Sepeda untuk Wadjda

Film asal Timur Tengah selalu berhasil membuat saya terpukau. Filmnya kebanyakan berplot sangat sederhana. Dan tipikal film asal Timur Tengah adalah tidak banyak percakapan. Visualisasi lebih banyak bicara ketimbang aktris yang berperan di dalamnya.

Pertama kali saya menonton film bangsa Arab-Persia ini adalah film Children of Heaven yang dirilis pada 1997. Ceritanya sederhana, tentang seorang anak di Iran yang ikut lomba lari untuk memenangkan sepasang sepatu.

Kesederhanaan cerita adalah kekuatan film Timur Tengah. Aturan Islam yang sangat ketat tampaknya menjadi isu yang sangat umum di film-film Timur Tengah seperti Afghanistan, Arab Saudi, dan Iran.

foto oleh NYTimes
foto oleh NYTimes

Ini pula yang diangkat oleh sutradara asal Arab Saudi, Haifaa Al-Mansour, dalam filmnya yang diberi judul Wadjda (2012). Film ini berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Wadjda yang sangat menginginkan sebuah sepeda. Orangtuanya melarangnya bersepeda karena perempuan di Arab Saudi tidak boleh mengendarai sepeda.

Wadjda ingin sekali memiliki sepeda agar dia bisa berlomba dengan tetangga yang juga teman dekatnya, Abdullah. suatu hari ia melihat sebuah sepeda di toko mainan dan menabung untuk mendapatkan sepeda tersebut.

Karena orangtuanya melarang, Wadjda akhirnya mengikuti klub hafalan Alquran. Tujuannya adalah mengikuti lomba hafalan Alquran untuk memperebutkan uang senilai 1.000 riyal. Dengan uang ini, Wadjda mampu mewujudkan keinginannya.

Kepala Sekolah sangat mengagumi kemampuan hafalan Wadjda. Padahal, gadis ini terkenal sebagai murid pembangkang yang sering bolak-balik dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Wadjda memenangkan lomba tersebut dan berhak mendapatkan hadiah yang dimaksud. Sayang, hadiah itu bukannya masuk ke kantongnya, tapi malah disumbangkan ke Palestina.

Arab Saudi dikenal sebagai negara yang menetapkan aturan ketat, terutama untuk perempuan. Perempuan tidak boleh memperlihatkan aurat di depan umum, tidak boleh menyetir, tidak boleh keluar sendirian, dan masih banyak aturan lain. Selain itu, posisi tawar perempuan sangat rendah. Apalagi kalau dia tidak bisa memberikan keturunan anak laki-laki.

foto oleh Onechanel
foto oleh Onechanel

Hal ini pula yang dialami ibu Wadjda. Ia sangat patuh terhadap suaminya, memberikan segala yang ia miliki. Tapi ia tidak mampu meminta sang suami untuk tidak menikah lagi. Ini disebabkan oleh ketidamampuannya memberi anak laki-laki yang merupakan aset penting untuk melanjutkan garis keturunan (patriarki sekali!).

Akhirnya? Sederhana: Wadjda mendapatkan sepeda impiannya karena sang ibu tidak ingin anaknya berakhir seperti dirinya.

Yah, meskipun minim dialog dan lebih banyak bahasa tubuh, film ini membuat saya terharu. Kemudian saya bersyukur karena tidak terlahir di Arab Saudi. Bayangkan, betapa ‘rendahnya’ posisi perempuan di sana. Mungkin memang pemerintahnya sangat menghargai perempuan, tapi kalau sampai tidak bisa boleh keluar sendiri, harus pakai burqa dan tidak boleh menyetir? Hm….

Film berdurasi 98 ini wajib ditonton. Film ini memenangkan Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award ke-86. Untuk Wadjda saya beri 8/10.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s