Jangan Panggil Aku Ahmad

ALERT: Tulisan ini tidak dibuat untuk menjelek-jelekkan siapapun. Nama-nama di bawah ini hanya contoh. Jadi don’t take it seriuosly. Seperti yang Joker bilang, “Why so seroius?”

Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh kantor untuk menelepon seorang narasumber. Namanya Ahmad Erani Y. Saat menuliskan namanya di sebuah artikel, ingatan saya berlari ke masa sekira dua tahun lalu ketika seorang redaktur menelepon untuk menanyakan hal yang menurut saya tidak penting.

“Bos, ini Ahmad siapa di tulisanmu?” begitu kira-kira redaksional yang dia pakai.

“Itu gubernur Jawa Barat, bos,” jawab saya.

“Lain kali, Kalo nulis namanya pake nama belakang aja. Kalo pake Ahmad gak jelas Ahmad siapa,” ujar bos saya.

Lah, bukannya orang Indonesia suka pakai nama depan? Apa nama Ahmad terlalu mainstream? Atau memang si bapak sejak kecil dipanggil dengan nama belakangnya, bukan Ahmad.

Awalnya saya pikir hanya si gub ini yang mendapat kehormatan untuk dipanggil dengan nama belakang. Ketika sampai di orang bernama Ahmad yang lain, saya diminta untuk menulisnya dengan nama tengah atau nama belakangnya saja. Pun Ahmad ketiga, keempat, dan yang lainnya.

Memang, di Indonesia bahkan mungkin di dunia ada banyak orang bernama Ahmad (atau Achmad, Ahmet, Ahmed, dan lain-lain penulisan). Saya tidak bilang nama ini jelek. Justru nama ini sangat bagus karena artinya (menurut om Google) adalah ‘terpuji’. Ibu mana yang tidak mau punya anak yang namanya bagus? Apalagi Ahmad ini adalah nama Nabi Muhammad saw.

Hanya mungkin karena terlalu banyak yang dipanggil Ahmad, akan sulit mebedakan antara Ahmad pejabat ini dan Ahmad pejabat itu. Sehingga, lebih baik memakai nama tengahnya saja, kan? Biar gak ribet.

Banyak orang hebat yang pake nama Ahmad, kok. Di Indonesia misalnya, ada Ahmad Yani. Lalu ada Ahmad Heryawan, Ahmad Bustomi. Saya membayangkan media pada zaman Ahmad Yani menuliskan panggilan beliau sebagai Yani. Hm….

Kesultanan Ottoman juga punya pimpinan bernama Ahmad, Ahmed I. Mantan Presiden Irak bernama Ahmed Hassan. Banyak deh.

Nasib Ahmad ini sama seperti Muhammad. Laki-laki yang diberi nama depan Muhammad biasanya dipanggil dengan nama belakang, seperti lelaki bernama Ahmad. Well, sejatinya untuk membedakan saja. Asal tahu, satu dari 100 anak laki-laki di Indonesia diberi nama Muhammad. Bayangkan kalau kamu memanggil seorang dengan nama itu di satu ruangan, ada berapa orang yang menoleh?

Hanya yang membuat heran adalah nama Bambang. Banyak narasumber yang bernama Bambang tapi tidak ditulis nama belakangnya. Misalnya seperti Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro atau seniornya di Banteng, Bambang Subianto dan Bambang Soedibyo. Bagaimana kalau ketiga ahli ekonomi ini bertemu dalam satu seminar? Bagaimana moderator akan menengahinya?

“Silakan, Pak Bambang memberi komentar,” kata moderator. Saya jamin, ketiganya bakal celingak-celinguk mencari siapa yang diminta bicara lebih dulu.

Mungkin satu dari 50 laki-laki di Indonesia bernama Bambang. Di kontak smartphone saya yang dibuat oleh perusahaan asal Kanada, ada banyak yang namanya Bambang. Itu belum termasuk yang disamarkan atau yang hanya ditulis nama panggilan.

Anehnya, kasus nama mirip ini jarang sekali menimpa nama perempuan. Apa mungkin karena kebanyakan ibu lebih suka bereksperimen dengan nama anak-anak perempuan mereka daripada anak laki-laki? Entah.

Tapi sekali lagi saya tekankan, bukan berarti nama-nama itu jelek, lho. Ini kan cuma soal panggilan. Yang bertujuan agar tidak salah orang. Apapun itu, Rasulullah berpesan agar kita memanggil seseorang dengan nama yang dia sukai.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s