Pertumbuhan Kredit 2014 Melambat

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap positif di 2014. Pemerintah menetapkan ekonomi Indonesia tumbuh enam persen di 2014, setelah diperkirakan melambat di 2013.

Perlambatan ekonomi disebabkan oleh masih lemahnya pertumbuhan ekonomi global, ditambah isu tapering dari bank sentral Amerika Serikat (AS) the Federal Reserve yang masih bergulir. Dari dalam negeri, isu defisit neraca perdagangan menjadi masalah utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Per September 2013, defisit neraca perdagangan mencapai 6,25 miliar dolar AS.

foto oleh @republikaonline
foto oleh @republikaonline

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan lemahnya proyeksi pertumbuhan ekonomi membuat sektor perbankan harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Pemerintah dan BI terus melakukan stabilisasi untuk memperkecil defisit neraca perdagangan. “Kita jaga neraca transaksi di tingkat yang berkesinambungan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi sehingga kredit akan ada di kisaran 15,4-16,4 persen,” ujar Agus, belum lama ini.

Pertumbuhan kredit ini jauh lebih lambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit sepanjang 2013. BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2013 akan berada di level 20,8 persen. Pertumbuhan tahun ini juga lebih lambat dibandingkan 2012 yang mencapai 23 persen.

BI meminta perbankan untuk mengerem penyaluran kredit agar menyesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan kredit lebih tinggi dari itu, dikhawatirkan akan menciptakan tekanan pada ekonomi, kata Agus.

Sektor kredit yang perlu didorong tahun depan adalah sektor yang mendukung ekspor dan memberikan kesempatan kerja yang luas pada masyarakat. Selain itu sektor jasa dan manufaktur juga harus dipertimbangkan di tahun selanjutnya.

Untuk pertumbuhan hingga akhir tahun, BI memproyeksikan perlambatan kredit yang dipengaruhi oleh penurunan permintaan kredit baru pada kredit investasi dan kredit konsumsi. Sedangkan kredit modal meningkat.

Perbankan menilai konservatif pertumbuhan hingga akhir tahun. Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Budi Gunadi Sadikin menyatakan, pertumbuhan di triwulan keempat akan lebih lambat. “Dan tahun depan mungkin hanya tumbuh 15-20 persen,” ujar Budi.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Felia Salim. Meskipun ada harapan pertumbuhan kredit karena masa pemilihan presiden (pilpres), ia menilai kredit ritel perseroan akan melambat di 2014. Masa pilpres bukan berarti perseroan terlena dengan penyaluran kredit.

BBNI akan mendorong pertumbuhan kredit korporasi, terutama yang berorientasi ke sektor infrastruktur. “Kredit yang disalurkan diharapkan bukan kredit yang bergantung pada valuta asing,” ujar Felia.

foto oleh @republikaonline
foto oleh @republikaonline

Akibat perlambatan kredit ini, diperkirakan perbankan bukan lagi menjadi primadona bagi perusahaan untuk memperoleh pendanaan. “Bank tidak akan berikan kredit baru sehingga perusahaan akan memanfaatkan dana dari pasar modal,” ujar Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abi Priyadi Riyanto.

Ia menilai perbankan akan cenderung menyalurkan kredit ke perusahaan yang sudah ada di pipeline atau yang sudah memiliki rekam jejak yang baik. Selain itu, perbankan dinilai akan lebih mendorong kredit modal kerja alih-alih investasi. Sehingga perusahaan-perusahaan yang tidak mendapatkan kredit akan memanfaatkan pasar modal untuk mendulang rupiah. Masuknya perusahaan ke pasar modal bisa dilakukan dengan right issue, menerbitkan obligasi dan sukuk, atau melakukan initial public offering (IPO).

Pendapat ini diaminkan asosiasi perusahaan pembiayaan. Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Efrinal Sinaga menyebutkan, perusahaan pembiayaan merupakan perpanjangan tangan perbankan. Dengan melambatnya pertumbuhan kredit, diperkirakan kucuran ke perusahaan pembiayaan akan ikut terpangkas. Oleh karena itu, tahun depan perusahaan pembiayaan diperkirakan akan mendiversifikasi pendanaannya, tidak hanya mengharapkan dari perbankan.

“Ke depan pinjaman akan didiversifikasi karena likuiditas perbankan semakin ketat,” ujar Efrinal, belum lama ini. Pasar modal menjadi pilihan. Pada 2010 pinjaman dari penerbitan surat utang oleh perusahaan pembiayaan nilainya mencapai Rp 18,38 triliun. Nilai ini meningkat hampir dua kali lipat pada 2011 sebesar Rp 30,29 triliun dan tumbuh di 2012 menjadi Rp 43,76 triliun. Per Juni 2013, pinjaman dari pasar modal mencapai Rp 50,67 triliun.

foto oleh @republikaonline
foto oleh @republikaonline

Pasar modal memang tempat yang menjanjikan. Sejak 2002, indeks harga saham gabungan (IHSG) selalu mengalami peningkatan. Sampai 2012, hanya sekali IHSG mencatat penurunan, yaitu pada krisis ekonomi global 2008. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks anklok hingga 50,64 persen di akhir 2008. Namun tahun berikutnya indeks tumbuh signifikan, yaitu sebesar 86,98 persen dan terus meningkat hingga 2013.

Meskipun terpaan isu tapering sempat membuat IHSG anjlok, pasar modal masih menjadi tempat yang menjanjikan. Apalagi isu tapering telah menumbuhkan investor-investor lokal baru yang siap mengucurkan dananya untuk investasi di pasar modal. Dengan kekuatan yang ada dan pengembangan potensi oleh regulator, pasar modal diharapkan bisa membangun kekuatan ekonomi Indonesia dari dalam sehingga negara tidak lagi bergantung pada dana asing yang mudah keluar dalam waktu singkat.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s