Kampung Adat Sade

Mendengar frase ‘kampung adat’, apa yang terlintas di pikiran? Pastilah sebuah desa kecil, tradisional, dengan segala keprimitifannya. Belum lagi orang-orangnya yang katro, ketinggalan zaman dan tidak melek teknologi.

Sebetulnya tidak salah, sih, menyebut kampung adat seperti itu. Karena, memang kampung ini dijaga tetap tradisional untuk melestarikan sisa-sisa peninggalan sejarah yang habis dimakan modernitas. Tapi sepertinya terlalu berlebihan kalau orang di kampung adat diimajikan sebagai primitif dan katro.

Salah satu kampung adat yang ada di Indonesia bernama Dusun Sade. Dusun ini terletak di Lombok tengah, 30 kilometer dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lokasinya persis di pinggir jalan Praya-Kuta. Tidak akan terlalu sulit menemukan lokasinya karena sebuah papan petunjuk cukup besar akan memberikan sinyal wisatawan untuk berhenti.

download (2)

Sade berasal dari bahasa lokal yang artinya obat. Sebelum menjadi perkampungan penduduk, Dusun Sade adalah sebuah bukit tempat masyarakat Sasak berobat. Memang ketika dijelajahi, desa ini berkontur seperti bukit. “Dulunya Sade adalah perbukitan yang dikeramatkan masyarakat setempat,” kata Wiredane (23 tahun), pemandu wisata sekaligus penduduk Sade.

Sade merupakan dusun tertua di Lombok Tengah. Wire mengata – kan, sudah 17 generasi menghuni Dusun Sade. Sekarang desa ini memiliki 150 kepala keluarga yang terdiri atas 750 penduduk.

Hampir seluruh penduduk laki-laki Sade bermata pencaharian sebagai petani. Namun, karena petani di Sade bertani dengan sistem tadah hujan, mereka hanya panen satu kali setahun. Untuk mencukupi pasokan beras, petani Sade membangun lumbung penyimpanan padi. Lumbung padi masyarakat Sade mirip dengan lumbung padi masyarakat Sasak pada umumnya.

download (8)

Satu lumbung padi mencukupi kebutuhan empat hingga lima keluarga. Masyarakat Sade tidak menjual hasil taninya ke luar karena seluruhnya dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari sampai masa panen selanjutnya. Bagi masyarakat Sade, hanya laki-laki yang boleh naik ke lumbung. “Ada mitos perempuan yang naik ke lumbung akan mandul,” kata Wire yang sedang menempuh studi perguruan tinggi di sebuah universitas di NTB.

Perempuan Sade umumnya tidak ikut bertani. Mereka biasanya menenun. Lombok memang terkenal dengan tenun songket Sasak. Hampir seluruh perempuan Sade pandai menenun benang menjadi songket. Pekerjaan ini sudah ditekuni sejak usia tujuh tahun. Hasil tenunan kemudian dijual.

Perempuan Sade juga memiliki keahlian memintal benang sendiri untuk tenun. Dengan alat pintal sederhana yang terbuat dari kayu, perempuan Sade memenuhi kebutuhan tenunnya. Ada berbagai jenis hasil tenun perempuan Sade, yaitu syal, kain, sampai sarung. Harganya pun bervariasi bergantung benang yang dipakai dan kerumitan motif. Semakin rumit motifnya, semakin mahal harganya. Selain tenun, perempuan Sade juga membuat kerajinan, seperti gelang.

download (4)

Warga Sade masih mempertahankan bentuk rumah tradisional. Rumah yang disebut Bale Tani ini terbuat dari bambu dan kayu. Atapnya menggunakan daun alang- alang. Sebagai pondasi dan lantai rumah, masyarakat Sade memanfaatkan sampah tani alias jerami yang dicampur dengan tanah liat. Uniknya, lantai rumah masyarakat Sade dipel dengan kotoran sapi dicampur air. Selain sebuah ritual turun-temurun, mengepel dengan kotoran sapi dipercaya dapat mencegah kehadiran nyamuk di dalam rumah.

Namun, kegiatan ini tidak lagi dilakukan seluruh penduduk Sade. Sejak Islam masuk ke Lombok, masyarakat Sade mengurangi kegiatan itu karena dianggap najis. Hanya sesekali saja mengepel dengan kotoran sapi dilakukan, sebagai bentuk penghormatan pada adat masa lalu.

download (7)

Rumah masyarakat Sade terdiri atas dua-tiga ruangan, ruang depan, tengah, dan satu kamar. Satu kamar ini ditempati oleh anak perempuan yang belum menikah. Kamar ini juga dipakai jika perempuan Sade melahirkan. Sedangkan, orang tua tidur di ruang depan.

Ruang belakang posisinya lebih tinggi dibandingkan ruang depan. Untuk mencapai ruang belakang, terdapat tiga tangga yang memiliki makna tiga tahapan kehidupan, yaitu lahir, berkembang, dan mati. Selain lumbung dan bale tani, Dusun Sade juga memiliki balai pertemuan. Balai ini menyerupai pendopo dan dipakai untuk musyawarah, menerima tamu, dan acara pernikahan.

download

Sebelum mengenal Islam, penduduk Sade menganut agama yang disebut Wetu Telu atau Waktu Tiga. Agama ini merupakan campuran dari Hindu, Buddha dan animisme. Saat ini, 100 persen penduduk Sade menganut agama Islam. “Penduduk Sade mulai menganut Islam sejak generasi ketujuh dan kedelapan,” ujar Wire.

Dusun Sade hanya satu dari ribuan kampung adat yang dipertahankan sebagai prasasti sejarah masa lalu. Banyak kampung adat lainnya tersebar di seluruh negeri yang berusaha melestarikan kejayaan dan kemakmuran masa lalu.

download (5)

Hanya, tidak semua terbuka seperti Dusun Sade. Bagi masyarakat Sade, turis merupakan aset penting karena dari turis mereka mendapatkan pendapatan, baik dari penjualan tenun atau sumbangan alakadar untuk melihat-lihat dusun.

Kondisi ini berbeda dengan masyarakat Baduy. Seperti yang pernah ditulis National Geographic Indonesia (NGI), tidak selamanya kunjungan wisatawan memberikan berkah bagi masyarakat kampung adat.

Masyarakat Baduy bukannya menolak kedatangan orang lain yang ingin melihat keelokan negeri mereka. Hanya, banyaknya pemberitaan tentang Suku Baduy membuat jumlah wisatawan membludak. Dan kalau ratusan kepala berkumpul dalam satu tempat, tentu tidak mungkin bisa tertib. Sampah berserakan merusak alam Baduy, tamu-tamu yang berisik, dan mengganggu keseimbangan alam.

n c02

download (6)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s