Say ‘Thank you’, Gilbert

Belakangan ini saya agak malas berimajinasi sehingga lebih banyak menonton film daripada membaca buku. Karena sekalinya membaca, saya malah memimpikan seorang teman menjadi pemimpin suku Indian yang menjadi tokoh penting dalam buku yang sedang saya baca.

sooguy

Nah, film-film yang saya tonton saat ini lebih banyak pada adaptasi dari novel. Salah satunya adalah What’s Eating Gilbert Grape. Film yang dirilis pada akhir 1993 ini dibintangi oleh duo artis Johnny Depp dan Leonardo DiCaprio. Well, mereka masih cupu beud di sini.

Film ini saya kategorikan sebagai film drama yang membuat seseorang akan menitikkan air mata. Yes, ini film tentang cinta, kasih sayang, keluarga, dan tanggungjawab. Oh ya satu lagi: GALAU.

Film ini menceritakan tentang sepotong kisah hidup Gilbert Grape (Depp) yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Endora. Kalau mendengar ilustrasi Gilbert, ini adalah kota yang membosankan dan monoton. Saking kecilnya, setiap orang di kota ini tahu gosip-gosip yang beredar.

Gilbert berasal dari keluarga yang bisa dibilang berantakan. Ayahnya meninggal karena bunuh diri. Ibunya tidak pernah keluar rumah sejak kematian ayahnya. Selama tujuh tahun, ibunya hanya makan, tidur, dan menonton televisi saja. Ini membuat sang ibu menjadi super gendut dan menjadi bahan omongan (lelucon) orang.

Kakak laki-laki Gilbert meninggal (di film tidak diceritakan kenapa). Dan hal ini membuat Gilbert menjadi anak laki-laki tertua yang harus bersikap dewasa sebagai pengganti ayah. Dia mempunyai dua orang saudara perempuan dan satu adik laki-laki. Adiknya ini memiliki masalah mental. Ingat film I am Sam? Semacam itulah.

Namanya Arnie, diperankan oleh DiCaprio.

Gilbert bertanggungjawab atas Arnie. Kemana pun Gilbert pergi, Arnie selalu menemani, termasuk ke tempatnya bekerja di sebuah toko kelontong.

Dengan mental yang ia miliki, Arnie bukan tanpa masalah. Ia selalu mencuri kesempatan untuk menaiki tangki air yang ada di tengah kota.

Gilbert merasa hidupnya sangat membosankan. Dengan keluarga yang retak dan kota yang monoton, Gilbert seperti terperangkap di dalam sangkar tak berpintu. Dia merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak bisa dia pilih.

foto oleh @topyaps
foto oleh @topyaps

Sampai seorang perempuan datang ke kotanya bersama rombongan kelompok nomaden. Namanya Becky. Takdir membolak-balik hati Gilbert ketika dia merasakan benih-benih cinta muncul karena kehadiran Becky. Gilbert yang selama ini tidak memiliki tujuan hidup, akhirnya menemukan jawabannya.

Oke, ini bukan film cinta dua anak manusia.

Selain alurnya, saya juga tertarik dengan seorang Gilbert yang merasa terjebak di takdir yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia merepresi perasaan benci kepada sang ayah karena sudah ‘merebut’ ibu darinya. Sigmund Freud akan menganggap Gilbert menderita oedipus complex.

Oedipus Complex adalah sebuah penyakit kejiwaan yang menunjukkan gejala rasa cinta berlebihan kepada ibu dan benci kepada sang ayah. Rasa benci ini disebabkan oleh rasa cemburu karena ayah telah ‘merebut’ ibu darinya.

Gilbert menunjukkan kebencian kepada ayah dengan menolak masuk ke ruang bawah tanah tempat ayahnya melakukan bunuh diri. Juga pada adegan marahnya ketika Arnie menolak masuk sambil mengatakan, “No, dad’s in there,”

Kebencian itu juga ia tunjukkan di akhir film, ketika ibunya yang super besar meninggal. Akan mengundang keramaian jika ibunya diangkut untuk dimakamkan. Ia memutuskan untuk membakar ibu beserta rumahnya agar di akhir hidupnya, sang ibu tidak menjadi lelucon orang. “I’m not gonna let her to be a joke!” kata Gilbert sambil menghancurkan ruang bawah tanah yang menjadi sarang kematian ayahnya.

grape

Siapa yang membuat ibunya menjadi lelucon? Ayahnya, dong. Seperti yang sudah saya ceritakan di awal.

Nah, keputusannya membakar ibu dan seisi rumahnya ini juga merupakan realisasi rasa cinta kepada ibunya. Perasaan ini juga ia tunjukkan dengan tanggungjawab kepada Arnie yang merupakan anak kesayangan sang ibu.

Masih kata Freud, seorang penderita oedipus complex akan mencari perempuan yang mirip dengan ibunya. Pada kasus Gilbert, perempuan ini adalah Becky. Ia merasa Becky mirip seperti ibunya. Ini bisa dilihat pada adegan saat Arnie kabur dari rumah ke tempat Becky. Gilbert dengan perasaan bersalah berkata kepada Becky ia sudah memukul Arnie. Adegannya seperti seorang anak mengaku salah kepada ibu.

Well, intinya film ini layak tonton. Meskipun saya belum membaca novelnya, film besutan Lasse HallstrΓΆm ini wajib menjadi referensi di rumah. Tentu saja ini bukan film yang boleh ditonton anak non-KTP sendirian karena memiliki unsur pornografi dan kekerasan.

Akting ciamik DiCaprio sebagai anak berkebutuhan khusus dipuji banyak kritikus film dan diganjar berbagai nominasi penghargaan. Di sini, akting Depp juga masih dalam, tidak seperti sekarang yang monoton saja sebagai tokoh nyentrik.

Happy watching!

n c02

foto oleh @fromthesupermassive.com
foto oleh @fromthesupermassive.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s