Evolusi si Dakocan

Bau harum menyeruak ketika saya memasuki ruangan tersebut. Ruang kerja ini cukup luas, didandani sangat apik dengan perabotan klasik. Lemari kayu, kursi modern namun memberikan kesan tradisional. Berbagai penghargaan digantung di dinding. Sebagian ditata di atas meja.

“Sebentar, ya. Ibu sedang siap-siap,” ujar seorang asisten. Saya mengangguk.

Tidak lama kemudian, muncul seorang perempuan paruh baya menggunakan kebaya berwarna biru gelap dan rok kemben. Wajahnya dipoles merona, rambutnya disasak rapi. Perempuan itu tersenyum ramah, dan mempersilakan saya duduk.

foto oleh @okezone
foto oleh @okezone

Perempuan itu bernama Martha Tilaar. Ia dikenal sebagai seorang pebisnis yang ahli di bidang kecantikan. Ya, Sariayu, Caring, Belia, sebut saja. Semuanya berasal dari kepala Martha Tilaar.

Menjadi seorang yang mendalami produk kosmetika herbal bukanlah cita-citanya sejak kecil. Lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini dikenal sebagai perempuan tomboi yang bahkan tidak memikirkan penampilannya di mata orang lain. Cuek, begitu ia menyebut dirinya.

Saking cueknya, penampilan perempuan yang dulu berprofesi sebagai guru sekolah dasar (SD) ini membuat ibunya waswas. Sang ibu memintanya untuk menjaga kesehatan kulit dan rambutnya. Martha muda jarang sekali menggunakan kosmetika, baik ketika mengajar maupun di luar sekolah. Oleh muridnya ia bahkan dijuluki ‘si Dakocan’. “Tuh si Dakocan datang,” kenang Martha.

Ia tidak peduli, sampai ibunya merayunya belajar kosmetika dengan salah seorang sahabat sang ibu. Dari situ Martha mengenal kosmetika, dan menyadari pentingnya seorang perempuan merawat kulitnya, tidak hanya untuk kecantikan tetapi juga kesehatan.

Belajar kosmetika tidak serta-merta membuat ibu empat anak ini berniat menjadi produsen. Niat itu muncul ketika ia menemani sang suami yang mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat. Ia pun ingin mengasah kemampuan dirinya, terutama keterampilan. Ia ingin belajar lebih banyak tentang kosmetika dan kecantikan dan memutuskan untuk mengambil studi di Academy of Beauty Culture, Bloomington Indiana pada 1968.

martha tilaar.img_assist_custom-300x342

Untuk belajar di akademi tersebut Martha harus terlebih dahulu mengumpulkan uang. Beasiswa suaminya tentu tidak bisa diandalkan karena biaya sekolah privat mahal sekali kala itu. Ide mendapatkan uang ia dapat ketika melihat para ibu di AS membawa anak mereka untuk dititipkan ke baby sitter. Martha mendapat ide, ia akan menjadi baby sitter sekaligus mengajar anak-anak tersebut. “Saya kan seorang guru,” kata Martha.

Beda padang beda ilalang. Ia tidak bisa seenaknya menawarkan diri menjaga anak orang lain. Akhirnya ia menjual jasa dengan menempelkan pengumuman di berbagai tempat. “Saya seorang guru. Saya dapat menjaga dan mengajar anakmu,” tulis Martha di secarik kertas.

Berkah seorang guru pun menghampirinya. Para ibu di sekitar tempat tinggalnya memberikan kepercayaannya kepada Martha untuk mendidik anak-anak mereka. Dari situ, Martha mendapatkan uang, bahkan lebih banyak dari yang diperoleh suaminya dari beasiswa.

Sang suami melihat jiwa wirausaha yang ada dalam diri Martha dan mendorongnya untuk belajar apapun yang ia mau. Hati Martha jatuh pada keterampilan kecantikan. Pikirannya akan kecantikan dan kesehatan kulit perempuan mulai terbuka. Ia bermimpi ingin menciptakan produk kecantikan khusus untuk perempuan Timur. Pulang ke Indonesia, Martha menjadi seorang ahli kecantikan berlisensi internasional.

Martha akhirnya membuka sebuah salon di rumahnya di wilayah Menteng Jakarta Pusat. Bukan sebuah pekerjaan yang mudah, karena ia harus melelang barang di rumah untuk modal dan menggunakan garasi sebagai salon.

Sial, Martha tidak punya jaringan untuk menawarkan jasa salonnya. Terlalu lama di luar negeri.

foto oleh @kabar24
foto oleh @kabar24

Tidak putus asa, Martha kembali ‘menjual diri’ dengan menyebarkan selebaran. “Saya seorang ahli kecantikan berlisensi internasional. Siap melayani Anda,” begitu kira-kira isi selebaran tersebut.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia mulai mendapatkan pelanggan. Posisi salonnya yang berada di dekat kedutaan Inggris ketika itu, menambah jam terbangnya sebagai ahli kecantikan di kalangan istri pejabat.

Di awal karirnya sebagai pemilik salon, Martha menawarkan jasa menggunakan produk luar. Kebanyakan ibu pejabat memakai produk asing, kata dia. Lama-kelamaan, Martha tergelitik dengan cita-citanya ketika pertama kali belajar kecantikan: kosmetika untuk perempuan Indonesia.

Maka mulailah ia menciptakan invovasi demi inovasi di dunia kosmetika yang saat itu masih jarang digeluti orang. Baginya tidak mudah untuk membuat pelanggan percaya dengan produk yang ia buat. Perlu perjuangan, bahkan korban, agar pelanggan salonnya mau menggunakan produknya. Korban di sini maksudnya adalah orang yang bermasalah dengan kulitnya diberi pengobatan gratis. Sebagai gantinya, dia menjadi kelinci percobaan di depan pelanggan Martha. “Ini, lho, hasil dari produk saya,” kata Martha.

Pelan-pelan, pelanggan Martha mulai meninggalkan produk asing dan menggunakan produk yang ia ciptakan. Seiring dengan bertambahnya produk Martha Tilaar, berkembang pula perusahaan yang kini ia bawahi. Martha berhasil mewujudkan cita-citanya membuat produk untuk perempuan Timur, khususnya Indonesia.

Dibilang beruntung, mungkin iya. Tapi tidak ada keberuntungan yang tidak dibarengi dengan usaha. Yang membuat saya kagum adalah betapa perempuan ini berani malu di negeri orang demi tujuan yang ingin dia capai. Kalau saya jadi Bu Martha ini, mungkin kerjaan saya hanya diam saja di rumah, merajut, mencuci, memasak, dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Apalagi orang Barat terkenal dengan orang yang individual dan tidak mudah percaya.

Martha adalah satu dari srikandi Indonesia yang mampu berkarya. Meskipun hari ini perempuan masih identik dengan ‘rumah’ dan ‘anak’, Martha mampu mengembangkan diri dan menggapai ambisinya tanpa harus melupakan kodratnya sebagai perempuan. Dia juga telah mengharumkan nama bangsa. Dan dia adalah seorang ibu.

Selamat hari ibu!

n c02

nB: Beliau juga srikandi hebat Indonesia. Silakan klik untuk baca kisah Esther G Saleh.

PSF-Bloggers-Award_Poster-teaser

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s