Di sana, kami makan siang.

Ketika masih di barak, si bos meramu nasi uduk ayam yang biasa dimakan tentara. Cukup direndam air panas, nasinya pulen. Well, semacam nasi instanlah. Itulah yang jadi menu makan siang di suhu ±21 derajat celcius. Sekali sendok rasanya kayak makan sepiring. Sama seperti biskuit yang juga dia bawa. Superkeras, macam menggigit batu bata.

Cukup satu jam saja duduk santai di Kandang Badak. Setelah mengisi kembali pasokan minum di mata air, kami kembali ke bawah. Tadinya mau sekalian ke puncak, tapi mengingat waktu dan tenaga, rasanya nanti saja di kesempatan lain.

Dalam perjalanan turun, kami bertemu pendaki yang tadi disalip saat mendaki. Mereka cuma ternganga melihat kami turun. Hahah, macam orang betul saja mendaki lalu turun lagi. Mungkin seperti itu pikiran mereka.

a5

Kita skip (lagi) bagian turun.

Kembali ke Jakarta, semuanya berakhir baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Sampai pada suatu malam, dua hari kemudian, saya memuntahkan kembali seluruh makanan yang sudah saya makan dan bayar mahal tadi siang. Besoknya, hal serupa terjadi, plus diare.

Awalnya saya pikir ini cuma penyakit harian yang besok hilang. Sampai tiga hari tak sembuh-sembuh, akhirnya saya menyerah dan menghadap yang kuasa alias dokter. Dan percakapan di awal tulisan ini terjadilah.

Well, masih menjadi misteri apa yang membuat saya sakit pencernaan. Mungkin ketika itu kondisi fisik yang lelah, lalu makanan tidak dijaga sebelum berangkat, dan badan diforsir (ceritanya mau sok kuat). Apapun itu, setidaknya sekali seumur hidup saya sudah merasakan bagaimana nikmatnya infeksi pencernaan. Tapi ya sakitnya terbayar sebelumnya dengan menginjakkan kaki (kembali) di Gede-Pangrango.

Milik-Nya lah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? (55:24-25)

a6

n c02

Advertisements

One thought on “Infeksi Pencernaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s