Van der Wijck = The Great Gatsby?

“Adat lo kejam banget, sih!” ujar teman saya di sela penayangan film ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ di sebuah bioskop. Tawa miris, saya berikan sebagai balasan.

Ya, dulu adat Minang memang kejam. Seorang anak yang lahir dari ayah Minang dan ibu non-Minang akan lahir tanpa suku. Kalau tidak bersuku, anak itu tidak akan punya induak bako atau keluarga besar dari ayah. Kalau sudah begitu, jangan harap anaknya akan punya teman dekat atau diajak dalam diskusi, terutama diskusi adat.

foto oleh @tribunnews
foto oleh @tribunnews

Sekarang, adat sekeras itu mulai melunak. Islam yang juga menjadi panutan orang Minang semakin mendarah daging. Sehingga, adat pun kini sedikit demi sedikit berpaku pada agama.

Itu adalah salah satu yang ingin disampaikan Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka lewat bukunya yang diterbitkan di pertengahan 1930an. Hamka ingin mengkritik kuatnya adat pada masa itu, yang saking kuatnya mereka tidak menerima keberagaman dan bahkan tega menilai orang lain tidak beradat hanya karena tidak bersuku atau tidak jelas ninik mamaknya.

Buku fenomenal yang sempat mengundang kritik inilah yang diangkat Sunil Soraya ke dalam media baru penceritaan: film. Sunil ingin memberikan visualisasi karangan Hamka kepada pembaca setianya.

Film yang berdurasi tiga jam tersebut membuat hampir seluruh penonton menangis. Saya heran sekali, mengapa hal itu tidak terjadi ketika saya menonton film ini. Satu-satunya kejadian yang membuat saya agak merinding adalah ketika Zainuddin melampiaskan isi hatinya kepada Hayati yang baru menjadi seorang janda. Akting Zainuddin lebay, sih. Tapi lumayan membuat saya terpaku di kursi.

foto oleh @wowkeren
foto oleh @wowkeren

Secara keseluruhan, saya suka alurnya. Tidak ada yang meragukan buku karangan Hamka yang diadaptasi Sunil nyaris detail. Hanya akting pemainnya yang membuat saya geli, terutama tokoh utama perempuan. Saya merasa sejak awal pemeran Hayati sudah salah orang. Memang sih, saya belum tentu mampu berakting seperti dia. Tapi yang saya lihat dia bermain seperti di film televisi di stasiun swasta, bukan film.

Memang, pemain untuk film ini bukanlah native-speaker negeri Batipuh. Sehingga, dialek dan bahasa Minang mereka hilang-timbul. Bahkan beberapa juga salah mengucapkan bahasa Minangnya, hanya Bahasa Indonesia yang diminangkan (tahu, kan, kebanyakan orang berpikir bahasa Minang selalu memiliki akhiran -o atau -iang). Yang bicara minangnya bagus ya cuma pemain pendukung yang asli orang Minang saja. Tapi usaha mereka perlu diapresiasi.

foto oleh @wrecksite
foto oleh @wrecksite

Awalnya saya berpikir film ini akan sedikit banyak mengadaptasi film Titanic. Apalagi kisah cinta mereka sama-sama tidak sampai. Tapi ternyata film ini lebih mendekati gaya film The Great Gatsby. Gaya pemainnya, setting pesta, rumah mewahnya, mobilnya, adegan balapannya. Yah, saya berusaha mengambil sisi positifnya. Film ini berlangsung di dekade yang hampir berdekatan, yaitu 1920an dan 1930an. Peristiwa Titanic juga berdekatan, sih, 1912.

Ah, sudahlah. Meskipun buruk, ini hasil dari negeri sendiri. Hal utama yang saya inginkan dari sebuah film adalah nilai yang ingin disampaikan kepada penonton. Semoga film ini memberikan banyak amanat positif pada penonton, terutama penonton yang masih belia. Untuk film ini saya beri 7/10.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s