Bahasa Bakal Jadi Sejarah?

Distinguish, ladies and gentlemen. Welcome to Indonesia. I would like to thank you for….”

Demikian kata Ketua otoritas lembaga keuangan Indonesia menyambut peserta seminar literasi keuangan yang digelar di Nusa Dua, Bali, belum lama ini. Seminar internasional ini dihadiri setidaknya 200 peserta, baik dari dalam maupun luar negeri.

Tunggu dulu. Ini sepertinya peserta asingnya cuma beberapa orang, deh. Em… mungkin tidak sampai sepertiga total peserta.

Terus, di mana esensi seminar internasionalnya? Terus, kenapa seminarnya tidak memakai Bahasa Indonesia saja? Toh peserta asingnya tidak lebih banyak dari peserta lokal.

speak-english-or-get-out

Kejadian ini tidak sekali saya alami. Beberapa kali menghadiri seminar internasional, saya merasa didiskriminasi sebagai masyarakat sekaligus peserta seminar. Seminar ini diselenggarakan di Indonesia, lho. Dan kamu narasumber seminar juga orang asli Indonesia yang bisa berbahasa Indonesia. Peserta seminar juga sebagian besar orang Indonesia yang mungkin akan lebih nyaman mendengar bahasanya sendiri.

Lalu kenapa kamu yang orang Indonesia malah memakai bahasa orang di negerimu sendiri?

Oke, saya paham mungkin narasumber lokal ingin memberikan pesan yang tepat kepada peserta asing. Cara paling mudah adalah menggunakan bahasa mereka.

Well, di Indonesia terdapat ratusan interpreter. Manfaatkan, dong! Interpreter kan bisa diberi tantangan dengan menerjemahkan bahan seminar dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Jangan sebaliknya. Itu namanya diskriminasi. Tidak cinta Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda tampaknya tiada artinya.

Mungkin keluhan ini adalah keluhan seorang buruh tulis yang mulai kehilangan keahlian bahasanya. Tapi mari kita lihat dari sisi yang lain. Semakin lama, gempuran Bahasa Inggris makin menyudutkan generasi Indonesia untuk berbahasa Indonesia. Jangankan berbahasa ibu (alias bahasa daerah), berbahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) saja mereka sekarang kesulitan, percayalah.

Arus globalisasi telah datang begitu dahsyatnya sehingga Bahasa Inggris menjadi sangat dominan di Indonesia. Bahkan sekolah-sekolah mahal menjadikan bahasa asal negeri Paman Sam ini sebagai bahasa sehari-hari. Bagi yang ketahuan menggunakan bahasa selain Bahasa Inggris, akan dihukum.

cinta-bahasa-indonesia

Bagus, sih, tapi apakah harus sampai melupakan Bahasa Indonesia? Virus Indoenglish semakin merajalela?

Itu baru di sekolah. Di kalangan pejabat, Bahasa Inggris pun sudah merasuk dalam tulang belakang mereka. Lihat saja, mereka lebih senang berpidato dengan Bahasa Inggris di sebuah seminar internasional daripada menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka, entah karena ingin memudahkan pendengar asing atau sekadar pamer kepandaian, lebih merasa gengsi dengan bahasa internasional tersebut.

Begitu pula dalam pidato kenegaraan yang banyak mengadaptasi bahasa asing (baca: Bahasa Inggris) dalam setiap kesempatan. Misalnya seperti ‘memfinalkan’ alih-alih ‘menyelesaikan’ (hei, memangnya ada frasa memfinalkan?), ‘ground breaking‘ alih-alih ‘peletakan batu pertama’, dan ‘the sleeping giant‘ alih-alih ‘harta terpendam’.

Saya pun tak luput dari tertawaan seorang kawan ketika salah menyebut sebuah nama produk.

“Kata teman, iPhone Lima mau rilis pekan depan,” ujar saya.

“iPhone Lima? iPhone Five, kali,” kata teman saya sambil tertawa remeh.

Dengan emosi saya berkata kepada dia, “Apa bedanya ‘lima’ sama ‘five‘? Kalau ditulis romawi, keduanya bermakna sama, kan? Ditulis pakai huruf arab atau huruf purba pun sama nilainya. Maknanya adalah angka setelah empat. Please, deh!”

Seorang dosen pernah berkata kepada saya. Semakin seseorang menguasai satu atau banyak bahasa asing, semakin ia menyadari tidak berbahasa Indonesia dengan baik. Bahasa asing seharusnya menambah kecintaan seseorang terhadap bahasa negerinya sendiri. Ia akan tertantang untuk memperbaiki bahasa ibunya dan mencari padanan bahasa asing ke dalam bahasa ibu.

Tapi kenyataannya? Well, semoga Bahasa Indonesia tidak menjadi sekadar sejarah di masa depan.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s