Aceh, Bagian 1

Cerita ini mungkin sudah klise buat yang pernah mendengarnya.

Tapi ya sudahlah.

Setiap kali mendengar nama Nangroe Aceh Darussalam (NAD), saya selalu teringat akan tiga hal: tsunami, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan Masjid Baiturrahman.

Kita lupakan dua hal pertama.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menginjakkan kaki di ibu kota NAD, Banda Aceh. Kota ini sempat menjadi lautan mayat kala tsunami menghajar pada 2004 (yaelah, katanya lupakan).

Itu 10 tahun lalu. Sekarang, Banda Aceh sudah move on (kamu yang galau, kapan move on kayak Banda Aceh?). The show must go on, kata Queen.

Kota ini kembali hidup karena masyarakatnya beranggapan tsunami adalah musibah yang harus diambil hikmahnya. Tidak boleh lama-lama berduka, karena Tuhan punya rencana yang lebih indah. Demikian ujar seorang warga Banda Aceh.

Berbagai tugu peringatan dibangun, termasuk Museum Tsunami dan Monumen Kapal PLTD Apung. Keduanya menjadi saksi sejarah kebrutalan gelombang air yang menghabisi lebih dari 120 ribu nyawa. Sayang saya tidak sempat masuk ke kedua tempat ini, karena harus mengikuti protokol (eaakkkk).

Tidak sedikit Tuhan memberi keajaiban di tengah duka. Keajaiban itu adalah Masjid Baiturrahman. Masjid yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda ini kokoh berdiri meskipun gelombang menyerang hampir seluruh kota. Masjid Baiturrahman bahkan menjadi base camp korban selamat tsunami.

aceh 2

Seperti kota lain di Indonesia, masjid menjadi pusat keramaian. Baiturrahman sampai hari ini masih menjadi pusat berkumpulnya masyarakat Banda Aceh.

aceh 3

aceh16 DSC_0442

Banda Aceh dikenal sebagai kota seribu kedai kopi. Well, memang betul adanya, seperti Jakarta yang merupakan kota seribu mini market. Setiap sudut, selalu ada warung kopi. Sebaiknya Coffee B**n atau St*rbuck pikir-pikir lagi kalau mau buka cabang di kota ini. Sepertinya bakal kalah populer.

aceh 6

Warung kopi sudah menjadi rumah kedua bagi masyarakat Banda Aceh. Warung kopi adalah tempat masyarakat berkumpul, mengadakan pertemuan, rapat, menyatakan cinta, dan melakukan perjanjian. “Kalau rapat itu tidak di kantor, tapi di warung kopi,” kata seorang warga Aceh.

DSC_0473

Apalagi, kalau sudah ada pertandingan bola. Kedai kopi mendadak menjadi stadion. Semua warga Aceh, terutama laki-laki berkumpul, menonton, meskipun yang ditonton hanya televisi 29 inci.

aceh 5

Jangan salah, kedai kopi di Aceh pun sudah modern. Kedai kopi ini dilengkapi jaringan internet. Menurut seorang pramusaji warung kopi yang saya datangi, jaringan internet lokal nirkabel ini adalah kekuatan sebuah kedai kopi, selain kopi Ulee Kareng. Tanpa wi-fi, jangan harap warung kopi akan ramai oleh pengunjung.

aceh 16

Lupakan ritual klenik untuk menggaet lebih banyak pelanggan. Cukup perkuat jaringan wi-fi di kedai kopi Anda. Dijamin, peminum kopi dan pencari internet gratis datang dengan sendirinya.

Bersambung….

n c02

aceh 4

Advertisements

One thought on “Aceh, Bagian 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s