Tiga Pandir

Di negeri nun jauh, hiduplah seorang petani dan istrinya. Mereka memiliki seorang anak gadis yang cantik. Seorang lelaki menyukai anak gadis mereka dan ia mendekatinya.

Setiap malam, lelaki itu selalu datang berkunjung untuk makan malam di rumah petani. Si gadis selalu diminta mengambil minuman di gudang bawah tanah.

Maka pada suatu malam, ia turun ke gudang seperti biasanya. Tanpa sengaja dia melihat ke langit-langit gudang. Sebuah palu tersangkut di antara kayu di langit-langit. Pastilah palu tersebut sudah tersangkut selama bertahun-tahun tanpa ada yang menyadari.

Si gadis kemudian berpikir. “Aku dan lelaki ini seharusnya menikah dan kami memiliki seorang anak. Anak kami akan tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Ia pada suatu hari akan diminta untuk mengambil minuman di gudang bawah tanah ini, seperti yang sekarang aku lakukan. Dan palu itu jatuh menimpa kepalanya dan ia akan mati karenanya. Ya Tuhan, sungguh mengerikan,”

Maka gadis itu menyimpan lilin dan teko, kemudian mendudukkan diri, lalu menangis. Ia membiarkan minuman setengah terbuka dan tumpah ke lantai gudang.

Sang ibu menyadari anak gadisnya tak kunjung naik dari gudang. Maka, ia mencari tahu apa yang sedang dilakukan anak gadisnya. Ia melihat anak itu menangis tersedu-sedu di lantai gudang.

“Oh, apa yang terjadi?” tanya sang ibu.

“Ibu, lihatlah palu yang tertancap di langit-langit. Aku harusnya menikah dengan lelaki itu dan memiliki seorang anak. Anakku tumbuh dewasa dan turun ke gudang ini. Kemudian palu itu jatuh mengenai kepalanya dan dia meninggal. Sungguh mengerikan, Ibu,” kata si gadis.

“Anakku, betapa mengerikannya itu,” kata ibunya. Sang ibu duduk di sebelah anaknya dan mulai menangis pula.

Lalu sang ayah, yang penasaran anak dan istrinya tak kunjung kembali, menyusul mereka ke gudang. “Ada apa dengan kalian?” kata si petani ketika melihat ibu dan anak menangis di gudang.

sillies bir

“Lihatlah palu itu. Anak kita seharusnya menikah dengan lelaki yang menjadi tamumu. Mereka akan memiliki anak yang juga tumbuh dewasa dan turun ke gudang ini. Lalu palu itu jatuh menimpa kepalanya dan ia meninggal. Tidakkah itu mengerikan?” ujar istri petani.

“Ya Tuhan, itu betul-betul mengerikan,” ujar si petani. Ia duduk di sebelah istrinya dan ikut menangis.

Kini, si pria yang menjadi tamu mereka mulai bosan menunggu di dapur. Ia penasaran apa yang dilakukan keluarga itu di gudang, lalu menyusul mereka. Di gudang, mereka melihat tiga beranak menangis. Lantai gudang telah banjir oleh minuman yang tumpah.

“Apa yang kalian tangiskan?” tanya si lelaki dengan muka terkejut.

“Oh, lihatlah palu yang menancap itu. Kau dan anak gadis kami seharusnya menikah dan memiliki seorang putra. Putra kalian tumbuh dewasa dan dia turun ke gudang ini mengambil minuman. Kemudian palu itu menimpa kepalanya dan ia meninggal,” ujar di petani. Setelah itu, mereka menangis lebih keras dari sebelumnya.

Bukannya ikut menangis, si lelaki malah menertawakan ketiganya. Ia mengambil kursi, memanjatnya dan menarik palu yang menancap. Kemudian lelaki ini berkata, “Aku sudah bepergian puluhan mil, tapi tidak menemukan orang sepandir kalian. Kini aku akan mulai mengembara lagi. Jika aku dapat menemukan tiga kebodohan yang melebihi kalian, aku akan kembali dan menikahi gadis ini,” kata si lelaki.

Maka, lelaki ini pun meninggalkan rumah si petani. Si gadis menangis tambah kencang karena ia baru saja kehilangan kekasihnya.

Pergilah si petualang ke negeri nun jauh. Akhirnya ia sampai di pondok milik seorang perempuan tua. Atap pondok itu ditumbuhi oleh rerumputan. Si perempuan tua berusaha mengangkat sapinya ke atap.

Heran, si lelaki bertanya kepada perempuan itu.

“Lihatlah rumput yang tumbuh di atap pondokku. Aku akan membawa sapi ini ke atap agar ia memakan rumput-rumput itu. Aku akan menjamin keamanannya karena akan kuikat dia di leher. Tali itu akan kulempar ke cerobong asap dan aku memegangnya dari dalam, memastikan sapiku tidak terjatuh,” ujar si perempuan.

Si lelaki tertawa mendengarnya. “Mengapa kau susah-susah mengangkat sapi ke atas. Bukankah lebih baik kalau kau mencabut rumput itu dan melemparnya untuk makan sapimu?” kata si lelaki.

Namun perempuan itu berpikir akan lebih mudah jika ia menyuruh sapinya memakan sendiri dari atap. Si lelaki tidak berargumen lagi, kemudian meninggalkan si perempuan pandir tersebut.

sillies sapi 2

Belum jauh ia berjalan, sapi yang berada di atas atap tiba-tiba jatuh. Sapi yang berat tersebut sudah diikat di lehernya dan dipegang erat oleh si perempuan dari dalam rumah melalui cerobong asap. Namun karena sapi tersebut berat sekali, ia jatuh dan menarik si perempuan melalui talinya. Si perempuan terjepit di cerobong asap pondoknya.

Itu adalah kejadian bodoh pertama yang dialami si lelaki.

Lalu, ia pun melanjutkan perjalanan. Karena sudah malam, ia memutuskan untuk bermalam di sebuah peningapan. Karena penginapan penuh, ia harus berbagi kamar dengan seorang pengelana lain.

Mereka cepat sekali akrab karena si pengelana adalah orang yang sangat ramah. Namun pada pagi hari, si lelaki terkejut sekali ketika melihat kawan sekamarnya tengah mencoba melompat dari atas lemari. Ia menggantung celananya di dua kenop lemari. Pengelana itu melompat ke arah celananya, lagi dan lagi. Si lelaki heran sekali dengan tingkah si pengelana dan bertanya-tanya apa yang sedang dia kerjakan.

“Saya berpikir celana adalah pakaian paling aneh yang pernah ada. Saya memerlukan waktu berjam-jam untuk memakainya saja. Bagaimana denganmu?” tanya si pengelana.

Maka tertawalah si lelaki. Ia menunjukkan bagaimana sehari-hari dia memakai celana. Heran betul si pengelana dengan cara si lelaki memakai celana. Ia belum pernah menemukan orang memakai celana seperti itu.

Maka, itu menjadi kekonyolan besar kedua yang ditemui si lelaki.

Setelah membayar sewa penginapan, si lelaki meninggalkan kawan pengelananya. Kemudian ia sampai di sebuah desa dengan sebuah kolam di tengah desa. Kolam tersebut dikelilingi banyak orang. Mereka menggunakan garu, sapu dan garpu rumput untuk mencapai dasar kolam.

“Apakah yang tengah orang-orang lakukan?” tanya si lelaki pada seorang anak.

“Bulan telah jatuh ke dalam kolam. Kami tidak dapat mengambilnya,” kata si anak.

sillies bulan 2

Meledaklah tawa si lelaki mendengar keterangan itu. Ia menyuruh seluruh orang yang berada di sekitar kolam untuk melihat ke langit. Apa yang mereka lihat di dalam kolam hanya bayangan bulan yang tetap setia menemani langit.

Sayang, tidak satu pun penduduk desa tersebut yang mendengarkan. Bukannya senang, penduduk tersebut justru marah kepada si lelaki dan berusaha menangkapnya.

Itu, adalah kekonyolan besar ketiga yang lelaki tersebut temukan dalam perjalanannya.

Sesuai janjinya, ia kembali ke rumah si petani dan menikahi putri petani. Dan jika mereka tidak hidup bahagia selamanya, itu tidak ada hubungannya dengan aku atau kalian.

(Three Sillies, English Fairy Tales from Joseph Jacobs)

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s