Adaptasi Novel ke Film Penuh Kritik?

Cerita pertama kali muncul dalam bentuk lisan. Setiap pencerita menjadi sutradara untuk satu kisah yang sama. Sehingga, tidak ada satu cerita yang sama persis, meskipun esensi yang ingin disampaikan sama.

Setelah manusia mengenal tulisan, cerita dari mulut ke mulut ini diterjemahkan ke dalam tulisan. Apa yang hilang? Adalah ekspresi pencerita ketika menuturkan cerita. Ketika membaca tulisan, seseorang menjadi pencerita bagi dirinya sendiri, melalui akulturasi antara tulisan penulis dan imajinasi pembaca. Pembaca bisa menginterpretasikan sendiri apa yang ditulis oleh si penulis.

Hari ini, media cerita bertambah, yaitu melalui film. Film memberikan ‘kesempurnaan’ bagi sebuah penceritaan. Ada dua keuntungan buat penonton film. Dia mendapatkan ‘pendongeng’ sekaligus tidak perlu susah-susah berimajinasi karena sudah ada visualisasi cerita.

dont judge books

Yang belakangan ini paling banyak digandrungi adalah film yang diadaptasi dari sebuah novel. Film ini memberikan visualisasi yang selama ini hanya ada dalam imajinasi pembaca novel. Film memberikan suara nyata yang selama ini ada di dalam kepala pembaca.

Adaptasi novel sangat booming di dunia perfilman. Sebut saja, The Lord of The Rings, To Kill a Mocking Bird, Empire of the Sun, Twilight Saga, A Clockwork Orange, The Pianist, Harry Potter, Les Miserable, The Reader, Charlie and the Chocolate Factory, dan masih banyak film lain yang diadaptasi dari novel. Di Indonesia ada Laskar Pelangi, Eifel I’m in Love, Ayat-ayat Cinta, Di Bawah Lindungan Kabah, dan Tenggelamnya Lapal Van der Wijk. Tidak sedikit film adaptasi yang mendapat penghargaan. Salah satu film The Lord of the Rings, The Return of the King, mendapatkan 11 dari 24 penghargaan Academy Award ke-76 pada 2004.

Film adaptasi akan menarik pembaca novel untuk melihat seberapa akurat film itu menggambarkan apa yang ada dalam novel. Tentu saja, setiap pembaca rela membuang-buang waktu menonton karena ingin melihat visualisasi novel yang ia baca. Ia berharap visualisasi ini sesuai dengan yang selama ini ada di dalam kepalanya.

Return5 lord_of_the_rings_the_return_of_the_king_xlg

Brian McFarlane dalam tulisannya Movie to Film (1996) mengatakan, film memiliki tugas utama menceritakan kembali cerita di dalam novel melalui skenario yang mencoba menangkap unsur-unsur penting di dalam novel. Secara kreatif, film mentransfer unsur ini ke media baru dengan tetap mempertahankan isi novel. Intinya, film dibuat semirip mungkin dengan novel.

Siapa yang bertanggungjawab atas akurasi ini? Penulis skenario, tentu saja. Dia harus mampu membuat skenario yang tepat tanpa mengurangi nilai yang ada dalam novel tersebut.

Ini yang biasanya banyak mendapat kritik. Kebanyakan penonton film (yang juga sudah membaca novelnya) akan kecewa karena film tidak sesuai dengan novelnya. Ada yang tidak ditampilkanlah, ada yang dipangkas, ada yang diubah, ada yang ditambah. Macam-macam.

Yang perlu diperhatikan adalah sebuah film bukanlah penggambaran novel, tetapi lebih ke penceritaan kembali. Jadi kita tidak bisa mengkritik film itu tidak bagus hanya karena dia tidak sesuai dengan novel. Karena novel dan film adalah dua media cerita yang berbeda.

Books-to-Films

Geoffrey Wagner dalam The Novel and the Cinema menyarankan tiga kategori untuk adaptasi, yaitu transposisi, komentar, dan analogi. Transposisi adalah terjemahan langsung novel ke dalam film. Komentar atau adaptasi menggambarkan adaptasi yang mengikuti karya asli, namun dengan sedikit perubahan unsur yang ada di dalam novel tanpa mengubah esensinya. Sedangkan analogi adalah penerjemahan lepas sebuah novel ke media film sehingga film dilihat sebagai satu karya seni yang terpisah (McFarlane, 1996).

Seperti yang saya katakan di awal, sebuah cerita diceritakan kembali oleh orang yang berbeda akan menghasilkan versi yang berbeda. Pasalnya setiap orang memiliki interpretasi berbeda untuk satu cerita yang sama.

Misalnya, banyak yang mengkritik film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam bukunya. Tidak perlulah merasa kecewa karena film ini dibuat oleh orang yang berbeda. Kritiklah film karena sutradaranya yang (mungkin) menempatkan pakaian dan kendaraan di zaman yang salah atau detail penggambaran yang tidak sesuai dengan keadaan pada masa film itu diset. Bukan dari ceritanya.

n c02

Advertisements

One thought on “Adaptasi Novel ke Film Penuh Kritik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s