Pasar Tumpah di Puncak

Catatan Perjalanan Cikuray Bagian II-habis

Sunrise

Meskipun sudah masuk Bulan April, hujan masih saja mengguyur kota impian DKI Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, hujannya deras seperti ada sumbat raksasa yang sengaja dibuka di langit. Jakarta nyaris lumpuh akibat macet.

Lumpuh. Itu yang saya pikirkan ketika terbangun pukul satu, Ahad (31/3) dini hari waktu Cikuray. Dingin yang menusuk, capek, semuanya menumpuk di dalam sleeping bag. Saat di gunung, kasur adalah hal yang paling dirindukan. Dingin membuat seluruh tubuh lumpuh dan tidur di dalam sleeping bag adalah pilihan yang sangat bijak.

Kawan membangunkan saya untuk bersiap menuju puncak Cikuray, melihat matahari terbit. Perjalanan agak jauh, memang. Masih tiga jam lagi.

Setelah meregangkan kaki dan melemaskan otot, kami pun berjalan beriringan. Senter siap menerangi gelapnya malam. Tentu saja mengisi perut seadanya. Kami berencana untuk sarapan pagi di puncak.

Sebelum ke Cikuray, saya sempat berdiskusi dengan Google tentang gunung yang terletak di Kabupaten Garut tersebut. Salah satu portal berita populer di Indonesia mengatakan, melihat matahari terbit dari puncak Cikuray adalah pengalaman yang harus dimiliki setiap pendaki. Berdiri di atas sana, seperti sedang berada di negeri di atas awan.

DSC_0341

Pernah nonton film Doraemon tentang Kerajaan Awan? Nah, sejenis itulah kalau di dalam imajinasi saya, hehehe. Menggambarkan negeri awan itu di dalam kepala, saya pun mendaki menuju puncak Cikuray.

Dan kenyataannya?

Indah, memang, kalau tidak seramai ini.

DSC_0327

Pasar pagi seperti pindah dari Malangbong ke puncak Cikuray. Jangankan menikmati matahari terbit, untuk memindahkan kaki saja sulit!

Melihat sunrise di puncak bukan ambisi saya mendaki. Tapi ingin juga sesekali melihat si bola api terbit di sebelah timur ketika berada di titik tinggi. Tapi kalau ada 500 orang di puncak, apa nikmatnya melihat matahari terbit? Apalagi sampai ada yang bawa tongsis alias tongkat narsis. Semua berkodak, tak peduli dengan yang betul-betul ingin menikmati dingin dan matahari dengan tenang.

DSC_0325

Pendakian gunung hari-hari ini tidak lagi eksklusif. Pendaki, siapa yang disebut pendaki hari ini? Pendaki sudah berevolusi menjadi traveler karena mendaki sudah berubah menjadi traveling. Mendaki gunung sudah sama mudahnya dengan jalan-jalan ke Pantai Kuta. Atau ke Gili Trawangan. Atau ke Candi Borobudur. Atau ke Ragunan.

Beberapa anak mengaku ini kali pertama mendaki sebuah gunung. “Aku pengen liat sunrise di puncak,” kata si A. “Aku mau liat bunga edelweiss,” ujar si B. Dan macam-macam alasannya.

Stres melihat banyaknya orang, saya memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Apalagi rencana makan pagi di puncak batal gara-gara kompor ketinggalan di tenda. Selain itu, tidak ada ruang yang layak untuk mengasapi kompor.

Teman-teman masih di atas saat saya turun. Masih foto-foto.

DSC_0339

Buyar sudah rencana mencari ketenangan di Cikuray. Buyar menguadrat ketika kaki kanan saya tergesek akar dan menyisakan lingkaran merah yang kemudian darahnya menganak sungai di celana. “Oleh-oleh dari Cikuray,” saya mendengar seseorang bicara di belakang saya ketika tertatih-tatih menuruni trek yang curam.

Sampai di bawah, saya sudah tidak bisa lagi merasakan kaki. Lutut sudah tidak bersahabat. Betis dan paha berontak minta istirahat.

Tampaknya memang Cikuray tidak menerima kedatangan saya. Perjalanan turun yang harusnya cuma dua jam mengganda jadi empat jam hanya karena luka bundar kecil di kaki kanan. Coba kalau saya tidak terburu-buru turun, pasti tidak bakal begitu ceritanya. Atau saya seharusnya memakai sepatu. Atau saya harusnya tidak turun lebih dulu, tapi bersama teman-teman lain.

Well, takdir sudah bicara, mau apa? Sudah tersurat kalau saya harus mendaki di peak season, mendaki memakai sendal, luka tergesek akar, lumpuh ketika sampai di pos awal pendakian, dan harus tepar seharian setelahnya. Sudah tercatat.

Kapok? Tidak juga. Belum lagi paha ini sembuh dari pegalnya, saya sudah merencanakan perjalanan lain dengan kawan-kawan. Mungkin masih menjelajahi gunung di sekitar Garut, atau mulai bergeser ke wilayah Jawa Tengah, siapa tahu?

Perempuan memang masokis. Mereka punya cara tersendiri untuk menunjukkan kemasokisannya. Bisa menyiksa diri dengan pakaian, gadget, punya pacar sadistis, atau seperti saya, mendaki. Salam mrenges dari 2.821 mdpl.

n c02

DSC_0332

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s