Perempuan Masokis Masa Kini

Catatan Perjalanan Cikuray Bagian I

Sambil memasang kuda-kuda seperti mau bertarung, botol kuning kecil saya buka tutupnya. Kaki kanan saya angkat ke atas kaki kiri, dan saya pegang erat.

Sambil memicingkan mata, saya meneteskan isi botol kuning ke sebuah lingkaran imut-imut di tumit kaki. Diameternya sekira satu sentimeter. Warnanya merah daging.

Well, itu memang daging. Kulitnya sudah mengelupas ketika saya dalam perjalanan menuruni Gunung Cikuray, Ahad (31/3). Darahnya sudah berceceran sejak hari itu dan mengotori celana. Sekarang tinggal sakitnya. Pedih sekali rasanya saat si daging tak berkulit disiram povidone iodine 10 persen.

Ketika melakukan operasi kecil-kecilan itu, saya teringat akan status senior di salah satu media sosial miliknya. “Perempuan itu masokis. Sukanya menyiksa diri demi dibilang cantik,”

Masokis merupakan sebuah kelainan kejiwaan yang secara sederhana diartikan sebagai “semakin disiksa semakin senang”. Asosiasinya pada kelainan seksual. Tapi tidak juga.

foto oleh: @trendhunter
foto oleh: @trendhunter

Pada perempuan, masokis dicontohkan ketika dia memakai stiletto yang menyiksa demi dikatakan cantik. “Duh, kakimu bagus pake sepatu itu,” pujian sejenis pasti diharapkan oleh pemakai stiletto. Atau ketika memakai baju tipis dan terbuka pada acara ajang penghargaan, padahal di ruangan itu AC diset nol derajat celcius. Tujuannya? Ya biar dipuji. “Baju kamu bagus, deh. Beli di mana?” atau “Duh, cantiknya kamu pakai gaun itu,”

Lalu apa hubungannya masokis dengan luka milik saya akibat bergesekan dengan akar pohon?

Setiap mendaki, saya tidak pernah tidak terluka. Kalau tidak di kaki, ya di tangan, ya di lutut, ya di hati (eeaakk). Pasti selalu membawa oleh-oleh. Tapi entah mengapa, luka-luka yang saya alami, baik parah ataupun ringan, tidak membuat saya kapok mendaki.

Bahkan ketika kaki menjadi kaku, paha dan betis mengencang, lutut gemetar dan tak mampu menopang tubuh, tidak juga menghilangkan semangat saya untuk merayap menuju puncak tonggak bumi. Yah, kepuasan menjelajahi gunung dengan segala siksaannya telah membuat saya menjadi seorang masokis. Semakin sulit trek, semakin senang saya. Semakin sakit perjalanan, semakin tertantang saya.

Lalu apa yang saya cari di puncak? Mengapa berambisi melihat puncak?

Sebetulnya tidak juga. Mendakilah yang menjadi ambisi saya. Puncak itu hanya bonus. Saya berambisi ingin membanggakan diri ketika ditanya. “Gue udah pernah ke gunung ini, ini dan ini. Di gunung ini ada ini, di gunung itu treknya begitu,”. Tampaknya begitulah masokis versi saya.

Saya pun tidak mengerti apa yang saya cari di gunung. Menyiksa badan, tidak mandi berhari-hari, makan seadanya, membawa beban berat dan masih banyak hal negatif lain. Menikmati alam? Bisa jadi. Penelitian vegetasi? Tidak juga. Lari dari kenyataan? Mungkin saja.

Mendaki Cikuray (2.821 mdpl) menjadi pendakian yang berbeda bagi saya. Well, setiap pendakian memang sensasinya berbeda. Tapi yang ini benar-benar lain.

Belum pernah saya selemah ini saat mendaki. Entah trek yang menanjak tanpa bonus atau kaki yang memang tidak mampu atau karena salah kostum. Yang jelas, Cikuray menjadi saksi ketika si saya turun gunung sampai tertatih-tatih, sempoyongan, dan hampir pingsan. Persendian tidak bersahabat dan seluruh kaki rasanya seperti agar-agar.

Cikuray adalah gunung tidak berkawah pertama yang saya daki. Treknya menanjak tanpa bonus dari pos pertama sampai puncak. Yaaa, mirip-mirip perjalanan dari Kalimati ke Arcopodo di Semeru.

DSC_0310

Ada 6 pos yang harus dilewati plus satu pos bayangan. Berbeda dengan gunung lain yang memiliki lapangan luas sebagai lokasi mendirikan tenda, Cikuray tidak seperti itu. Setiap pos hanya memiliki sedikit ruang untuk pendaki mendirikan tenda. Jangan bayangkan Kandang Badak di Gunung Pangrango atau Suryakencana di Gunung Gede. Apalagi Ranu Kumbolo di Semeru.

Sialnya, saya dan dan enam kawan lain mendaki pada peak season. Jadi, kami terpaksa mencari lahan kosong untuk mendirikan tenda. Kami sudah diwanti-wanti oleh pendaki yang turun untuk segera berhenti dan mencari tempat mendirikan tenda. Karena semakin ke atas, semakin sulit mencari ruang.

Akhirnya, kami mendirikan tenda di pos tiga, persis di pinggir jurang. Tidak ada tempat lain. Perjalanan dari pos awal pendakian sampai pos tiga memakan waktu sekira tiga jam.

Setelah tenda berdiri, kami menyiapkan makan sore, kemudian istirahat. Perjalanan menuju puncak Cikuray yang konon katanya seperti berada di negeri di atas awan masih panjang. Mungkin tiga jam perjalanan sampai ke titik tertinggi.

n c02

DSC_0351

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s